Bacaan
Asbabun Nuzul
Seluruh Surat Al-Fatihah diturunkan dalam satu peristiwa di Makkah, ketika Nabi Muhammad SAW mendengar suara gaib memanggil namanya dan beliau sempat menghindar. Atas saran Waraqah bin Naufal, beliau mendengarkan panggilan tersebut yang kemudian menuntunnya membaca syahadat dan surah Al-Fatihah. Riwayat lain menyebutkan bahwa saat Nabi membacanya di Makkah, kaum Quraisy mengejeknya. (Muchlis M. Hanafi, Asbabun Nuzul)
TopikBasmalah (Pembukaan dengan Nama Allah)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Kritik
Masalah Pembicara dan Status Surat: Teks dalam Surat Al-Fatiha secara jelas ditujukan kepada Tuhan dalam bentuk doa (seperti "Hanya kepada Engkaulah kami menyembah") Ini adalah kata-kata manusia (Muhammad) yang memuji Tuhan, bukan firman Tuhan kepada manusia Untuk menutupi masalah teologis ini, kata perintah "Katakanlah" (Qul) sering diasumsikan ada oleh para penyusun Al-Qur'an di kemudian hari untuk menghilangkan kesulitan yang memalukan tersebut Penolakan oleh Sahabat Nabi: Karena sifatnya yang murni sebagai doa liturgis, Ibn Mas'ud (salah satu otoritas pembacaan Al-Qur'an terkemuka yang ditunjuk Nabi) secara tegas menolak Al-Fatiha (serta Surat 113 dan 114) sebagai bagian dari Al-Qur'an Di dalam naskah/kodeks asli milik Ibn Mas'ud, surat-surat ini tidak dimasukkan karena ia menganggapnya hanya sebagai tambahan doa. Surah ini tidak dianggap sebagai bagian riil dari Al-Qur'an oleh salah satu pencatat wahyu utama, Ibnu Mas'ud, yang secara sadar menolak memasukkannya ke dalam mushafnya. (Criticism of the Quran - Wikipedia; The Origins of the Koran) (1:1) Terdapat masalah sintaksis dan pergeseran narator yang kacau; teks ini secara logis adalah doa manusia yang ditujukan kepada Tuhan ("Hanya Engkaulah yang kami sembah"), bukan Tuhan yang sedang berbicara, menunjukkan kesalahan penyajian narasi ilahi. (Criticism of the Quran - Wikipedia)
Moral Concern
Pembukaan eksklusif dengan nama entitas tertentu (Allah) menutup kerangka pluralisme spiritual dari awal. Secara struktural, teks ini menempatkan pembaca dalam posisi yang sudah menerima monoteisme sebagai kerangka default, mengabaikan bahwa masyarakat majemuk terdiri dari berbagai tradisi spiritual (politeisme, panteisme, deisme, ateisme) yang tidak memiliki alasan untuk menerima invokasi ini sebagai fondasi valid. Dalam konteks masyarakat plural, pembukaan semacam ini berfungsi sebagai pengkotakan in-group (yang menerima invokasi) vs out-group (yang tidak) sejak baris pertama.

