Yusuf 12:3 · Yusuf 12:31 · 11 menit
Dari Mana Datangnya Pisau Itu?
Yusuf 12:31 menceritakan para wanita yang mengiris tangan karena terpesona Yusuf. Adegan itu tidak ada di Kitab Kejadian. Tapi ada di Bereshit Rabbah, kompilasi legenda Yahudi abad ke-5. Al-Qur'an menyebut kisah ini ahsanal qasas, kisah yang paling baik.

Yusuf 12:31 menceritakan adegan yang cukup dramatis: istri pembesar Mesir mengundang para wanita kota ke sebuah jamuan. Ia menyiapkan makanan dan memberi masing-masing tamu sebuah pisau. Lalu ia menyuruh Yusuf keluar di hadapan mereka.
"Ketika para wanita itu melihatnya, mereka mengagumi (keindahan)nya dan memotong tangan-tangan mereka sendiri."
Pisau, jamuan, tangan terluka. Sang istri yang akhirnya bisa membuktikan alasannya di depan para pengkritiknya.
Detail itu tidak ada dalam catatan tertua yang kita punya tentang kisah Yusuf. Kitab Kejadian pasal 39, yang sudah ada ribuan tahun sebelumnya, hanya mencatat: istri Potifar menggoda Yusuf berulang kali, Yusuf menolak, suatu hari bajunya tertarik dan ia melarikan diri, istri itu memfitnahnya dengan baju itu sebagai bukti, Yusuf dipenjara.
Tidak ada jamuan. Tidak ada pisau. Tidak ada tangan yang terluka.
Jadi dari mana detail itu datang?
Apa itu Midrash
Di luar Alkitab ada tradisi literatur Yahudi lain yang disebut Midrash. Bagi pembaca yang belum familiar: Midrash bukan kitab suci. Ia bukan bagian dari Taurat maupun Perjanjian Lama. Midrash adalah kumpulan cerita, tafsir, dan legenda yang dikembangkan oleh rabi-rabi Yahudi untuk keperluan pengajaran dan ceramah di sinagog.
Cara kerjanya seperti ini: Alkitab seringkali bercerita dengan sangat ringkas. Kisah besar diceritakan dalam beberapa halaman, dengan sedikit dialog dan nyaris tanpa detail psikologis. Para rabi kemudian mengembangkan kisah-kisah itu, mengisi celah naratif dengan dialog yang dibayangkan, latar belakang tokoh, dan adegan-adegan baru yang memperkuat pesan moral. Hasilnya dikumpulkan, diajarkan, dan beredar luas di komunitas Yahudi selama berabad-abad.
Salah satu kompilasi Midrash yang paling penting adalah Bereshit Rabbah, elaborasi atas Kitab Kejadian. Kompilasi ini diperkirakan disusun sekitar abad ke-5 Masehi, dua abad sebelum Al-Qur'an.
Adegan yang sama, sumber yang berbeda
Di Bereshit Rabbah 87, kisah Yusuf dikembangkan jauh melampaui versi Kejadian. Istri Potifar, dalam tradisi Midrash ia diberi nama Zuleikha, mendengar para wanita bangsawan kota mengejeknya karena jatuh cinta pada pelayannya sendiri.
Zuleikha kemudian mengundang mereka semua ke pesta. Ia menyiapkan hidangan dan memberi masing-masing tamu pisau untuk mengupas buah. Di tengah pesta itu, ia memerintahkan Yusuf masuk ke ruangan.
Para wanita itu kehilangan konsentrasi sepenuhnya. Mereka mengiris tangan mereka sendiri tanpa sadar. Zuleikha lalu berkata: kalau kalian seperti ini hanya dengan sekali melihat, bayangkan aku yang harus bersamanya setiap hari.
Jamuan. Pisau. Buah. Tangan terluka. Istri yang membuktikan alasannya.
Identik dengan Yusuf 12:31.
Bukan kebetulan motif naratif
Kesamaan ini bukan soal tema umum yang bisa muncul di banyak tradisi secara kebetulan. Adegan pisau adalah detail yang sangat spesifik, tidak muncul dalam sumber mana pun sebelum Midrash, dan kemudian muncul di Al-Qur'an dua abad kemudian dengan urutan yang sama.
