← Artikel

Al-Kautsar 108:3 · Al-Anfal 8:5  ·  9 menit

Kitab yang Jelas

Al-Kautsar, surah paling pendek dalam Al-Qur'an, adalah balasan terhadap satu penghinaan yang tidak disebutkan di dalamnya. Al-Anfal 8:5-7 merujuk ke Perang Badar tanpa menyebut kata "Badar" sama sekali. Al-Qur'an menyebut dirinya "kitabun mubeen", kitab yang jelas. Tapi tidak ada pembaca yang bisa memahaminya sendirian.

Ilustrasi editorial manuskrip tua yang dihubungkan ke fragmen pusat

Al-Kautsar terdiri dari tiga ayat, yang paling pendek dalam Al-Qur'an. Ayat ketiganya: "Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang terputus."

Di dalam surahnya sendiri, kalimat itu tidak memberi tahu siapa yang dimaksud, apa yang mereka lakukan, kenapa mereka "terputus," atau apa hubungannya dengan dua ayat sebelumnya tentang telaga dan kurban. Kalimat itu berdiri sendirian tanpa penjelasan.

Yang menjelaskan adalah kitab-kitab tafsir: seorang laki-laki, ada yang menyebut Al-Ash bin Wa'il, ada yang menyebut Abu Lahab atau nama lain, mengejek Muhammad setelah putranya meninggal. Ejekannya cuma satu kata: abtar. Dalam masyarakat Arab patriarkal, abtar adalah penghinaan berat. Orang yang tidak punya keturunan laki-laki. Orang yang namanya tidak akan dilanjutkan. Orang yang terputus dari masa depan.

Seluruh surah itu balasan atas satu kata penghinaan tadi, dan balasannya memantulkan kata itu kembali ke pengejeknya: bukan kamu yang terputus, dialah yang terputus.

Tanpa mengetahui bahwa kata abtar dilontarkan kepada Muhammad, tanpa tahu oleh siapa dan dalam keadaan apa, ayat ketiga itu hampir tidak punya arti. Itu kalimat penutup dari percakapan yang tidak ada di dalam surahnya sendiri.

Badar tanpa Badar

Al-Anfal 8:5–7 lebih parah lagi. Al-Qur'an berkata: Allah menyuruhmu keluar dari rumahmu dengan kebenaran, dan sebagian orang beriman tidak menyukainya. Mereka membantahmu seolah dihalau ke arah kematian. Allah menjanjikan salah satu dari dua golongan untukmu, tapi kamu menginginkan golongan yang tidak bersenjata.

Bagi siapa pun yang tidak tahu sejarah Islam awal, ayat-ayat itu hampir tidak bisa ditafsirkan. Keluar dari rumah menuju ke mana? Dua golongan yang mana? Golongan yang tidak bersenjata itu yang mana, dan kenapa itu penting?

Semua itu merujuk ke Perang Badar: Muhammad dan para pengikutnya berangkat untuk mencegat karavan dagang Quraisy yang kaya, tapi bertemu dengan pasukan militer Quraisy yang datang melindungi karavan itu. "Dua golongan" adalah pilihan antara karavan yang tidak bersenjata penuh atau pasukan yang datang berperang. Sebagian pengikut Muhammad ingin karavan. Muhammad memilih menghadapi pasukan.

Tidak satu kata pun dari cerita itu ada di dalam Al-Qur'an.

Ayat-ayat itu tidak menceritakan Badar. Ayat-ayat itu menunjuk ke Badar, menganggap pembacanya sudah tahu, lalu mengomentari keputusan yang diambil di sana. Keterangan yang diberikan tidak cukup untuk dimengerti tanpa cerita yang justru tidak ada di dalamnya.

Kitabun mubeen

Al-Qur'an menyebut dirinya kitabun mubeen di beberapa tempat. Di pembuka Surah Yusuf, di pembuka Al-Hijr, di Al-Naml, di Al-Qashash. Kata mubeen artinya jelas, gamblang, terang. Kitab yang menjelaskan dirinya sendiri.

Klaim itu dan pengalaman membacanya tidak bertemu di satu titik.

Tidak ada pembaca yang baru pertama membuka Al-Qur'an bisa memahami Al-Kautsar 108:3 tanpa tafsir. Tidak ada yang bisa membaca Al-Anfal 8:5–7 dan tahu ini tentang keputusan taktis di Badar. Tidak ada yang bisa membaca Al-Fath 48:10, "orang-orang yang berjanji setia kepadamu sesungguhnya berjanji kepada Allah, tangan Allah di atas tangan mereka," dan tahu bahwa ini tentang Bay'at al-Ridwan di Hudaybiyyah, satu peristiwa politik yang sangat khusus.

Tradisi Islam menyelesaikan masalah ini dengan membangun perangkat dari luar yang besar sekali: asbabun nuzul, sirah, hadis, tafsir. Semuanya dipakai untuk menjelaskan apa yang tidak dijelaskan Al-Qur'an sendiri. Kitab-kitab itu tebal, dan bertambah tebal dari generasi ke generasi, karena makin jauh pembacanya dari Arabia abad ke-7, makin banyak yang perlu dijelaskan.

Bisa saja mubeen memang tidak berarti jelas dengan sendirinya, melainkan jelas bagi pendengar pertamanya. Mereka tahu kata abtar itu dilontarkan kepada siapa. Mereka tahu dua golongan di Badar. Mereka tahu siapa yang berjanji di Hudaybiyyah dan dalam keadaan apa.

Tapi kalau memang begitu, kitab itu dirancang untuk sekelompok pembaca tertentu di Arabia abad ke-7, bukan untuk semua manusia di semua zaman. Dua-duanya tidak bisa benar sekaligus: kitab yang jelas untuk semua orang, atau kitab yang hanya jelas bagi orang yang sudah tahu semua latarnya.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria

Bacaan selanjutnya