← Artikel

Al-Kahf 18:22 · Al-Kahf 18:9  ·  11 menit

Gua, Anjing, dan Naskah yang Sudah Ada Sembilan Puluh Tahun Sebelumnya

Al-Kahf memperkenalkan kisah Ashabul Kahfi sebagai wahyu dan keajaiban dari Allah. Tapi di surah yang sama, Al-Qur'an mencatat bahwa pendengarnya sudah punya tiga versi berbeda tentang berapa jumlah pemudanya.

Ilustrasi editorial gua malam dengan anjing, koin kuno, dan naskah tua

Al-Kahf 18:9 memperkenalkan kisah Ashabul Kahfi sebagai "tanda-tanda Kami yang mengherankan", sebuah keajaiban yang Allah ceritakan kepada Muhammad sebagai wahyu. Tiga belas ayat kemudian, di 18:22, surah yang sama mencatat bahwa orang-orang sudah ribut soal berapa jumlah pemuda itu:

"Sebagian berkata: mereka bertiga, anjing mereka yang keempat. Sebagian berkata: mereka berlima, anjing mereka yang keenam. Sebagian lagi berkata: mereka bertujuh, anjing mereka yang kedelapan."

Kalau ini wahyu baru dari Tuhan yang mengetahui segala sesuatu, kenapa Al-Qur'an perlu mencatat bahwa pendengarnya sudah punya tiga versi berbeda tentang berapa orangnya?

Cerita yang sudah punya versi

Legenda "Tujuh Pemuda Efesus" sudah beredar luas di dunia Kristen sebelum Muhammad lahir. Versi paling terkenal ditulis oleh Jacob of Sarug, seorang uskup Suriah, sekitar tahun 521 M, hampir sembilan puluh tahun sebelum Al-Kahf diwahyukan. Naskahnya beredar dalam bahasa Yunani, Latin, dan Syriac di seluruh Timur Tengah, termasuk jalur perdagangan yang menghubungkan Arabia dengan Levant.

Kisahnya: tujuh pemuda Kristen di kota Efesus melarikan diri ke sebuah gua untuk menghindari penganiayaan Kaisar Decius pada tahun 250 M. Mereka tertidur dan baru terbangun dua ratus tahun kemudian, di zaman ketika Kristen sudah menjadi agama resmi kekaisaran. Mereka ditemani seekor anjing. Ketika salah satu dari mereka turun ke kota untuk membeli makanan, koin yang ia bawa sudah sangat kuno dan tidak lagi berlaku di pasar.

Al-Kahf menceritakan hal yang sama. Pemuda-pemuda beriman melarikan diri ke gua untuk menghindari penguasa yang zalim. Allah menidurkan mereka berabad-abad. Mereka ditemani anjing, yang disebut khusus di 18:18 sedang merentangkan kakinya di depan pintu gua. Ketika salah satu dari mereka dikirim membeli makanan di 18:19, ia diminta berhati-hati agar tidak dicurigai karena membawa koin yang sudah ketinggalan zaman.

Kenapa anjingnya penting

Tema "orang yang tidur sangat lama lalu terbangun di zaman berbeda" memang muncul di banyak tradisi. Rip Van Winkle tidur dua puluh tahun. Epimenides dari Kreta dalam mitologi Yunani tidur lima puluh tujuh tahun. Kalau yang sama hanya tema besarnya, itu masih bisa disebut motif yang tumbuh sendiri-sendiri di banyak kebudayaan.

Anjing adalah soal yang berbeda.

Tidak ada satu pun alasan di dalam cerita yang mengharuskan para pemuda itu punya anjing. Anjing itu tidak berbuat apa-apa. Tidak menyelamatkan siapa pun, tidak memberi petunjuk, tidak membangunkan mereka. Al-Kahf 18:18 hanya menyebutnya duduk merentangkan kaki di depan pintu gua, seolah sedang berjaga. Lalu kisahnya berlanjut tanpa menyebut anjing itu lagi.

