Qurai

Surat 1

Al-Fatihah

الفاتحة

Pembukaan, terdiri dari 7 ayat dan turun di Makkah.

Dalam urutan turunnya wahyu, surat ini turun ke-5 setelah Al-Muddassir sebelum Al-Lahab.

Al-Fatihah dibaca lebih sering daripada bagian mana pun dari Al-Qur'an, dan hampir tidak pernah dibaca sebagai kalimat. Doa manusia, bukan firman Tuhan: Dilihat dari susunan kalimatnya, seluruh surat ini doa yang ditujukan kepada Tuhan, bukan perkataan Tuhan kepada manusia. Ayat 5 berbunyi "Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan". Supaya Tuhan tidak terbaca sedang menyembah diri sendiri, tradisi tafsir menyisipkan kata perintah "Katakanlah" (Qul) yang tidak ada di naskahnya. Rumusan yang sudah beredar sebelumnya: Ayat 6, "Tunjukilah kami jalan yang lurus", memakai rumusan doa yang sudah lama dipakai tradisi Yahudi dan Kristen, paling dekat dengan Mazmur 27:11, "tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN". Ibnu Mas'ud, salah satu sahabat paling awal yang menuliskan Al-Qur'an, menolak memasukkan Al-Fatihah ke dalam mushaf-nya karena menganggapnya doa liturgi, bukan wahyu. Mushafnya juga memakai "arshidna" (arahkan kami), bukan "ihdina" (tunjukilah kami), di ayat yang sama. Rahmat semesta yang dicabut empat ayat kemudian: Ayat 3 menyebut Tuhan "Maha Pemurah lagi Maha Penyayang" bagi seluruh alam. Ayat 7 menyebut ada golongan manusia yang ditinggalkan dalam keadaan "dimurkai" dan "sesat". Rahmat yang berlaku untuk semua dan golongan yang dikutuk selamanya tidak bisa berdiri di dalam satu doa yang sama. Tiga laci untuk seluruh umat manusia (ayat 7): Ayat 7 membagi manusia jadi tiga: yang diberi nikmat, yang dimurkai, yang sesat. Tidak ada laci keempat. Pembagian sesempit itu, yang dalam logika disebut dikotomi palsu, memaksa seluruh keragaman manusia masuk ke tiga kotak. Yang dibaca tujuh belas kali sehari bukan cuma doanya, tapi juga pembagiannya: kelompok sendiri di kotak pertama, orang lain di dua kotak sisanya. Pertolongan yang hanya boleh diminta ke satu arah (ayat 5): "Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan" menutup semua jalan lain. Tanggung jawab atas perbuatan sendiri dan kepercayaan bahwa persoalan bisa diselesaikan lewat usaha bersama tidak kebagian tempat di kalimat itu. Ancaman yang dipakai sebagai alasan (ayat 4): Ayat 4 menyebut Allah "Yang menguasai Hari Pembalasan". Yang ditawarkan bukan bukti atau alasan, melainkan akibat kalau tidak patuh, cara berargumen yang dalam logika disebut ancaman sebagai dalil (argumentum ad baculum). Keadilan yang dijanjikan pun keadilan balas dendam abad ke-7, bukan pemulihan. Dibaca sebagai satu kalimat panjang, doa ini berangkat dari rahmat untuk seluruh alam dan berhenti di pemisahan manusia jadi tiga golongan.

Persentase dihitung dari bagian ayat surat ini yang punya catatan itu (7 ayat). Ketuk kartunya untuk melihat daftar ayatnya.

1 : Basmalah (Pembukaan dengan Nama Allah)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ١

(1:1) Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Asbabun Nuzulmenurut Muchlis M. Hanafi

Seluruh Surat Al-Fatihah diturunkan dalam satu peristiwa di Makkah, ketika Nabi Muhammad SAW mendengar suara gaib memanggil namanya dan beliau sempat menghindar. Atas saran Waraqah bin Naufal, beliau mendengarkan panggilan tersebut yang kemudian menuntunnya membaca syahadat dan surah Al-Fatihah. Riwayat lain menyebutkan bahwa saat Nabi membacanya di Makkah, kaum Quraisy mengejeknya. (Muchlis M. Hanafi, Asbabun Nuzul)

2 : Pujian kepada Allah sebagai Tuhan Semesta Alam
3 : Sifat Allah: Pemurah dan Penyayang
4 : Allah Penguasa Hari Pembalasan
5 : Pengakuan Monoteisme dan Permohonan Bantuan
6 : Permohonan Bimbingan Menuju Jalan Lurus
7 : Pembagian Manusia: Orang Diberi Nikmat vs. Dimurkai dan Sesat