Surat 58

Al-Mujadalah

المجادلة

Gugatan, terdiri dari 22 ayat dan turun di Madinah.

Dalam urutan turunnya wahyu, surat ini turun ke-105 setelah Al-Munafiqun sebelum Al-Hujurat.

Reformasi setengah hati yang tetap patriarkis. "Reformasi" yang masih patriarkis: Al-Mujadilah bahas zihar (suami samain istri dengan ibunya) tapi nggak hapus sistem penindasan perempuan secara menyeluruh. "Reformasi" cuma modifikasi praktik lama sambil tetap pertahanin dominasi laki-laki sebagai penentu nasib perempuan. Kasus Khaulah yang harus ngadu langsung nunjukin perempuan tetap nggak punya otonomi. Solusi yang malah nyusahin korban: Hukuman zihar (bebasin budak, puasa 60 hari, atau kasih makan 60 orang miskin) nggak kasih kompensasi langsung ke perempuan yang dirugikan. Perempuan tetap terjebak dalam pernikahan bermasalah selama suami jalani "hukuman," tanpa opsi buat bebas dari ikatan tersebut. Pengawasan supernatural sebagai kontrol sosial: Ayat 7-10 pake narasi intimidasi bahwa Allah selalu ngawasin dan tau pembicaraan rahasia. Strategi pengawasan supernatural ini adalah mekanisme kontrol sosial klasik yang dipake penguasa manusia sepanjang sejarah. Sistem panoptikon primitif buat cegah perbedaan pendapat. Taktik isolasi kultus: Ayat 14-22 bikin polarisasi "kita vs mereka" dengan ngajarin kebencian terhadap orang yang nentang, bahkan keluarga sendiri. Perintah putusin hubungan sama orang yang nggak sepaham adalah taktik klasik kelompok kultus yang mastiin loyalitas lewat isolasi sosial. Kesimpulan: Al-Mujadilah mengekspos reformasi setengah hati yang mempertahankan struktur patriarkis sambil menggunakan taktik kontrol sosial primitif melalui pengawasan supernatural dan isolasi kelompok, membuktikan karakternya sebagai instrumen pengendalian komunitas manusiawi daripada keadilan ilahi yang sejati.

1-4 : Pengantar tentang Permasalahan Zihar (Ayat 1-4)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ ١

(58:1) Sungguh, Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah, dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.833)

Catatan Depag

*833) Ayat ini turun berhubungan dengan persoalan seorang perempuan yang bernama Khaulah binti Ṡa'Iabah yang telah dizihar oleh suaminya ,Aus bin Ṣamit. Dia mengatakan kepada istrinya, "Kamu bagiku sudah seperti punggung ibuku", dengan maksud dia tidak boleh lagi menggauli istrinya, sebagaimana dia tidak boleh menggauli ibunya. Menurut adat Jahiliah, kalimat zihar seperti ini sudah sama dengan mentalak istri. Maka Khaulah mengadukan halnya itu kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Rasulullah menjawab bahwa dalam hal ini belum ada keputusan Allah. Dan dalam riwayat yang lain, Rasulullah mengatakan, "Engkau telah diharamkan menggauli dia." Lalu Khaulah berkata, "Suamiku belum menyebut kata-kata talak", kemudian Khaulah berulang-ulang mendesak Rasulullah agar menetapkan suatu keputusan dalam hal ini, sehingga kemudian turunlah ayat ini dan ayat-ayat berikutnya.

Asbabun Nuzul

Ayat ini turun berkenaan dengan seorang wanita bernama Khawlah binti Tha'labah yang mengadu kepada Nabi karena suaminya menolaknya dengan cara "zhihar" (menyamakan istri dengan punggung ibunya). Ia terus berdoa dan mengadu kepada Allah agar tidak dipisahkan dari suaminya yang sudah tua, hingga akhirnya Jibril turun membawa ayat ini. (Sumber: Asbab Al-Nuzul - Al-Wahidi) 1-4 Ayat ini turun terkait Khaulah binti Ša‘labah yang mengadukan kepada Nabi perbuatan semena-mena sang suami kepada dirinya. Melalui ayat ini Allah menjelaskan hukum zihar, yaitu ketika seorang suami mengharamkan dirinya menggauli sang istri dan menyamakannya dengan wanita yangharam dinikahi olehnya. Khaulah meminta penjelasan dari Nabi apakahzihar sama dengan talak seperti dikenal pada masa jahiliah atau tidak. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)

الَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْكُمْ مِنْ نِسَائِهِمْ مَا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ ۖ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْ ۚ وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنْكَرًا مِنَ الْقَوْلِ وَزُورًا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ ٢

(58:2) Orang-orang yang menzihar istrinya di antara kamu, (menganggap istrinya sebagai ibunya, padahal) istri mereka itu bukanlah ibunya. Ibu-ibu mereka hanyalah perempuan yang melahirkannya. Dan sesungguhnya mereka benar-benar telah mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun.

