← Artikel

Seri: Kisah dan Celah

Ta Ha 20:88 · Al-Baqarah 2:73  ·  8 menit

Sapi yang Melenguh

Patung logam yang bersuara, manusia yang berubah jadi kera, mayat yang hidup kembali setelah dipukul daging sapi. Al-Qur'an menceritakan semuanya sampai ke detail terkecil, lalu berhenti tepat sebelum sebab-akibatnya perlu dijelaskan.

Ilustrasi editorial patung anak sapi logam bersuara di perkemahan gurun malam

Ta Ha 20:88 mencatat bahwa Samiri mengeluarkan dari cetakannya seekor anak sapi yang bertubuh dan bersuara, lahu khuwaar. Suara itu bukan kiasan. Al-A'raf 7:148 mengulang detail yang sama: patung anak sapi dari perhiasan kaum Musa, dan patung itu mengeluarkan suara.

Pertanyaannya bukan apakah mukjizat bisa terjadi. Pertanyaannya adalah dari mana suara itu berasal.

Al-Qur'an menyatakan Samiri yang membuat patung itu. Tapi logam padat tidak mengeluarkan suara makhluk hidup dengan sendirinya. Kalau suaranya datang dari Allah sebagai ujian bagi kaum Musa, Al-Qur'an tidak mengatakannya. Kalau suaranya bagian dari tipu daya Samiri, Al-Qur'an tidak menjelaskan bagaimana seorang manusia bisa melakukan itu. Yang ada hanya keterangan bahwa patung itu bersuara, tanpa satu pun sebab yang disebutkan.

Musa, dalam Al-A'raf, langsung menghancurkan patung itu dan menghukum Samiri. Tapi dari mana suara itu keluar tidak pernah dijawab di ayat mana pun.

Kera sebagai hukuman

Al-Baqarah 2:65 dan Al-A'raf 7:166 menceritakan sekelompok orang yang melanggar larangan hari Sabat dengan menangkap ikan, lalu Allah mengubah mereka menjadi kera yang hina.

Masalah biologisnya jelas: satu jenis makhluk tidak bisa berubah jadi jenis lain pada individu yang sudah dewasa. Tapi ada masalah yang lebih dalam dari sekadar biologi.

Kalau jadi kera adalah bentuk hukuman, bentuk kehinaan yang ditetapkan Tuhan sendiri, maka ada tangga nilai yang diam-diam ikut dipasang di situ: kera berdiri lebih rendah dari manusia. Kera bukan sekadar makhluk yang lain. Kera adalah turun derajat. Kehinaan itu yang membuat perubahannya jadi hukuman.

Tangga nilai itu tidak berhenti di abad ke-7. Waktu teori evolusi muncul dan menyatakan manusia satu nenek moyang dengan primata, perasaan bahwa kera itu hina, bahwa kera itu turun derajat, sudah lama tertanam lewat bacaan ini. Al-Qur'an tidak bicara soal evolusi. Tapi menaruh perubahan jadi kera sebagai hukuman memasang satu urutan nilai yang sangat sulit dilepaskan waktu orang yang sama kemudian membaca soal asal-usul makhluk hidup.

Pukul mayat dengan sapi

Al-Baqarah 2:67–73 adalah kisah yang paling rinci soal langkah-langkahnya. Ada seseorang yang terbunuh. Kaum Musa berselisih siapa pelakunya. Allah memerintahkan mereka menyembelih sapi betina, kemudian memukul mayat itu dengan salah satu bagian dari sapi yang sama. Mayat itu hidup kembali, cukup lama untuk menyebutkan siapa pembunuhnya, lalu mati lagi.

Perintahnya sangat rinci: harus sapi betina, bukan tua bukan muda, kuning tua warnanya, belum pernah dipakai membajak, tidak ada belang. Enam ayat dihabiskan untuk memerinci hewannya. Satu ayat untuk cara membangkitkan mayatnya.

Yang tidak ada adalah kaitan antara daging sapi dan mayat yang hidup sebentar. Kenapa alat pembangkitnya harus sapi yang itu juga? Apa hubungan antara memukul mayat dengan sepotong daging dan mayat yang lalu bisa bicara? Kalau tujuannya cuma membuka siapa pelakunya, Allah bisa membukanya langsung tanpa semua langkah itu. Langkahnya dipilih sampai ke detail terkecil, alasan memilihnya tidak disebutkan.

Dalam tradisi tafsir, kisah ini sering dibaca sebagai bukti kekuasaan Allah yang melampaui hukum alam. Di dalam kerangka teologinya sendiri itu mungkin benar. Tapi mukjizat yang melampaui penjelasan tidak sama dengan cerita yang memang tidak menyediakan penjelasan.

Tiga cerita, tiga surah yang berbeda, dan satu kebiasaan yang sama. Bagian yang bisa dibayangkan diceritakan sampai habis. Bagian yang perlu dijelaskan ditinggalkan.

Bagian kedua: dua versi tongkat Musa yang tidak sepenuhnya konsisten, Yunus yang berdoa dari dalam perut ikan, dan kulit yang bersaksi melawan pemiliknya di hari kiamat.

Lanjut ke Bagian 2: Tongkat, Ikan, dan Kulit yang Berbicara →

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria

Bacaan selanjutnya