Yusuf 12:2 · Al-Anbiya 21:107 · 11 menit
Tuhan yang Berbicara Arab
Q 12:2 menyebut alasan yang jelas mengapa Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab: "agar kamu memahaminya." Kalimat itu bukan sekadar latar. Kalimat itu menentukan siapa yang dimaksud "kamu." Dan di kitab yang sama tempat Allah mengklaim mengutus Muhammad untuk semesta alam, Al-Qur'an dikirim dalam satu bahasa yang hanya dimengerti satu kelompok manusia.

Yusuf 12:2 memberi tahu kita mengapa Al-Qur'an berbahasa Arab:
"Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur'an berbahasa Arab, agar kamu memahaminya."
Alasan itu diulang. Asy-Syu'ara 26:195 menyebutnya "dalam bahasa Arab yang jelas." Thaha 20:113 mengulang frasa yang sama. Tiga kali di ayat yang berbeda, dan tiap kali kearaban wahyu itu bukan disebut sebagai kebetulan atau keterbatasan, melainkan sebagai bagian dari rancangannya.
Frasa "agar kamu memahaminya" menentukan siapa pendengar utamanya. Bukan seluruh umat manusia. Bukan semua orang yang akan hidup sampai hari kiamat. Yang bisa memahaminya langsung, tanpa perantara terjemahan, cuma penutur bahasa Arab.
Pertanyaan dari dalam Al-Qur'an
Al-Fussilat 41:44 mengangkat satu kemungkinan:
"Dan jika Kami jadikan Al-Qur'an itu suatu bacaan dalam selain bahasa Arab, tentulah mereka mengatakan: 'Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?'"
Yang dibayangkan ayat itu adalah keberatan orang Arab. Kalau bukan bahasa Arab, orang Arab akan protes: kenapa tidak jelas. Kekhawatiran yang dijawab lebih dulu adalah kekhawatiran pendengar Arab. Tidak ada jawaban serupa untuk orang Cina yang tidak mengerti, untuk orang Persia yang harus bergantung pada terjemahan, untuk siapa pun di luar Semenanjung Arab.
Dalam satu ayat, Al-Qur'an memperlihatkan sendiri ke arah mana wajahnya menghadap.
Diklaim untuk semua, dikirim untuk sebagian
Al-Anbiya 21:107 menyatakan: "Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam."
Saba 34:28 mengulangi klaim yang sama: "Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya."
Dua ayat itu berdiri di samping Q 12:2 tanpa mendamaikan tarikan yang berlawanan di antara keduanya. Tugas untuk seluruh dunia. Kitab dalam satu bahasa. Ritual yang menghadap satu kota. Nabi dari satu suku.
Kalau tugasnya memang untuk semesta alam, memilih satu bahasa saja menimbulkan masalah yang tidak pernah selesai. Jalan menuju wahyu yang "asli" jadi hak istimewa satu kelompok penutur. Semua orang lain berbekal salinan terjemahan, yang di dalam teologinya sendiri dianggap lebih rendah, karena terjemahan Al-Qur'an bukan Al-Qur'an.
Tangga derajat yang masuk ke hitungan pahala
Ada hadis yang mencatat bahwa doa di Masjidil Haram bernilai 100.000 kali lebih besar dari doa di tempat lain. Satu doa di sana setara dengan hampir tiga bulan doa tanpa henti di tempat lain.
Yang melipatgandakan pahala di situ adalah tempat, bukan mutu niat atau dalamnya iman. Seorang Muslim yang lahir di Mekah dan bisa jalan kaki ke Masjidil Haram tiap hari mengumpulkan pahala dengan kecepatan yang tidak bisa dikejar Muslim di Jawa atau Lagos, sesungguh-sungguh apa pun mereka beribadah.
Keistimewaan itu terkunci di satu titik di Semenanjung Arab. Bukan karena penduduknya lebih saleh. Cuma karena tempatnya di situ.
Sistem mawali
Dalam kekhalifahan Umayyah, Muslim non-Arab disebut mawali, klien atau bekas budak. Beberapa waktu setelah masuk Islam mereka masih harus membayar jizyah seperti non-Muslim, karena para pengurus negara tidak tahu harus diapakan orang yang sudah berislam tapi bukan Arab.
