← Artikel

Al-An'am 6:19 · Yunus 10:37  ·  10 menit

Waraqah bin Naufal dan Asal-Usul Wahyu

Orang pertama yang membenarkan pengalaman Muhammad adalah sepupu istrinya, seorang pendeta Kristen yang hafal kitab suci Ibrani. Siapa yang sebenarnya membentuk cerita awal Islam lebih sulit dijawab daripada yang biasanya diakui.

Ilustrasi editorial figur tua berjanggut di lanskap gurun

Setelah Muhammad turun dari Gua Hira dalam keadaan gemetar, Khadijah membawanya ke satu orang: Waraqah bin Naufal. Bukan ke tokoh agama Mekkah yang lain. Bukan ke sesepuh Quraisy. Ke Waraqah, sepupunya sendiri, yang sudah tua, nyaris buta, dan memeluk Kristen setelah meninggalkan paganisme Arab.

Waraqah mendengar ceritanya, lalu berkata bahwa yang datang itu Namus, malaikat yang sama yang datang kepada Musa. Orang pertama yang menamai pengalaman Muhammad sebagai wahyu kenabian bukan malaikat, bukan Allah langsung, tapi seorang ahli kitab suci Kristen yang membaca Ibrani.

Siapa Waraqah sebenarnya

Sumber-sumber Islam klasik menggambarkan Waraqah sebagai orang yang meninggalkan agama leluhur, mempelajari Injil, dan menulis naskah Ibrani, atau menurut riwayat lain naskah Arab dari Injil. Dia bukan tokoh pinggiran. Dia orang yang Khadijah percayai untuk menilai apakah suaminya baru saja menerima sesuatu yang nyata atau sedang terganggu jiwanya.

Waraqah meninggal tidak lama setelah pertemuan itu. Dalam catatan Bukhari, Muhammad pernah menyatakan bahwa dia melihat Waraqah dalam mimpi mengenakan pakaian putih, tanda keselamatan. Detailnya tidak ringan. Seorang Kristen yang belum masuk Islam ditempatkan di dalam penglihatan yang baik oleh Muhammad sendiri.

Kerangka yang sudah ada sebelumnya

Al-Qur'an berkali-kali menyatakan bahwa dirinya bukan kitab yang dibuat-buat. Yunus 10:37 menyatakan Al-Qur'an tidak mungkin dikarang selain oleh Allah, dan menyebutnya pembenar atas apa yang sudah ada sebelumnya sekaligus penjelasan atas kitab-kitab terdahulu. Al-Isra 17:105 menambahkan bahwa Al-Qur'an diturunkan dengan kebenaran. Fussilat 41:42 menyatakan tidak ada kebatilan yang bisa masuk ke dalamnya dari arah mana pun.

Akibat dari klaim-klaim itu langsung terasa. Kalau ada bagian dari cerita Al-Qur'an yang bisa dilacak ke sumber manusia yang punya nama, klaim di atas runtuh. Waraqah adalah nama yang membuat pertanyaan itu tidak bisa dihindari.

Bukan karena ada bukti dia "mendiktekan" sesuatu, melainkan karena kerangka wahyu awal itu sendiri sudah ada di dalam tradisi yang Waraqah kuasai: malaikat yang datang, deretan nabi sebelumnya, tempat Muhammad di garis Ibrahim, Musa, Isa. Dan orang pertama yang memberi nama pada pengalaman Muhammad memakai kerangka itu.

Tuduhan yang sudah ada sejak awal

Al-Qur'an sendiri mencatat bahwa orang Mekkah waktu itu sudah melontarkan tuduhan semacam ini. Al-An'am 6:19 muncul ketika Muhammad diminta membuktikan kenabiannya, dan jawabannya adalah bahwa Al-Qur'an diwahyukan untuk memperingatkan. Tuduhan bahwa sumbernya manusia tidak dijawab langsung.

Latar sejarahnya lebih luas dari itu. Muhammad tinggal di Mekkah, simpul perdagangan yang disinggahi banyak bangsa. Sebelum kenabian dia sudah dua kali berdagang ke Syam, wilayah yang agamanya waktu itu sebagian besar Kristen. Ada riwayat pertemuannya dengan Bahira, seorang rahib Kristen, waktu dia masih remaja. Ada Khadijah sendiri, yang jaringan dagangnya melewati batas Arabia.

Tak satu pun dari ini membuktikan wahyu tidak terjadi. Tapi semuanya latar yang jarang ikut disebut waktu asal-usul wahyu dibicarakan.

Tentang kitab yang terjaga

Al-Waqi'ah 56:77-80 menyebut Al-Qur'an sebagai bacaan yang mulia, tersimpan dalam kitab yang terpelihara, tidak disentuh kecuali oleh yang disucikan, diturunkan dari Tuhan semesta alam. Itu klaim tentang keutuhan dan kebersihan sumbernya.

Klaim seperti itu bisa diuji dari dua arah. Pertama, apakah Al-Qur'an nyambung dengan dirinya sendiri. Kedua, apakah ceritanya bisa dilacak ke tradisi yang sudah ada. Pertanyaan kedua yang menyeret Waraqah masuk. Bukan sebagai "penulis asli", tapi sebagai satu-satunya orang yang bisa disebut namanya sebagai penghubung antara Muhammad dan kumpulan pengetahuan yang kemudian membentuk cara wahyu itu dipahami dan diceritakan.

Yang tidak bisa diselesaikan dengan mudah

Pembelaan yang lazim: Waraqah cuma membenarkan, tidak menciptakan. Itu memang benar, tidak ada naskah yang mencatat Waraqah mendiktekan apa pun. Tapi membenarkan sebuah pengalaman dengan memakai kerangka tafsir tertentu juga ikut menentukan bagaimana pengalaman itu dipahami, diceritakan, dan diteruskan.

Seseorang baru saja mengalami sesuatu yang membingungkan, lalu orang pertama yang dia temui berkata "itu X, sama seperti yang dialami Y". Sejak saat itu X dan Y jadi cara pengalaman tadi dipahami, termasuk oleh orang yang mengalaminya. Tidak ada pemalsuan di situ. Begitulah cara manusia menafsirkan apa yang menimpanya.

Yang jadi soal, Al-Qur'an tidak mengklaim lahir dari penafsiran manusia yang biasa. Kitab itu mengklaim datang langsung dari Allah, tanpa perantara yang bisa mempengaruhi isinya maupun cara menyajikannya.

Apakah Waraqah ikut membentuk bingkai wahyu awal? Tidak ada yang tahu pasti. Yang bisa dipastikan, dia orang pertama yang mendengarnya, dan dia yang memberi nama.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria

Bacaan selanjutnya