Qurai

Surat 80

Abasa

عبس

Bermuka Masam, terdiri dari 42 ayat dan turun di Makkah.

Dalam urutan turunnya wahyu, surat ini turun ke-24 setelah An-Najm sebelum Al-Qadr.

Abasa dibuka dengan teguran atas satu kejadian kecil, dan cara menegurnya yang paling banyak diperhatikan orang. Ditegur dengan kata ganti orang ketiga (ayat 1 sampai 10): Ayat 1 dan 2 berbunyi: dia bermuka masam dan berpaling, karena seorang buta datang kepadanya. Baru di ayat 3 kata gantinya berpindah ke orang kedua. Riwayat menempatkan orang buta itu pada Abdullah bin Ummi Maktum, dan yang bermuka masam pada Muhammad yang sedang melayani pemuka Quraisy. Teguran yang menjaga nama baiknya (ayat 3 sampai 7): Ayat 7 menyebut tidak ada celaan atasmu kalau dia tidak membersihkan diri. Kesalahannya diakui, lalu diperhalus di ayat yang sama: yang keliru bukan sikapnya terhadap orang miskin, melainkan urutan siapa yang didahulukan. Setetes mani yang ditentukan ukurannya (ayat 18 sampai 22): Ayat 18 sampai 22 menerangkan manusia diciptakan dari setetes mani, ditentukan ukurannya, dimudahkan jalannya, lalu dimatikan dan dikuburkan. Sel telur tidak disebut. Dua kata yang tidak ada yang tahu artinya (ayat 28 dan 31): Di daftar tumbuhan yang ditumbuhkan Allah, ada qadb di ayat 28 dan abb di ayat 31. Sampai sekarang artinya tidak disepakati. Menurut riwayat, Umar bin Khattab sendiri mengaku tidak tahu apa itu abb, di dalam kitab yang menyebut dirinya jelas. Hari ketika orang lari dari saudaranya (ayat 34 sampai 37): Setiap orang lari dari saudaranya, ibunya, bapaknya, istrinya, dan anaknya. Yang digambarkan bukan pertanggungjawaban, melainkan putusnya semua ikatan sekaligus. Kejadiannya kecil: satu orang bermuka masam kepada satu orang buta. Yang tersisa dari kejadian itu satu surat penuh.

Persentase dihitung dari bagian ayat surat ini yang punya catatan itu (42 ayat). Ketuk kartunya untuk melihat daftar ayatnya.

1-10 : Teguran Atas Sikap Nabi (1-10)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ ١

(80:1) Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling,

Asbabun Nuzulmenurut Muchlis M. Hanafi

Ayat ini turun sebagai teguran keras namun halus kepada Nabi Muhammad SAW yang sempat bermuka masam dan memalingkan muka dari sahabatnya yang buta bernama Ibnu Umm Maktum. Saat Ibnu Umm Maktum meminta diajari agama, Nabi sedang sibuk mendakwahi para pembesar Quraisy dengan harapan mereka memeluk Islam. (Sumber: Asbab Al-Nuzul - Al-Wahidi) 1-10 Ayat ini turun berkenaan dengan seorang tunanetra (‘Abdullàh bin Ummi Maktùm) yang menghadap Nabi untuk belajar agama. Kebetulan waktu itu Nabi sedang menjamu seorang pembesar kaum musyrik. Beliau inginsekali sang pembesar masuk Islam sehingga tidak mengacuhkan permintaan pria buta tadi. Ayat di atas turun untuk menegur perlakuan Nabi tersebut. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)

أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ ٢

(80:2) karena seorang buta telah datang kepadanya (Abdullah bin Ummi Maktum).

Asbabun Nuzulmenurut Muchlis M. Hanafi

Ayat ini turun sebagai teguran keras namun halus kepada Nabi Muhammad SAW yang sempat bermuka masam dan memalingkan muka dari sahabatnya yang buta bernama Ibnu Umm Maktum. Saat Ibnu Umm Maktum meminta diajari agama, Nabi sedang sibuk mendakwahi para pembesar Quraisy dengan harapan mereka memeluk Islam.

Belum ada catatan analisis untuk ayat ini.

11-16 : Pentingnya Al-Qur'an Sebagai Peringatan (11-16)
17-23 : Kekufuran Manusia Yang Mengherankan (17-23)
24-32 : Tanda Kekuasaan Allah Dalam Makanan (24-32)
33-42 : Kedahsyatan Hari Kiamat (33-42)

لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ ٣٧

(80:37) Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.

Asbabun Nuzulmenurut Muchlis M. Hanafi

Ayat ini turun karena Aisyah pernah bertanya kepada Nabi apakah kelak di Padang Mahsyar manusia dikumpulkan dalam keadaan telanjang bulat. Ketika Nabi mengiyakan, Aisyah merasa sangat malu. Ayat ini lalu turun menjelaskan bahwa pada hari itu kondisi sangat mencekam sehingga setiap orang akan terlalu sibuk dengan urusannya sendiri untuk memperhatikan aurat orang lain.

Belum ada catatan analisis untuk ayat ini.