Al-Anfal 8:31 · Al-Baqarah 2:23 · 10 menit
Orang yang Tidak Bisa Ditebus
Dari tujuh puluh tawanan Badar, hanya dua yang dihukum mati tanpa tebusan. An-Nadr ibn al-Harith bukan panglima. Yang dia ancam adalah ceritanya: seorang juru cerita yang menandingi klaim Al-Qur'an di majelis yang sama.

Tujuh puluh orang Quraisy ditangkap hidup-hidup setelah Perang Badar. Sebagian besar dibebaskan dengan tebusan yang besarnya masih bisa ditawar. Keluarga An-Nadr ibn al-Harith menawarkan tebusan tertinggi di antara semua tawanan. Muhammad menjawab pendek, seperti yang dicatat Al-Waqidi: "Aku tidak membutuhkan tebusan darimu."
An-Nadr kemudian dipenggal di as-Safra', sebelum rombongan tawanan bahkan sampai ke Madinah.
Dari tujuh puluh tawanan itu, hanya dua yang dihukum mati tanpa sidang: An-Nadr dan Uqbah ibn Abi Mu'ayt. Bukan panglima tertinggi, bukan yang paling banyak membunuh di medan perang. Abu Sufyan, yang jauh lebih berbahaya, tidak ada di antara tawanan itu. Bertahun-tahun kemudian, waktu dia akhirnya masuk ke jangkauan kekuasaan Muslim, dia justru diampuni dan hidup cukup lama sebagai pemimpin senior.
An-Nadr berbeda. Yang dia ancam bukan pasukan Muhammad, melainkan ceritanya.
Persaingan di majelis
Selama bertahun-tahun Muhammad berdakwah di Mekah, An-Nadr memakai satu cara yang sederhana. Setiap kali Muhammad selesai bercerita tentang kaum-kaum terdahulu yang binasa, tentang 'Ad, Tsamud, atau Firaun, An-Nadr berdiri dan berkata kepada orang-orang yang sama: "Demi Allah, aku bisa bercerita lebih baik. Kemarilah, aku ceritakan kisah Rustam dan Isfandiyar."
Dia pedagang yang sering ke Persia dan Hirah, dan hafal wiracarita kerajaan Sasanid, legenda-legenda yang tidak kalah seru. Ceritanya cukup menarik sampai sebagian pendengar memilih tinggal bersamanya daripada ikut Muhammad.
Al-Qur'an menjawabnya. Lebih dari sekali.
Al-Anfal 8:31 mencatat persis apa yang dikatakan lawan Muhammad: "Kami telah mendengar. Kalau kami mau, niscaya kami dapat mengatakan seperti ini. Ini tidak lain hanyalah dongeng-dongeng orang dahulu kala." Al-Qalam 68:15 menyebut reaksi serupa ketika ayat-ayat dibacakan: "Ini adalah dongeng-dongeng orang-orang dahulu." Al-Furqan 25:5 bahkan lebih rinci lagi: "Dongeng-dongeng orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang."
Kata asatir al-awwalin, dongeng orang-orang terdahulu, muncul berkali-kali dalam Al-Qur'an sebagai tuduhan yang perlu dibantah. Bukan sembarang orang yang mengucapkannya. An-Nadr mengenal tradisi bercerita Arab dari dalam, tahu dari mana cerita-cerita itu bisa datang, dan cukup fasih untuk menyampaikannya kepada pendengar yang sama.
Tantangan yang tidak selesai dijawab dengan kata
Al-Qur'an memiliki konsep i'jaz, kemukjizatan linguistik. Ayat-ayatnya tidak bisa ditandingi. Al-Baqarah 2:23-24 menantang siapa pun membuat satu surah yang semisal, lalu menyatakan mereka tidak akan mampu. Al-Isra' 17:88 lebih jauh lagi: meskipun manusia dan jin bersatu, mereka tidak bisa membuat yang sepertinya.
An-Nadr menjawab tantangan itu dengan caranya sendiri. Bukan lewat naskah tertulis, tapi dengan duduk di majelis yang sama, lalu berdiri dan menceritakan sesuatu yang menghibur, seru, dan menurut sebagian pendengar tidak kalah menarik.
