Ayat 1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ
Apabila langit terbelah,


Surat 82
الانفطار
Terbelah, terdiri dari 19 ayat dan turun di Makkah.
Dalam urutan turunnya wahyu, surat ini turun ke-82 setelah An-Nazi'at sebelum Al-Insyiqaq.
Langit solid dan malaikat pencatat. Langit yang bisa "terbelah": Ayat 1-2 gambarin langit yang "terbelah" dan bintang-bintang yang "berjatuhan"—konsepsi kosmos yang absurd secara astronomis. Pemahaman naif ini bayanginn langit sebagai kubah solid dan bintang sebagai lampu kecil yang bisa jatuh ke bumi. Model kosmologi primitif ini ungkapin keterbatasan pengetahuan manusia abad ke-7 tentang skala dan sifat alam semesta, bukan wawasan dari pencipta galaksi. Tubuh manusia "sempurna": Ayat 7-8 nanya "Apakah yang telah memperdayakan kamu terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah? Yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang." Pernyataan ini ngabaiin fakta evolusi dan cacat genetik yang jelas nunjukin nggak ada "perancang sempurna". Pandangan naif tentang tubuh manusia yang "seimbang" ini cerminiin ketidaktahuan tentang biologi, bukan kebijaksanaan sang pencipta tubuh manusia. Sistem pengawasan primitif: Ayat 10-12 ngaku "malaikat-malaikat yang mulia mencatat perbuatanmu" dan "mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan". Konsep pengawas supernatural yang catat setiap tindakan adalah mekanisme kontrol primitif dari era tanpa teknologi pengawasan. Taktik intimidasi psikologis ini—bikin orang merasa selalu diawasi—adalah teknik klasik buat paksa kepatuhan tanpa bukti konkret bahwa pencatatan bener-bener terjadi. Dualisme naif: Ayat 13-14 bagi manusia jadi kategori biner "orang-orang yang berbakti" dan "orang-orang yang durhaka" tanpa ruang buat kompleksitas moral manusia nyata. Dikotomi hitam-putih ini cerminiin pemikiran tribal sederhana yang gagal paham nuansa psikologi dan etika manusia. Model kategorisasi manusia yang terlalu simplistik ini ungkapin konstruksi sosial primitif, bukan pemahaman mendalam tentang kompleksitas moral dari pencipta pikiran manusia. Kesimpulan: Al-Infitar mengekspos kosmologi primitif yang membayangkan langit sebagai kubah solid, antropomorfisme naif tentang "desain sempurna" tubuh manusia, sistem pengawasan supernatural yang intimidatif, dan dualisme moral yang oversimplified—menunjukkan karakternya sebagai produk pemikiran manusia abad ke-7 yang terbatas oleh pengetahuan dan psikologi tribal.
Ayat 1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ
Apabila langit terbelah,
Ayat 2
وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْ
dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan,
Ayat 3
وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ
dan apabila lautan dijadikan meluap,
Ayat 4
وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ
dan apabila kuburan-kuburan dibongkar,
Ayat 5
عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ
(maka) setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikan(nya).
Ayat 6
يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ
Wahai manusia! Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pengasih.
Ayat 13
إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ
Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan,
Ayat 14
وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ
dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.
Ayat 15
يَصْلَوْنَهَا يَوْمَ الدِّينِ
Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan.
Ayat 17
وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ
Dan tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?
Ayat 18
ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ
Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?
Ayat 19
يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا ۖ وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ
(Yaitu) pada hari (ketika) seseorang sama sekali tidak berdaya (menolong) orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.
Ayat 11