Qurai

Surat 83

Al-Mutaffifin

المطفّفين

Orang-Orang Curang, terdiri dari 36 ayat dan turun di Makkah.

Dalam urutan turunnya wahyu, surat ini turun ke-86 setelah Al-'Ankabut sebelum Al-Anfal.

Al-Mutaffifin dibuka dengan ancaman kepada orang yang curang menakar, lalu berpindah ke catatan amal dan surga. Kecurangan takaran (ayat 1 sampai 3): Ayat 1 sampai 3 mengancam orang yang minta dipenuhi kalau menakar untuk dirinya dan menguranginya kalau menakar untuk orang lain. Persoalannya nyata, dan persoalan pasar. Alasan berhenti yang ditawarkan hari kiamat, bukan kerugian orang yang ditipu. Sijjin dan Illiyyin (ayat 7 sampai 9 dan 18 sampai 20): Ayat 8 bertanya: tahukah kamu apa itu sijjin? Ayat 9 menjawab: kitab yang bertulis. Yang diterangkan isinya, bukan sijjinnya. Bentuk yang sama diulang untuk Illiyyin di ayat 19 dan 20. Pertanyaannya diajukan sendiri, lalu tidak dijawab sampai tuntas. Catatan amal yang sudah ada sebelumnya: Gagasan tentang kitab yang mencatat perbuatan manusia dan menentukan nasibnya sudah ada di Mesir kuno, di tradisi Zoroaster, dan di tulisan Yahudi sebelum Islam. Bentuknya sudah beredar di kawasan itu. Orang beriman menertawakan orang kafir (ayat 34 dan 35): Menurut ayat 34 dan 35, pada hari itu orang beriman menertawakan orang kafir sambil memandang dari atas dipan. Yang dijanjikan bukan cuma selamat, tapi juga menyaksikan orang lain tidak selamat. Surat yang dibuka dengan membela pembeli yang ditipu ditutup dengan gambaran orang yang menertawakan lawannya dari atas kursi.

Persentase dihitung dari bagian ayat surat ini yang punya catatan itu (36 ayat). Ketuk kartunya untuk melihat daftar ayatnya.

1-6 : Peringatan Bagi Para Curang (1-6)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ ١

(83:1) Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!

Asbabun Nuzulmenurut Muchlis M. Hanafi

Ayat ini turun ketika Nabi pertama kali tiba di Madinah dan mendapati penduduknya adalah orang-orang yang paling buruk dalam hal mengurangi takaran dan timbangan perdagangan. Setelah ayat ancaman ini turun, penduduk Madinah akhirnya mulai berdagang dan menimbang dengan jujur. (Sumber: Asbab Al-Nuzul - Al-Wahidi) Ayat di atas turun berkaitan dengan penduduk Madinah yang kala itu suka mencurangi timbangan dan takaran. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)

7-9 : Catatan Amal Orang Jahat (7-9)
10-17 : Azab Bagi Para Pendusta (10-17)
18-28 : Catatan Amal Orang Baik (18-28)
29-36 : Pembalikan Nasib di Akhirat (29-36)