← Artikel

Al-Imran 3:59 · Al-Hijr 15:26  ·  11 menit

Dari Tanah Liat

Al-Qur'an menggambarkan penciptaan Adam dengan bahan yang disebutkan dan langkah yang jelas. Tafsir klasik membacanya apa adanya. Kromosom manusia dan genetika populasi menunjukkan hal yang berbeda.

Ilustrasi editorial figur tanah liat, fosil, dan diagram kromosom di meja studi

Al-Imran 3:59 memakai satu perumpamaan yang jelas: penciptaan Isa disandingkan langsung dengan penciptaan Adam. Bukan karena keduanya lahir dari perempuan tanpa ayah, tapi karena keduanya lahir dari satu perintah langsung Allah. "Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: 'Jadilah!' Maka jadilah dia."

Al-Hijr 15:26 menambahkan bahannya: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk." Ar-Rahman 55:14 mengulang gambaran yang sama dengan kiasan tembikar. Tanah liat, diberi bentuk, jadilah.

Bukan gambaran samar tentang proses yang berjalan jutaan tahun. Ini keterangan yang terperinci: bahannya disebut, langkahnya jelas.

Apa yang sebenarnya diklaim evolusi

Salah paham soal apa yang sebenarnya diklaim teori evolusi terlalu umum, dan terlalu gampang dipakai untuk mengaburkan pembicaraan.

Evolusi tidak mengklaim bahwa manusia "berasal dari kera." Yang diklaim adalah bahwa manusia dan kera besar, seperti simpanse dan gorila, memiliki leluhur bersama yang sudah punah jutaan tahun lalu. Hubungannya seperti hubungan anjing dengan rubah, atau ikan dengan katak. Kita tidak berasal dari satu sama lain. Kita bercabang dari akar yang sama.

Satu hal lagi yang sering disalahpahami: kata "teori" dalam sains tidak berarti tebakan atau dugaan yang belum terbukti. Teori gravitasi, teori kuman, teori atom, semuanya "teori" dalam arti ilmiah: penjelasan yang didukung bukti dari banyak arah dan sudah diuji berulang kali. Tidak ada ahli biologi di dunia yang mempersoalkan bahwa evolusi terjadi. Yang masih diperdebatkan di kalangan ilmuwan hanya soal cara kerjanya, bukan apakah prosesnya nyata.

Kita bahkan bisa mengamati evolusi secara langsung. Bakteri yang awalnya mati kena antibiotik berevolusi jadi kebal dalam hitungan tahun, kadang bulan. Bukan kiasan, bukan perumpamaan. Prosesnya tercatat di laboratorium dan di klinik seluruh dunia.

Kromosom yang tidak bisa diabaikan

Salah satu bukti paling konkret untuk asal-usul bersama manusia dan kera besar bisa dilihat langsung dari kromosom.

Manusia punya 46 kromosom. Simpanse, gorila, dan orangutan semuanya punya 48. Kalau keduanya berevolusi dari leluhur bersama, ada yang perlu dijelaskan: ke mana dua kromosom itu pergi?

Jawabannya tercatat jelas di dalam urutan DNA. Kromosom nomor 2 pada manusia, kalau disandingkan dengan kromosom kera besar, persis seperti dua kromosom kera yang menyatu ujung ke ujung. Di tengah kromosom 2 manusia ada sisa centromere yang tidak aktif, yaitu bekas pusat kromosom lama yang tidak berfungsi lagi setelah penggabungan. Di bagian yang sama, ada telomeric sequences, urutan DNA yang normalnya hanya ada di ujung kromosom, bukan di tengah. Keberadaannya di tengah kromosom 2 hanya bisa dijelaskan oleh satu hal: dua kromosom terpisah yang menyatu di titik itu.

Bukti ini tidak bergantung pada penafsiran siapa pun. Urutan basa DNA sudah dibaca dan datanya terbuka. Siapa pun yang bisa membuka pangkalan data genetik bisa memeriksanya sendiri.

Masalah populasi

Di luar kromosom, ada masalah lain yang berasal dari genetika populasi dan bersifat matematis.