Asbabun Nuzul

Ayat ini turun melanjutkan hukum dari kisah Khawlah sebelumnya. Suaminya (Aws bin As-Samit) diberi keringanan hukuman kafarat zhihar secara bertahap oleh Nabi (karena tidak sanggup memerdekakan budak maupun berpuasa dua bulan), hingga akhirnya ia dibantu oleh Nabi dan istrinya untuk memberikan makan kepada 60 orang miskin.

وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ۚ ذَٰلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ ٣

(58:3) Dan mereka yang menzihar istrinya, kemudian menarik kembali apa yang telah mereka ucapkan, maka (mereka wajib) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepadamu, dan Allah Mahateliti atas apa yang kamu kerjakan.

فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ۖ فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا ۚ ذَٰلِكَ لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۗ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ ٤

(58:4) Maka barangsiapa tidak dapat (memerdekakan hamba sahaya), maka (dia wajib) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Tetapi barangsiapa tidak mampu, maka (wajib) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah agar kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang yang mengingkarinya akan mendapat azab yang sangat pedih.

5-6 : Konsekuensi Menentang Allah dan Rasul-Nya (Ayat 5-6)
7-10 : Pengetahuan Allah tentang Pembicaraan Rahasia (Ayat 7-10)

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ۖ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ٧

(58:7) Tidakkah engkau perhatikan, bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tidak ada lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari Kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نُهُوا عَنِ النَّجْوَىٰ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَيَتَنَاجَوْنَ بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَتِ الرَّسُولِ وَإِذَا جَاءُوكَ حَيَّوْكَ بِمَا لَمْ يُحَيِّكَ بِهِ اللَّهُ وَيَقُولُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ لَوْلَا يُعَذِّبُنَا اللَّهُ بِمَا نَقُولُ ۚ حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُ يَصْلَوْنَهَا ۖ فَبِئْسَ الْمَصِيرُ ٨

(58:8) Tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul. Dan apabila mereka datang kepadamu (Muhammad), mereka mengucapkan salam dengan cara yang bukan seperti yang ditentukan Allah untukmu. Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri, "Mengapa Allah tidak menyiksa kita atas apa yang kita katakan itu?" Cukuplah bagi mereka neraka Jahanam yang akan mereka masuki. Maka neraka itu seburuk-buruk tempat kembali.

Asbabun Nuzul

Ayat ini turun karena orang-orang Yahudi dan munafik sering berbisik-bisik secara rahasia lalu mengedipkan mata saat melihat orang beriman untuk memicu kecemasan agar umat Islam mengira keluarga mereka tewas di medan perang. Nabi sudah melarangnya, namun mereka tetap membandel. Ayat ini juga merespons tindakan orang Yahudi yang sering memelintir ucapan salam kepada Nabi menjadi "As-Samu 'alaikum" (kebinasaan bagimu). (Sumber: Asbab Al-Nuzul - Al-Wahidi) Turunnya ayat di atas berkaitan dengan kejadian ketika sekelompok orang Yahudi yang berpapasan dengan Nabi mengucapkan salam yang dipelesetkan. Alih-alih mengucapkan assalàmu ‘alaik, mereka malah mengatakan assàmu ‘alaik—matilah engkau. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَنَاجَيْتُمْ فَلَا تَتَنَاجَوْا بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَتِ الرَّسُولِ وَتَنَاجَوْا بِالْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ ٩

(58:9) Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan perbuatan dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul. Tetapi bicarakanlah tentang perbuatan kebajikan dan takwa. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikumpulkan kembali.

Belum ada catatan analisis untuk ayat ini.

إِنَّمَا النَّجْوَىٰ مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيْسَ بِضَارِّهِمْ شَيْئًا إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ ١٠

(58:10) Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu termasuk (perbuatan) setan, agar orang-orang yang beriman itu bersedih hati, sedang (pembicaraan) itu tidaklah memberi bencana sedikit pun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah. Dan kepada Allah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal.

Belum ada catatan analisis untuk ayat ini.

11-13 : Etika dalam Majelis dan Berkonsultasi dengan Rasul (Ayat 11-13)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ ١١

(58:11) Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, "Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis," maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, "Berdirilah kamu," maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti atas apa yang kamu kerjakan.