Persis begitu juga yang ditulis Jacob of Sarug. Anjing yang sama, letak yang sama, dan guna yang sama di dalam cerita: tidak ada, tapi ada.

Satu detail yang tidak menggerakkan cerita ke mana-mana, muncul di dua naskah dari dua tradisi yang berbeda. Kalau itu kebetulan, kebetulannya terlalu rapi.

Koin yang sudah tidak berlaku menambah satu lapis lagi. Motif "tidur panjang" bisa datang dari mana saja. Detail ini tidak. Seseorang terbangun setelah berabad-abad dan membawa mata uang yang sudah tidak dikenali pedagang di pasar. Detail itu ada di versi Jacob of Sarug, dan muncul lagi di Al-Kahf 18:19 sebagai bagian dari pesan kepada pemuda yang hendak membeli makanan.

Wahyu yang tidak tahu berapa orangnya

Al-Kahf 18:25 menyebut mereka tidur selama tiga ratus sembilan tahun. Naskah Syriac menyebut dua ratus tahun, dan versi-versi lain dari legenda yang sama menyebut angka yang berbeda-beda, tergantung siapa yang menceritakannya dan di mana.

Perbedaan angkanya sendiri bukan soal.

Yang jadi soal, pendengar Arabia abad ke-7 sudah begitu hafal kisah ini sampai bisa berdebat soal detailnya. Al-Kahf 18:22 tidak hanya mencatat tiga versi berbeda soal jumlah pemuda. Ayat itu ikut menjawab perdebatannya, dengan cara yang tidak biasa untuk sebuah wahyu: "katakanlah, Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka."

Tuhan tahu, tapi tidak memberitahu.

Sebuah kisah yang diperkenalkan sebagai "tanda-tanda Kami yang mengherankan" di 18:9, yang diklaim diceritakan "dengan sebenarnya" di 18:13, berakhir dengan menyerahkan pertanyaan paling dasar tentang isinya kepada pengetahuan yang tidak dibuka. Sementara di luar sana, tiga jawaban berbeda sudah beredar.

Bagaimana cerita itu sampai ke Mekah

Kota Efesus berada di pantai barat Anatolia. Mekah di semenanjung Arabia. Jaraknya ribuan kilometer, dan legenda itu tidak bisa berjalan sendiri.

Tapi jalurnya ada. Kafilah pedagang Arab sering melintas ke Suriah dan Levant, wilayah yang jadi pusat penyebaran naskah Syriac. Komunitas Kristen Arab yang tinggal di perbatasan Arabia sudah lama mengenal cerita-cerita itu. Legenda Tujuh Pemuda Efesus bukan naskah ilmiah yang tersimpan di perpustakaan biara, tapi cerita yang dituturkan ulang di jalan, di pasar, di antara orang-orang yang bepergian jauh.

Dan ada satu jalur yang lebih langsung dari itu.

Waraqah bin Naufal adalah pendeta Kristen, sepupu Khadijah, istri Muhammad. Dia fasih membaca naskah Syriac, dan dia orang pertama yang membenarkan pengalaman Muhammad sebagai kenabian. Ibn Hisham mencatatnya dalam Sirah Nabawiyah. Naskah Jacob of Sarug tersedia dalam bahasa yang Waraqah baca, di wilayah yang bersambung langsung dengan lingkaran pergaulannya.

Seberapa besar pengaruh Waraqah terhadap bentuk awal cerita Islam adalah pertanyaan yang lebih luas dari kasus Ashabul Kahfi saja, dan dibahas lebih jauh dalam artikel Waraqah bin Naufal dan Asal-Usul Wahyu. Untuk kasus ini, yang bisa dipastikan cuma tiga hal: naskah dengan detail yang sama sudah ada, orang yang bisa membacanya ada di lingkaran terdekat Muhammad, dan Al-Qur'an tidak mengaku menyadur naskah itu.

Al-Qur'an mengklaim menceritakannya "dengan sebenarnya."

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria

Bacaan selanjutnya