← Artikel

An-Najm 53:19 · Al-Ankabut 29:61  ·  10 menit

Kaaba, Allah, dan Apa yang Ada Sebelumnya

Kaaba punya sejarah panjang sebagai kuil politeistik. Nama Allah muncul jauh sebelum Islam. Ritual haji sudah berlangsung berabad-abad sebelum Muhammad. Ini bukan tuduhan — ini catatan historis yang bisa diperiksa.

Ilustrasi editorial bangunan kubus gelap di halaman ziarah kuno

Sebelum Islam, Kaaba sudah ada. Ibn Ishaq dalam Sirat Rasul Allah mencatat bahwa tempat itu adalah pusat ziarah Arab dengan 360 patung — masing-masing mewakili dewa suku yang berbeda. Ini bukan catatan dari musuh Islam; ini sumber biografi Muhammad yang paling awal dan paling dihormati.

Hisham ibn al-Kalbi dalam Book of Idols mendokumentasikan setidaknya empat struktur serupa di tempat lain di Arabia — menunjukkan bahwa "Kaaba" bukan arsitektur yang unik, tapi format kuil yang umum di kalangan suku-suku Arab. Yang di Mekkah hanya yang paling terkenal.

Ritual yang tidak berubah

Salah satu pertanyaan yang jarang diajukan secara langsung adalah: seberapa banyak dari ritual haji yang ada sebelum Islam, dan seberapa banyak yang benar-benar baru? Jawabannya cukup mengejutkan. Thawaf mengelilingi Kaaba tujuh kali sudah dilakukan sebelum Muhammad. Ziarah musiman ke Mekkah sudah berlangsung berabad-abad. Ihram — pakaian tak berjahit yang membedakan jamaah dari kehidupan biasa — adalah format ritual yang dikenal luas di berbagai tradisi pra-Islam.

Ini bisa dibaca dua cara. Satu: Islam datang untuk membersihkan ritual-ritual yang sudah ada dari unsur kesyirikan dan mengembalikannya ke bentuk Abrahamik yang asli — ini narasi resmi. Dua: Islam mengadopsi praktik-praktik yang sudah mengakar karena itu satu-satunya cara agar agama baru bisa diterima oleh masyarakat yang sudah hidup dengan ritual-ritual itu selama generasi. Kedua bacaan ini sama-sama bisa dipertahankan, tergantung dari mana seseorang memulai.

Tiga dewi dan satu ayat yang tidak bisa dihindari

An-Najm 53:19-23 menyebut tiga nama: Al-Lat, Al-Uzza, dan Manat. Ayat itu mempertanyakan logika orang yang menganggap ketiga sosok ini sebagai "putri Allah" sementara menginginkan anak laki-laki untuk diri mereka sendiri.

Yang menarik bukan bantahannya — tapi kenyataan bahwa Al-Quran merasa perlu menyebut dan mendebat ketiga sosok ini secara langsung. Al-Lat punya kuil di Ta'if. Al-Uzza disimbolkan dengan tiga pohon akasia di Nakhlah. Manat adalah dewi nasib yang disembah di pesisir Laut Merah. Ketiganya bukan mitos yang jauh — mereka bagian dari lanskap religius tempat Muhammad lahir dan tumbuh.

Bahwa Al-Quran merespons mereka secara eksplisit justru mengkonfirmasi seberapa nyata kehadiran mereka. Kitab yang mengklaim datang dari Tuhan yang satu harus berhadapan langsung dengan saingannya — karena saingan itu ada dan relevan.

Allah sebelum Islam

Nama "Allah" bukan ciptaan Islam. Secara linguistik, ia bisa ditelusuri ke Ilum dalam tradisi Mesopotamia, El dan Eloah dalam tradisi Ibrani dan Ugarit, Elaha dalam bahasa Aram, dan Alaha dalam Suryani Kristen — bahasa yang dipakai Gereja Kristen Arab jauh sebelum Muhammad.

Yang lebih relevan adalah bagaimana orang Arab pra-Islam memahami Allah. Konsepnya bisa digambarkan sebagai "Tuhan Tertinggi yang sudah mundur" — pencipta yang tidak terlibat langsung dalam urusan sehari-hari, sementara dewa-dewi yang lebih kecil mengisi fungsi praktis dalam kehidupan manusia. Ini adalah pola yang dikenal luas di seluruh Timur Tengah kuno.

Al-Ankabut 29:61 mencatat hal ini secara langsung: kalau kamu tanya kepada mereka siapa yang menciptakan langit dan bumi, mereka akan menjawab "Allah." Artinya, orang-orang yang Al-Quran sebut sebagai musyrik itu sudah mengakui Allah sebagai pencipta — mereka hanya juga menyembah yang lain di sampingnya. Islam bukan memperkenalkan nama itu; Islam memperkenalkan eksklusivitasnya.

