← Artikel

Seri: Kisah dan Celah

1. Sapi yang Melenguh2. Tongkat, Ikan, dan Kulit yang Berbicara3. Ma'idah

Ta Ha 20:20 · Al-Anbiya 21:87  ·  9 menit

Tongkat, Ikan, dan Kulit yang Berbicara

Dua surah menyebut tongkat Musa dengan kata yang berbeda untuk peristiwa yang sama. Yunus berdoa dari dalam perut ikan dengan kalimat teologis yang tersusun rapi. Kulit bersaksi melawan kehendak pemiliknya.

Ilustrasi editorial tongkat, ikan, dan fragmen kulit simbolik di atas batu gelap

Di Ta Ha 20:18, Musa menggambarkan tongkatnya sendiri: dia bersandar padanya, dia memukul daun dengan tongkat itu untuk domba-dombanya. Kata yang dipakai asa. Dua ayat kemudian, Ta Ha 20:20, tongkat itu dilempar dan menjadi ular. Kata yang dipakai: hayyah.

Al-A'raf 7:107 menceritakan peristiwa yang sama, tongkat dilempar di hadapan Firaun, dengan kata yang berbeda lagi: thu'ban, ular besar.

Para mufassir menjelaskan ini dengan menyebut bahwa hayyah dan thu'ban keduanya benar karena ular itu sekaligus gesit dan besar. Penjelasan itu bisa diterima. Tapi satu hal lebih sulit diabaikan: di Ta Ha, setelah tongkat itu menjadi ular, Allah memerintahkan Musa mengambilnya kembali dan menambahkan "jangan takut."

Karena Musa ketakutan. Ta Ha 20:21 mencatatnya secara eksplisit. Nabi yang sedang dalam misi ilahi, yang baru mendapat perintah langsung, lari dari tongkatnya sendiri yang berubah jadi ular. Al-A'raf tidak mencatat ketakutan itu. Surah-surah lain yang menceritakan momen yang sama juga tidak. Hanya Ta Ha.

Dua cerita tentang peristiwa yang sama, dengan detail yang tidak sepenuhnya cocok, dan tidak ada penanda apa pun di dalam Al-Qur'an soal mana yang lebih tepat.

Doa dari dalam lambung

As-Saffat 37:142 menyatakan Yunus ditelan ikan besar setelah ia meninggalkan kapalnya. Al-Anbiya 21:87 mencatat doanya dari dalam kegelapan: "Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim."

Berapa lama ia di dalam ikan tidak disebutkan. As-Saffat 37:143–144 menambahkan bahwa kalau bukan karena ia termasuk orang yang bertasbih, ia akan tinggal di dalam perut ikan sampai hari kebangkitan.

Secara biologis, isi lambung mamalia laut tidak memungkinkan manusia bertahan hidup: suhu tubuhnya sekitar 37–38 derajat, enzim pencernaan bekerja, dan tidak ada oksigen. Bertahan cukup lama untuk menyusun dan mengucapkan doa teologis yang rapi butuh syarat yang tidak dijelaskan di mana pun.

Soal biologisnya berhenti di situ. Yang berjalan terus adalah doanya. Doa Yunus jadi salah satu bacaan yang paling sering dikutip dalam tradisi Islam, dipakai di segala macam keadaan terjepit. Bagaimana ia selamat tidak dijelaskan. Yang ditinggalkan adalah contoh: tasbih di titik paling gelap bisa jadi jalan keluar. Bukan sebab-akibat yang ditawarkan, melainkan bacaan yang bisa ditiru.

Tubuh yang tidak tunduk

Yasin 36:65: "Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berbicara kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka kerjakan."

Fussilat 41:20–21 mengembangkan ini menjadi dialog. Para pendosa bertanya kepada kulit mereka: mengapa kamu bersaksi melawan kami? Kulit menjawab: Allah yang membuat kami berbicara. Ia yang menciptakan segala sesuatu.

Pertanyaan bagaimana kulit bisa bicara belum yang paling berat. Seluruh sistem pertanggungjawaban di dalam Al-Qur'an berdiri di atas satu pijakan: setiap orang menanggung akibat dari pilihannya sendiri. Tidak ada dosa warisan, tidak ada tanggung renteng. Seseorang dihukum karena apa yang dia kerjakan.

Kalau anggota tubuh bisa bersaksi lepas dari kehendak orangnya, berarti ada bagian dari "diri" yang tidak dipegang oleh kehendak sadar. Kulit yang berbicara melawan pemiliknya tahu hal-hal yang tidak dia kehendaki, bisa mengatakannya, dan mengatakannya justru melawan keinginan pemiliknya.

Al-Qur'an tidak menyelesaikan soal itu. Tubuh dinyatakan bersaksi, lalu ayatnya lanjut ke gambaran hukuman. Siapa sebenarnya pemilik perbuatan seseorang, kalau tubuhnya sendiri bisa jadi saksi yang berdiri sendiri, dibiarkan menggantung.

Bagian ketiga dan terakhir: meja makan dari langit yang dijanjikan Allah tapi tidak pernah dikabarkan turun, angin Sulaiman yang ukurannya berbeda di dua surah, dan gunung-gunung yang mungkin benar-benar berbicara, mungkin juga tidak.

Lanjut ke Bagian 3: Ma'idah →

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria

Bacaan selanjutnya