Bacaan
TopikAyat 1-2: Definisi Ketuhanan
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
(112:1) Katakanlah (Muhammad), "Dialah Allah, Yang Maha Esa.
Asbabun Nuzulmenurut Muchlis M. Hanafi
Surat ini turun ketika sekelompok orang Yahudi (serta kaum musyrikin Makkah) menantang Nabi untuk menjelaskan silsilah keturunan dan sifat spesifik Tuhan. Mereka bertanya apakah Tuhan itu terbuat dari emas, tembaga, atau perak, siapa yang Dia warisi, dan kepada siapa Dia mewariskan kekuasaan-Nya. Ayat ini turun menegaskan kemurnian sifat ke-Esaan Allah yang tidak beranak dan tidak diperanakkan.
Kritik
Surat ini menolak bahwa Allah beranak dan diperanakkan. Rumusan yang dilawan terbaca sebagai kredo Nicea, yang menyebut Anak diperanakkan dan bukan diciptakan, dan kredo itu dibacakan pada pembaptisan di gereja berbahasa Suryani. Jawabannya membaca peranakan itu secara jasmani, sedangkan yang dimaksud kredo tersebut hubungan yang bukan kelahiran.
Cacat Logika
Ketentuan tanpa alasan yang disebutkan. Ayat 1 sampai 4 menetapkan Allah esa, tempat bergantung segala sesuatu, tidak beranak, tidak diperanakkan, dan tidak ada yang setara dengan-Nya. Kelimanya berdiri sebagai jawaban atas pertanyaan tentang sifat Tuhan, tanpa satu pun alasan yang bisa ditimbang oleh yang belum menerimanya.
Catatan Saya
Belum ada catatan untuk ayat ini.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