Keberagaman genetik yang ada di antara manusia hidup hari ini memerlukan populasi leluhur minimum sekitar 10.000 hingga 15.000 individu. Angka itu bukan tebakan, tapi hasil hitungan dari seberapa banyak keragaman genetik yang ada di DNA manusia sekarang. Kalau seluruh umat manusia benar-benar turun dari dua orang saja, keragaman yang kita lihat hari ini tidak mungkin ada.

Di sini argumen "Mitochondrial Eve" yang sering dikemukakan untuk mendukung Adam dan Hawa perlu diperiksa lebih dekat.

Mitochondrial Eve memang ada sebagai istilah genetik. Dia perempuan terakhir yang DNA mitokondrianya masih bisa dilacak oleh semua manusia yang hidup sekarang lewat garis ibu. Tapi dia bukan perempuan pertama, dan bukan satu-satunya perempuan di zamannya. Dia hidup di antara ribuan perempuan lain yang juga punya keturunan. Yang membedakannya cuma hitungan: di suatu titik, garis keturunan perempuan-perempuan lain itu kebetulan hanya melahirkan anak laki-laki, sehingga jalur mitokondrianya putus. Y-Chromosomal Adam, yang sering dipasangkan dengannya, diperkirakan hidup puluhan ribu tahun setelah Mitochondrial Eve. Keduanya bukan suami istri, dan keduanya hidup di tengah penduduk yang jauh lebih banyak.

Satu catatan dari hadis

Shahih Bukhari dan Muslim memuat gambaran fisik Adam: tingginya 60 hasta, atau sekitar 27 meter. Kira-kira setinggi gedung delapan lantai.

Yang jadi soal bukan apakah Allah bisa menciptakan manusia raksasa, melainkan apakah makhluk seukuran itu bisa hidup. Dalam fisika ada hukum yang disebut square-cube law: kalau tinggi badan dilipatduakan, berat tubuh naik delapan kali lipat. Tulang yang sanggup menopang manusia setinggi 1,8 meter tidak akan sanggup menopang makhluk setinggi 27 meter tanpa perubahan rangka yang sangat mendasar. Jantung manusia juga tidak bisa memompa darah ke otak yang ada 27 meter di atasnya tanpa tekanan yang akan merusak pembuluh darah di bagian tubuh yang lebih bawah.

Tidak ada fosil yang menunjukkan keberadaan manusia berukuran ini, di mana pun, pada periode waktu apa pun.

Jalan tengah yang tidak tersedia dalam Al-Qur'an

Sebagian Muslim sekarang mencoba mencari jalan tengah: menerima evolusi sebagai cara yang Allah pakai, tapi tetap mempertahankan Adam dan Hawa sebagai pasangan pertama yang diciptakan khusus di ujung proses itu.

Masalahnya, Al-Qur'an tidak menyediakan ruang untuk posisi itu tanpa kerja tafsir yang cukup berat.

Al-Imran 3:59 memakai penciptaan Adam dari tanah sebagai perumpamaan untuk kelahiran Isa yang ajaib. Perumpamaan itu hanya nyambung kalau keduanya sama-sama penciptaan langsung tanpa proses alam. Al-A'raf 7:189 menyatakan semua manusia diciptakan dari nafsin wahidah, satu jiwa, dan tafsir klasik selalu menunjuk jiwa itu sebagai Adam. At-Tabari, Al-Baghawi, Ibnu Katsir, semua membaca ayat ini sebagai keterangan tentang nenek moyang yang benar-benar ada, bukan lambang. As-Sajdah 32:7–8 mengulanginya: manusia pertama dari tanah, keturunannya dari air yang hina.

Kalau Adam sekadar kiasan, tradisi tafsir 1.400 tahun harus dijelaskan ulang dari awal. Kalau Adam benar-benar orang, genetika populasi manusia yang tidak bisa dijelaskan.

Kedua ujung itu tidak bisa dipegang sekaligus tanpa melepaskan salah satu.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria

Bacaan selanjutnya