Tidak ada di catatan tertua yang kita miliki. Ada di Bereshit Rabbah abad ke-5. Ada di Al-Qur'an abad ke-7.
Jawaban yang biasa diberikan oleh ulama Muslim adalah bahwa Al-Qur'an membawa versi yang lebih akurat dari kisah Yusuf, sesuai dengan kejadian aslinya, sementara catatan sebelumnya adalah versi yang sudah berubah. Tapi penjelasan itu memunculkan pertanyaan yang lebih besar: mengapa versi "yang lebih akurat" itu persis cocok dengan elaborasi naratif yang dibuat rabi-rabi manusia pada abad ke-5?
Kalau Al-Qur'an memiliki akses ke kejadian aslinya yang sesungguhnya, hasilnya seharusnya berbeda dari karya manusia mana pun. Tapi hasilnya justru identik dengan Bereshit Rabbah.
Konteks yang membuat ini masuk akal
Konteks historisnya relevan. Madinah pada abad ke-7 adalah kota dengan komunitas Yahudi yang besar dan aktif. Setidaknya ada tiga suku Yahudi yang mendiaminya: Banu Qaynuqa, Banu Nadhir, dan Banu Qurayzah. Komunitas-komunitas ini membawa serta tradisi intelektual mereka, termasuk cerita-cerita Midrash yang selama berabad-abad sudah menjadi bagian dari cara mereka memahami dan menceritakan naskah-naskah lama.
Tradisi itu tidak hanya tersimpan dalam gulungan. Ia diceritakan, didiskusikan, dan beredar sebagai tradisi lisan yang hidup. Dalam lingkungan seperti itu, kisah Yusuf versi Midrash, lengkap dengan adegan pisau dan jamuan Zuleikha, bisa jadi sudah lama menjadi cerita yang dikenal di sekitar.
Pola yang lebih luas
Adegan pisau bukan satu-satunya titik paralel. Dialog panjang antara Yusuf dan istri Potifar yang ada di Al-Qur'an juga tidak ditemukan dalam catatan tertua kisah ini, tapi ada dalam elaborasi Midrash. Kisah Ibrahim yang menghancurkan patung-patung ayahnya, yang diceritakan di Al-Anbiya 21:51–70, juga tidak muncul dalam Kejadian tapi ada secara rinci di Bereshit Rabbah 38. Polanya konsisten: detail yang absen dari sumber tertua kita tapi hadir dalam Midrash, muncul di Al-Qur'an.
Yusuf 12:3 menyebut kisah ini sebagai ahsanal qasas, kisah yang paling baik.
Dari sisi sastra, Surat Yusuf memang kisah yang paling kohesif dalam Al-Qur'an. Alurnya utuh, karakternya berkembang, emosinya terasa. Tapi "kisah terbaik" yang diklaim sebagai wahyu ilahi itu mengandung adegan yang tidak bisa ditelusuri ke sumber mana pun kecuali karya naratif manusia yang ditulis dua abad sebelumnya.
Al-Qur'an tidak menyebut Bereshit Rabbah. Tapi adegan itu ada di sana.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.
Bacaan selanjutnya
Artikel 18 · An-Najm 53:19 · Al-Hajj 22:52 · 9 menit
Ayat-ayat Setan
At-Tabari mencatat bahwa sebelum insiden Gharaniq, Muhammad berharap dalam hatinya ada sesuatu yang mendamaikannya dengan kaumnya. Itu bukan deskripsi penerima wahyu yang pasif. Dan Al-Hajj 22:52 ada dalam Al-Quran sampai hari ini, mengakui bahwa setan bisa menyusup ke proses wahyu sebelum Allah menghilangkannya.
Artikel 12 · At-Taubah 9:29 · An-Nahl 16:67 · 13 menit
Allah di Mekah, Allah di Madinah
Al-Quran menyebut anggur sebagai rezeki di Mekah, lalu menyebutnya perbuatan setan di Madinah. Dari toleransi ke perintah membunuh, dari kesetaraan ke hierarki — semuanya berkorelasi dengan satu hal: kekuasaan.