Ayat 1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا
Bukankah pernah datang kepada manusia waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?


Surat 76
الإنسان
Manusia, terdiri dari 31 ayat dan turun di Madinah.
Dalam urutan turunnya wahyu, surat ini turun ke-98 setelah Ar-Rahman sebelum At-Talaq.
Surga arab dan alkohol halal. Alkohol tiba-tiba halal: Ayat 5-6 janjiin "khamr" (anggur/minuman keras) di surga—substansi yang sama yang dikutuk keras di dunia. Kontradiksi moral ini ungkapin visi surga sebagai proyeksi fantasi manusiawi. Kalau minuman memabukkan bener-bener buruk secara intrinsik, ngapain Tuhan jadiin hadiah utama di surga? Inkonsistensi etis ini cerminiin konflik psikologis manusia yang bikin aturan sambil pertahanin hasrat terhadap hal yang dilarang. Surga sangat Arab: Deskripsi surga penuh elemen yang spesifik menarik buat laki-laki Arab abad ke-7—"gelang perak", "minuman murni", dan "pelayan muda yang awet muda" (ayat 15-19). Visi surgawi ini mencurigakan mirip fantasi Arab kaya daripada konsep spiritual universal. Proyeksi kultural ini ungkapin asal-usul teks dalam imajinasi manusia terbatas pengalaman dan nilai lokal. Allah terlalu manusiawi: Ayat 28-29 bicara Allah yang secara fisik "ciptain dan kuatkan tulang-tulang mereka" dan "ganti dengan orang serupa". Citra antropomorfik ini perluasan pemahaman manusia tentang pembuatan dan penggantian. Konsepsi ketuhanan yang sangat fisik dan mekanis ini ungkapin keterbatasan imaginasi manusia yang reduksi konsep ketuhanan jadi tukang terampil diperbesar, bukan entitas metafisik transenden. Predestinasi vs tanggung jawab: Ayat 29-31 mengandung kontradiksi fundamental: manusia cuma bisa berkehendak "bila Allah menghendaki" tapi tetep dimintai tanggung jawab atas pilihan. Paradoks logis ini bikin sistem nggak masuk akal dimana manusia dihukum atas tindakan yang udah ditentuin kehendak Allah. Inkonsistensi fatal ini cerminiin ketidakmampuan pemikiran manusia nyelesaiin dilema filosofis antara kehendak ilahi dan tanggung jawab moral. Kesimpulan: Al-Insan mengekspos kontradiksi moral tentang alkohol, proyeksi fantasi kultural Arab sebagai surga universal, antropomorfisme primitif, dan paradoks logis predestinasi—menunjukkan karakternya sebagai produk imaginasi manusia yang gagal menyelesaikan dilema filosofis fundamental.
Ayat 1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا
Bukankah pernah datang kepada manusia waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?
Ayat 2
إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا
Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur882) yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.
Catatan Depag
*882) Bercampur antara benih laki-laki dengan perempuan.
Ayat 3
إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.
Ayat 5
إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا
Sungguh, orang-orang yang berbuat kebajikan akan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur,883)
Catatan Depag
*883) Nama suatu mata air di surga yang airnya putih dan baunya sedap serta enak sekali rasanya.
Ayat 6
عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا
(yaitu) mata air (dalam surga) yang di minum oleh hamba-hamba Allah, dan mereka dapat memancarkannya dengan sebaik-baiknya.
Ayat 23
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ تَنْزِيلًا
Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur`an kepadamu (Muhammad) secara berangsur-angsur.
Ayat 24
فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعْ مِنْهُمْ آثِمًا أَوْ كَفُورًا
Maka bersabarlah untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah engkau ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka.
Ayat 25
وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang.
Ayat 27
إِنَّ هَٰؤُلَاءِ يُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَيَذَرُونَ وَرَاءَهُمْ يَوْمًا ثَقِيلًا
Sesungguhnya mereka (orang kafir) itu mencintai kehidupan (dunia) dan meningggalkan hari yang berat (hari akhirat) di belakangnya.
Ayat 28
نَحْنُ خَلَقْنَاهُمْ وَشَدَدْنَا أَسْرَهُمْ ۖ وَإِذَا شِئْنَا بَدَّلْنَا أَمْثَالَهُمْ تَبْدِيلًا
Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka. Tetapi, jika Kami menghendaki, Kami dapat mengganti dengan yang serupa mereka.
Ayat 29
Ayat 7
Ayat 8
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا
Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan,
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun memuji kedermawanan keluarga Ali bin Abi Thalib. Saat itu mereka hanya memiliki sedikit masakan gandum dari hasil kerja upahan semalaman. Saat makanan itu matang, berturut-turut datang orang miskin, anak yatim, dan tawanan musyrik yang kelaparan meminta makan, sehingga keluarga Ali menyedekahkan semua makanannya dan rela seharian menahan lapar.
Ayat 26
إِنَّ هَٰذِهِ تَذْكِرَةٌ ۖ فَمَنْ شَاءَ اتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِ سَبِيلًا
Sungguh, (ayat-ayat) ini adalah peringatan, maka barang siapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) tentu dia mengambil jalan menuju kepada Tuhannya.