Al-Isra 17:1 · An-Najm 53:13 · 8 menit
Malam yang Diceritakan Berbeda
Al-Isra 17:1 hanya menyebut perjalanan dari Mekah ke Yerusalem. Masjid Al-Aqsa sebagai bangunan fisik selesai dibangun tujuh puluh tahun setelah Muhammad meninggal. Aisyah bersaksi bahwa tubuh Muhammad tidak beranjak malam itu.

Al-Isra 17:1 menyebut satu perjalanan: dari Masjid Al-Haram di Mekah ke Masjid Al-Aqsa di Yerusalem. Itu saja.
Tidak ada tujuh lapis langit. Tidak ada pertemuan dengan Ibrahim di langit keenam dan Musa di langit kelima. Tidak ada tawar-menawar tentang salat dari lima puluh kali menjadi lima. Semua detail yang kita kenal sebagai Mi'raj tidak ada dalam ayat itu.
Yang kita sebut "Isra Mi'raj" adalah dua peristiwa berbeda yang disatukan dalam satu narasi. Isra ada di Al-Quran. Mi'raj tidak.
Tempat yang belum ada
Perjalanan itu diklaim terjadi sekitar tahun 621 Masehi. Di tahun itu, di Bukit Bait Suci (Temple Mount) Yerusalem, yang ada adalah reruntuhan. Kuil yang dibangun Herodes sudah dihancurkan tentara Romawi pada tahun 70 Masehi, hampir enam ratus tahun sebelumnya.
Masjid Al-Aqsa sebagai bangunan fisik dibangun antara tahun 691 dan 715 Masehi oleh khalifah Umayyah, Abd al-Malik bin Marwan dan putranya Al-Walid I. Tujuh puluh tahun setelah Muhammad meninggal.
"Masjid Al-Aqsa" di Al-Isra 17:1 dipahami oleh sebagian sarjana sebagai istilah generik untuk tempat suci yang jauh, bukan nama bangunan yang sudah berdiri. Tapi begitu tempat itu diidentifikasikan dengan kompleks fisik di Yerusalem, ada masalah kronologis yang tidak bisa diabaikan. Bangunan yang dikunjungi belum dibangun ketika kunjungan itu diklaim terjadi.
Mimpi atau perjalanan
Di dalam khazanah Islam sendiri, tidak pernah ada konsensus tentang sifat perjalanan itu.
Muawiyah bin Abi Sufyan menyebut Isra sebagai ru'ya, mimpi. Ibn Abbas dalam satu riwayat mengatakan perjalanan itu dilakukan "dengan ruh". Kelompok sahabat lain mempertahankan perjalanan fisik. Perbedaan ini sudah ada sejak generasi pertama.
Aisyah meninggalkan keterangan yang paling langsung: tubuh Muhammad tidak beranjak malam itu. Yang berjalan adalah ruhnya.
Kalau ini perjalanan fisik, setidaknya satu orang yang tidur di rumah yang sama seharusnya tahu ia pergi.
Dua klaim, satu ayat
Satu argumen yang sering diajukan untuk membuktikan perjalanan fisik bertumpu pada kata bi abdihi di Al-Isra 17:1. 'Abd merujuk pada manusia seutuhnya, bukan ruh saja. Karena itu, perjalanan itu pasti melibatkan tubuh fisik.
Tapi ayat yang sama hanya menyebut perjalanan sampai Yerusalem. Tidak ada kelanjutan ke langit.
Kalau bi abdihi membuktikan korporealitas perjalanan, ia membuktikannya untuk Isra saja. Untuk Mi'raj, tidak ada ayat yang setara. An-Najm 53:13–18 menggambarkan sesuatu yang dilihat Muhammad, tapi tidak secara eksplisit menyebut perjalanan ke langit atau lokasi di mana penglihatan itu terjadi.
Dua perjalanan, satu bukti tekstual yang sebenarnya hanya relevan untuk salah satunya.
Tahun Kesedihan
Peristiwa ini diklaim terjadi di 'am al-huzn, Tahun Kesedihan. Dalam rentang beberapa bulan, Khadijah dan Abu Thalib meninggal. Muhammad kehilangan istri pertamanya dan pelindung utamanya bersamaan. Upaya dakwah di Thaif baru saja berakhir dengan pengusiran.
Narasi tentang perjalanan supranatural ke langit, dilantik langsung oleh Allah, bertemu semua nabi besar, tidak muncul di masa puncak. Ia muncul tepat di titik terendah.
Riwayat paling lengkap tentang Mi'raj muncul dalam koleksi hadis, dari beberapa sahabat dengan detail yang tidak selalu konsisten. Di langit mana Musa ditemui, berapa kali salat dinegosiasikan, siapa yang mendampingi di setiap tingkatan, semuanya ada variasinya di antara riwayat yang berbeda.
Al-Isra 17:1 adalah satu kalimat tentang satu malam. Yang tumbuh di atasnya jauh lebih besar dari apa yang tertulis di sana.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.
Bacaan selanjutnya
Artikel 39 · Hud 11:42 · Yunus 10:92 · Al-Baqarah 2:247 · 8 menit
Ya Bunayya
Hud 11:42 menceritakan anak Nuh yang menolak naik kapal dan tenggelam. Namanya tidak disebut. Ibn Katsir menyebutnya Kanaan, At-Tabari menyebutnya Yam. Dalam kisah banjir yang lebih tua, anak seperti ini tidak ada sama sekali.
Artikel 42 · Luqman 31:12 · 31:13 · 10 menit
Luqman Sebelum Al-Quran
Luqman sudah terkenal di Arabia sebagai ahli hikmah dari suku 'Ad, dengan koleksi peribahasa yang beredar luas, jauh sebelum Islam. Al-Quran mengambil namanya dan reputasinya, lalu mengisi ulang hikmahnya dengan konten yang sama sekali berbeda.