Qurai

Surat 108

Al-Kausar

الكوثر

Pemberian Yang Banyak, terdiri dari 3 ayat dan turun di Makkah.

Dalam urutan turunnya wahyu, surat ini turun ke-15 setelah Al-'Adiyat sebelum At-Takasur.

Al-Kausar surat terpendek di seluruh Al-Qur'an: tiga ayat, sepuluh kata. Kausar yang artinya tidak disepakati (ayat 1): Kata kausar cuma muncul sekali di seluruh Al-Qur'an. Tafsir mengisinya dengan telaga di surga, dengan sungai, dengan kenabian, dengan Al-Qur'an itu sendiri, atau dengan kebaikan yang banyak. Kata yang jadi nama suratnya kata yang tidak punya pembanding di ayat lain untuk mengukur artinya. Salat dan menyembelih (ayat 2): Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Kata wanhar berakar dari menyembelih unta. Ulama Syiah membacanya sebagai mengangkat tangan sampai ke pangkal leher waktu takbir. Satu kata, dua ibadah yang berbeda. Yang membencimu, dialah yang terputus (ayat 3): Riwayat menyebut ayat ini menjawab ejekan al-As bin Wail, yang menyebut Muhammad abtar, terputus keturunannya, sesudah anak laki-lakinya meninggal. Jawabannya mengembalikan kata yang sama kepada pengejeknya. Bentuknya bentuk balasan setimpal dalam perselisihan lisan. Sepuluh kata di antara dua ejekan: Suratnya dibuka dengan pemberian dan ditutup dengan pengembalian ejekan. Yang berada di tengah satu perintah beribadah. Keseluruhan surat ini bisa dibaca tanpa mengetahui siapa al-As bin Wail. Ayat ketiganya baru punya sasaran kalau nama itu diketahui.

Persentase dihitung dari bagian ayat surat ini yang punya catatan itu (3 ayat). Ketuk kartunya untuk melihat daftar ayatnya.

1 : Ayat 1: Anugerah Ilahi

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ١

(108:1) Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak.

Asbabun Nuzulmenurut Muchlis M. Hanafi

Surat ini turun untuk membalas ejekan Al-Ash bin Wa'il (dan tokoh musyrik lainnya) yang menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai "pria yang terputus" (abtar) setelah putra beliau yang bernama Abdullah meninggal dunia pada saat masih bayi. Allah membalas ejekan itu dengan menegaskan bahwa sang pengejeklah yang sebenarnya terputus dari semua kebaikan. (Sumber: Asbab Al-Nuzul - Al-Wahidi) 1-3 Ayat ini turun berkaitan dengan pernyataan Ka‘ab bin al-Asyraf, salah seorang pemuka di Madinah, yang mengatakan kepada penduduk Mekah bahwa mereka lebih baik daripada Nabi Muhammad. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)

2-3 : Ayat 2-3: Respons dan Konsekuensi