Hubal dan Allah

Hubungan antara Hubal — dewa utama di Kaaba sebelum Islam — dan Allah adalah salah satu pertanyaan yang paling sering dihindari. Ibn Ishaq mencatat bahwa Hubal adalah patung terbesar di Kaaba Quraisy. Dalam Perang Uhud, pihak Quraisy berseru "Hubal, bangkitlah!" dan pihak Muslim menjawab "Allah lebih tinggi." Ini bukan pertempuran dua kelompok yang tidak saling mengenal — ini dua kelompok dari komunitas yang sama, bertempur dengan nama yang berbeda untuk tuhan mereka masing-masing.

Beberapa sarjana berpendapat bahwa "Allah" mungkin awalnya adalah sebutan generik untuk dewa utama suatu suku — jadi Allah-nya Quraisy bisa jadi Hubal, Allah-nya suku lain adalah figur lain. Ini posisi akademis, bukan tuduhan. Implikasinya: Islam mungkin tidak memperkenalkan sosok yang sepenuhnya asing, tapi mengidentifikasi ulang siapa yang berhak disebut sebagai satu-satunya yang layak disembah.

Kosmologi yang dipinjam

Gambar alam semesta dalam tafsir Islam klasik menunjukkan kesamaan yang dekat dengan kosmologi Mesopotamia. Tujuh langit dan tujuh bumi, pemisahan air tawar dan air asin, penciptaan dari air — ini semua konsep yang sudah ada dalam tradisi Babilonia sebelum Islam. Kisah penciptaan dalam Enuma Elish berbagi struktur yang sangat mirip.

Yang lebih spesifik: tafsir klasik atas Al-Qalam 68:1 — yang dimulai dengan huruf "Nun" — oleh At-Tabari, Al-Qurtubi, dan Ibn Kathir menjelaskan bahwa Nun adalah nama ikan raksasa yang menopang bumi. Konsep ini, makhluk laut raksasa sebagai fondasi dunia, adalah warisan langsung dari tradisi Semit kuno yang mendahului Islam berabad-abad.

Ini bukan masalah kecil jika klaimnya adalah wahyu supernatural yang melampaui pengetahuan zamannya. Kosmologi yang keliru secara ilmiah dan yang identik dengan mitologi yang sudah beredar di wilayah itu sulit diterima sebagai bukti pengetahuan yang berasal dari luar sejarah manusia.

Abraham di Mekkah

Klaim bahwa Ibrahim dan Ismail membangun Kaaba adalah fondasi legitimasi Islam sebagai agama Abrahamik. Masalahnya: tidak ada bukti arkeologis yang mengaitkan keduanya dengan Mekkah. Sumber-sumber Yahudi dan Kristen tidak menempatkan Ibrahim di sana. Referensi tertulis pertama tentang kaitan Ibrahim-Mekkah muncul dari dalam tradisi Islam sendiri — artinya, setelah Islam sudah ada.

Ini bukan fenomena yang unik untuk Islam. Roma mengklaim keturunan dari Aeneas dari Troya. Banyak dinasti dan agama membangun legitimasi dengan menghubungkan diri ke figur yang dihormati di masa lalu. Pertanyaannya bukan apakah ini terjadi — tapi apakah klaim historisnya bisa diverifikasi secara independen. Dalam kasus Ibrahim-Mekkah, sampai sekarang belum bisa.

Gerakan yang sudah ada sebelum Muhammad

Satu detail yang sering hilang dari narasi mainstream adalah adanya gerakan Hanif — sekelompok orang Arab yang sudah meninggalkan politeisme dan mencari "agama Ibrahim yang asli" sebelum Islam. Waraqah ibn Nawfal, orang pertama yang memvalidasi pengalaman Muhammad, adalah salah satunya. Zaid ibn Amr menolak penyembahan patung dan menghindari daging yang dipersembahkan kepada berhala. Umayyah ibn Abi Salt menulis puisi tentang monoteisme sebelum Muhammad menyatakan kenabiannya.

Kehadiran gerakan ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan monoteisme Arab yang khas — bukan Yahudi, bukan Kristen, tapi juga bukan politeisme lama — sudah ada sebelum Muhammad. Ada yang melihat ini sebagai bukti bahwa Islam adalah kelanjutan natural dari evolusi religius Arabia, bukan intervensi yang datang dari luar sejarah. Ada juga yang melihatnya sebaliknya: bahwa "wahyu" yang datang kepada Muhammad menjawab kebutuhan yang sudah siap menunggunya.

Kedua pembacaan itu tidak bisa sekaligus benar. Tapi keduanya perlu diajukan — dan fakta bahwa yang kedua jarang masuk dalam pembahasan populer tentang asal-usul Islam adalah sesuatu yang patut diperhatikan.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria

Bacaan selanjutnya