Asbabun Nuzul

Ayat ini turun pada hari Jumat di tempat yang sempit (Shuffah). Karena tidak ada yang mau memberi tempat duduk untuk pahlawan Perang Badar yang baru tiba, Nabi meminta beberapa orang berdiri untuk memberikan tempatnya. Orang-orang munafik menuduh Nabi tidak adil, sehingga Allah menurunkan ayat ini untuk membela Nabi dan menyuruh umat Islam saling melapangkan majelis.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَاجَيْتُمُ الرَّسُولَ فَقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيْ نَجْوَاكُمْ صَدَقَةً ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ لَكُمْ وَأَطْهَرُ ۚ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ ١٢

(58:12) Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul, hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum (melakukan) pembicaraan itu. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih bersih. Tetapi jika kamu tidak memperoleh (yang akan disedekahkan) maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Asbabun Nuzul

Ayat ini turun karena orang-orang kaya sering memonopoli waktu Nabi dengan mengajak beliau berbicara dan berkonsultasi panjang lebar. Allah lalu mewajibkan mereka bersedekah setiap kali ingin berdiskusi rahasia dengan Nabi. Setelah itu, kewajiban ini dihapus (di-nasakh) dengan ayat ke-13 karena memberatkan.

أَأَشْفَقْتُمْ أَنْ تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيْ نَجْوَاكُمْ صَدَقَاتٍ ۚ فَإِذْ لَمْ تَفْعَلُوا وَتَابَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ١٣

(58:13) Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum (melakukan) pembicaraan dengan Rasul? Tetapi jika kamu tidak melakukannya dan Allah telah memberi ampun kepadamu, maka laksanakanlah salat, dan tunaikanlah zakat serta taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya! Dan Allah Mahateliti atas apa yang kamu kerjakan.

Asbabun Nuzul

Ayat ini turun karena orang-orang kaya sering memonopoli waktu Nabi dengan mengajak beliau berbicara dan berkonsultasi panjang lebar. Allah lalu mewajibkan mereka bersedekah setiap kali ingin berdiskusi rahasia dengan Nabi. Setelah itu, kewajiban ini dihapus (di-nasakh) dengan ayat ke-13 karena memberatkan.

Belum ada catatan analisis untuk ayat ini.

14-21 : Peringatan tentang Kaum Munafik (Ayat 14-21)

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مَا هُمْ مِنْكُمْ وَلَا مِنْهُمْ وَيَحْلِفُونَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُونَ ١٤

(58:14) Tidakkah engkau perhatikan orang-orang (munafik) yang menjadikan suatu kaum yang telah dimurkai Allah sebagai sahabat? Orang-orang itu bukan dari (kaum) kamu dan bukan dari (kaum) mereka. Dan mereka bersumpah atas kebohongan, sedang mereka mengetahuinya.

Asbabun Nuzul

14-18 Nabi mendengar kabar beberapa orang munafik menghina beliau di dalam komunitas mereka. Beliau lalu meminta klarifikasi, namun merekaenggan mengaku. Mereka bahkan bersumpah tidak pernah melakukanhal tersebut. Itulah kejadian di balik turunnya ayat-ayat di atas. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)

يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًا فَيَحْلِفُونَ لَهُ كَمَا يَحْلِفُونَ لَكُمْ ۖ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ عَلَىٰ شَيْءٍ ۚ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُونَ ١٨

(58:18) (Ingatlah) pada hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Allah, lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat). Ketahuilah, bahwa mereka orang-orang pendusta.

Belum ada catatan analisis untuk ayat ini.

22 : Loyalitas Orang Beriman (Ayat 22)

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ أُولَٰئِكَ حِزْبُ اللَّهِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ٢٢

(58:22) Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan, dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan834) yang datang dari Dia. Lalu Dia (Allah) memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung.

Catatan Depag

*834) Kemauan dan kekuatan batin, kebersihan hati, kemenangan terhadap musuh dan lain-lain.

Asbabun Nuzul

Ayat ini turun terkait ujian kesetiaan beberapa sahabat terhadap keluarga kandung mereka yang musyrik. Ayat ini memuji Abu Bakar yang memukul ayahnya (Abu Quhafah) karena menghina Nabi, Abu Ubaidah yang membunuh ayahnya di Perang Uhud, Umar yang membunuh pamannya di Perang Badar, serta Ali, Hamzah, dan Ubaidah yang membunuh kerabat dekat mereka sendiri di Perang Badar.