Klaim bahwa agama ini untuk semua orang tidak pernah berubah jadi kesetaraan di lapangan. Gerakan Abbasiyah yang menggulingkan Umayyah sebagian besar digerakkan mawali Persia yang lelah diperlakukan berbeda dengan alasan-alasan agama.
Kejadian itu tidak bisa dipisahkan dari kitabnya sebagai kekhilafan sejarah belaka. Susunan teologi yang menaruh Arab sebagai bahasa wahyu, Mekah sebagai pusat ibadah, dan seorang nabi Arab sebagai perantara terakhir, memang menghasilkan tangga derajat yang wajar saja kalau kemudian dilembagakan.
Surga orang gurun
Gambaran surga di dalam Al-Qur'an berputar di satu tema besar: oasis. Air mengalir, keteduhan pohon, buah dalam jangkauan tangan. Al-Waqi'ah 56:15-21 menggambarkan sofa bersusun, piala berkeliling, buah yang tidak pernah habis. Al-Insan 76:13-14 menyebutkan bersandar di kursi dengan naungan dekat dan buah menunduk dalam jangkauan.
Buah yang disebut berulang-ulang adalah kurma, delima, anggur. Semuanya buah Mediterania dan Arab. Kemewahan yang digambarkan adalah kemewahan bagi orang gurun: air yang melimpah, keteduhan, makanan yang tidak perlu dicari.
Untuk pembaca pertamanya, gambaran itu tepat sekali. Tapi kitab yang mengaku berbicara kepada semesta alam mestinya bisa menggambarkan kebahagiaan yang melewati batas satu jenis alam. Buat orang Jawa yang hidup di antara sawah dan hujan delapan bulan setahun, atau orang Kalimantan yang sejak lahir dikelilingi hutan dan sungai, janji berupa air melimpah dan pohon rindang tidak menerbitkan rindu yang sama.
Indonesia sebagai cermin
Di Indonesia semua ini paling gampang dilihat. Negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, dan bahasa Arab bukan bagian dari keseharian hampir semua orangnya.
Jutaan anak belajar "membaca" Al-Qur'an dalam arti yang sangat sempit: melafalkan hurufnya dengan benar tanpa tahu artinya. Hafalan tanpa pengertian dianggap sah, bahkan dinilai lebih tinggi daripada sekadar membaca terjemahan. Orang yang hafal 30 juz dalam bahasa yang tidak dia mengerti lebih dihormati daripada orang yang paham isinya dalam bahasa ibunya sendiri.
Arabisasinya terus berjalan. Nama Arab menggeser nama Jawa, Sunda, Batak. Gamis dan jubah menggeser sarung dan kebaya. Logat Arab tertentu ikut masuk ke dalam ibadah, padahal tidak ada hubungannya dengan ajaran. Semua itu terjadi di negeri yang tidak punya ikatan sejarah dengan Semenanjung Arab, dan yang tradisi Islamnya selama berabad-abad tumbuh dengan caranya sendiri.
Kalau begitu, apa yang sebenarnya diutamakan: memahami pesan, atau melafalkan bahasa yang tepat?
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.
Bacaan selanjutnya
Artikel 13 · Al-Kahf 18:22 · Al-Kahf 18:9 · 11 menit
Gua, Anjing, dan Naskah yang Sudah Ada Sembilan Puluh Tahun Sebelumnya
Kisah Ashabul Kahfi di Al-Qur'an punya pendahulu yang bisa dilacak: naskah Syriac abad ke-6 tulisan Jacob of Sarug, dengan detail yang sama persis, termasuk anjing di depan gua dan koin yang sudah tidak berlaku.
Artikel 04 · Al-An'am 6:19 · Yunus 10:37 · 10 menit
Waraqah bin Naufal dan Asal-Usul Wahyu
Orang pertama yang membenarkan pengalaman Muhammad adalah sepupu istrinya, seorang pendeta Kristen yang hafal kitab suci Ibrani. Siapa yang sebenarnya membentuk cerita awal Islam bukan pertanyaan yang mudah dijawab.