Kalau klaim i'jaz itu kuat, jawaban yang tepat untuk An-Nadr adalah membiarkan orang memilih sendiri lalu melihat hasilnya. Kalau memang tidak ada yang bisa menandingi Al-Qur'an, kemampuan bercerita An-Nadr justru akan membuktikan keistimewaan itu di depan orang banyak.
Tapi An-Nadr tidak dibiarkan hidup untuk membuktikan itu.
Hukuman yang tidak menunggu Madinah
Ibn Ishaq mencatat percakapan pendek sebelum hukuman dijalankan. An-Nadr berkata kepada Mus'ab ibn Umair yang ada di sana: "Kalau orang Quraisy menjadikanmu tawanan, aku tidak akan membunuhmu." Mus'ab menjawab: "Kamu tidak seperti aku, kamu menentang Allah dan Rasul-Nya."
Yang melaksanakannya Ali bin Abi Thalib. Tidak ada sidang. Tidak ada musyawarah dengan para sahabat senior, padahal nasib tawanan lain dibahas bersama. Keputusannya sudah bulat sebelum rombongan sampai di Madinah, jauh dari jangkauan orang yang mungkin menyela.
Uqbah ibn Abi Mu'ayt, satu-satunya tawanan lain yang juga dihukum mati di Badar, bukan orang militer. Dia dihukum mati karena pernah meludahi Muhammad di Mekah dan menghinanya di depan umum.
Tapi di Mekah, sebelum kekuatan ada di tangannya, Muhammad menghadapi hinaan-hinaan semacam itu dengan diam. Ibn Mas'ud meriwayatkan dalam Shahih Bukhari: suatu hari ketika Muhammad sedang sujud di dekat Ka'bah, seseorang menaruh isi perut unta di atas punggungnya. Dia tidak bergerak. Tetap sujud sampai Fatima datang dan membersihkannya.
Al-Muzammil 73:10, turun di periode Mekah, memerintahkan: "Bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan, dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik." Kesabaran itu bukan pilihan teologis. Itu keadaan orang yang belum punya pasukan.
Setelah Badar, keadaannya berubah. Uqbah meminta ampun. Muhammad tidak memberinya.
Dua orang yang dihukum mati dari tujuh puluh tawanan: seorang penantang sastra yang menggugat klaim Al-Qur'an, dan seorang yang pernah meludah ke wajah Muhammad. Semua yang lain, termasuk yang membunuh Muslim di medan perang, pulang dengan tebusan.
Tradisi Islam menyebut hukuman mati An-Nadr wajar karena dia "menyakiti Nabi" melebihi orang yang hanya bertempur. Tapi sebutan itu bukan penjelasan. Itu kesimpulan yang sudah jadi. Yang dilakukan An-Nadr di Mekah adalah berdiri di depan pendengar yang sama dan berkata: ceritaku lebih menarik daripada ceritanya. Bahwa perbuatan itu masuk golongan kejahatan yang harus dibayar dengan nyawa, sementara membunuh orang di medan perang masih bisa ditebus dengan uang, memperlihatkan apa yang sebenarnya dianggap paling berbahaya.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.
Bacaan selanjutnya
Artikel 41 · Maryam 19:23 · Ali Imran 3:37 · Maryam 19:29 · 8 menit
Di Bawah Pohon Kurma
Maryam 19:23 menempatkan Maryam di bawah pohon kurma saat melahirkan. Detail itu tidak ada dalam kisah kelahiran Isa yang dikenal, tapi ada dalam naskah Kristen yang beredar di Arabia. Begitu pula Maryam di Bait Suci dan bayi yang berbicara dari buaian.
Artikel 37 · Al-Isra 17:1 · An-Najm 53:13 · 8 menit
Malam yang Diceritakan Berbeda
Al-Isra 17:1 hanya menyebut perjalanan dari Mekah ke Yerusalem. Masjid Al-Aqsa sebagai bangunan fisik selesai dibangun tujuh puluh tahun setelah Muhammad meninggal. Aisyah bersaksi bahwa tubuh Muhammad tidak beranjak malam itu. Mi'raj dengan tujuh lapis langitnya tidak ada dalam Al-Qur'an.