Seri: Narasi Alkitab
Hud 11:42 · Yunus 10:92 · Al-Baqarah 2:247 · 8 menit
Ya Bunayya
Al-Qur'an memasukkan tokoh baru ke dalam kisah yang sudah beredar: anak Nuh yang tidak ada di versi sebelumnya, detail Firaun yang tidak ada di tempat lain, cara memilih prajurit dari satu kisah yang pindah ke kisah lain.

Kisah banjir Nuh sudah beredar berabad-abad sebelum Al-Qur'an. Pertanyaannya bukan mana yang benar, tapi apa yang berubah waktu kisah itu berpindah dari satu komunitas ke komunitas berikutnya.
Hud 11:42 mencatat satu adegan: Nuh memanggil anaknya dari jauh, menyebutnya ya bunayya, wahai anakku, dan memintanya naik kapal. Anaknya menjawab ia akan berlindung ke gunung. Gelombang memisahkan mereka. Hud 11:43 mencatat ia tenggelam bersama yang lain.
Yang disebut hanya ya bunayya. Tidak ada nama.
Dan ternyata para mufasir pun tidak sepakat. Ibn Katsir menyebutnya Kanaan. At-Tabari menyebutnya Yam. Dua nama berbeda dari dua ulama yang sama-sama dihormati, tanpa dasar di kisah yang lebih tua.
Karena dalam kisah banjir Nuh yang lebih tua, anak seperti ini tidak ada. Di sana ada tiga anak Nuh yang masuk ke kapal, semuanya selamat. Tidak ada yang ditinggal, tidak ada yang menolak, tidak ada dialog di tepi air saat banjir datang.
Al-Qur'an memasukkan tokoh baru ke dalam kisah. Tokoh itu tidak punya nama, dan para mufasir yang paling dihormati pun tidak tahu harus mengisinya dengan apa.
Jasad yang dijaga
Yunus 10:92 menyatakan Allah menyelamatkan tubuh Firaun: "Kami selamatkan badanmu hari ini agar kamu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu."
Tidak ada kisah Musa yang lebih tua yang menyebut ini. Di versi yang beredar sebelumnya, Firaun tenggelam, dan di situ ceritanya berhenti. Tidak ada keterangan tentang jasad yang diselamatkan, tidak ada guna jasad itu sebagai tanda bagi orang-orang yang datang kemudian.
Al-Qur'an menambahkan detail ini tanpa keterangan lain. Untuk siapa jasad itu menjadi pelajaran? Kapan? Frasa "orang-orang yang datang sesudahmu" dibiarkan mengapung tanpa satu pun penunjuk yang bisa dipegang.
Dua kisah yang menjadi satu
Al-Baqarah 2:247 memperkenalkan Talut: seorang yang dipilih Allah sebagai raja karena kekuatan fisik dan ilmu yang diberikan kepadanya. Kaum Israel keberatan. Talut tetap menjadi raja dan memimpin pasukan melawan Jalut.
Al-Baqarah 2:249 menceritakan cara memilih prajurit: mereka yang minum air sungai langsung dengan mulut tidak boleh ikut, mereka yang mengambil dengan telapak tangan boleh. Hampir persis cara Gideon memilih tiga ratus prajuritnya di kisah yang lebih tua, hanya saja di versi itu yang melanjutkan perjalanan justru yang minum dengan cara tertentu, bukan yang ditolak.
Kisah Gideon adalah kisah seorang hakim Israel yang diperintahkan Allah memilih pasukan kecil melawan musuh yang jauh lebih besar. Kisah Talut adalah kisah raja pertama Israel yang menghadapi Jalut, dan Jalut kemudian dibunuh bukan oleh Talut, tapi oleh Dawud. Di kisah yang lebih tua, keduanya dua cerita dari dua tokoh berbeda di dua zaman berbeda.
Di Al-Baqarah, cara memilih prajurit dari satu kisah masuk ke kisah lain, dan keduanya mengalir jadi satu cerita tanpa jeda.
Bagian kedua memeriksa nama-nama yang tidak bisa ada di zamannya: Maryam yang disebut saudara Harun, Al-Samiri yang menyandang nama dari wilayah yang belum ada di masa Musa, dan klaim tentang keyakinan Yahudi yang tidak ada catatannya.
Lanjut ke Bagian 2: Saudara Harun →Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.
Bacaan selanjutnya
Artikel 07 · An-Najm 53:19 · Al-Ankabut 29:61 · 10 menit
Kaaba, Allah, dan Apa yang Ada Sebelumnya
Kaaba punya sejarah panjang sebagai kuil politeistik. Nama Allah muncul jauh sebelum Islam. Ritual haji sudah berlangsung berabad-abad sebelum Muhammad. Semuanya tercatat di dalam sumber Islam sendiri.
Artikel 24 · Al-Anfal 8:65 · An-Nur 24:2 · 10 menit
Yang Lebih Baik Daripadanya
Al-Anfal 8:65 dan 8:66 adalah dua ayat berurutan tentang daya tempur yang sama. Yang pertama menetapkan perbandingan 1:10. Yang berikutnya mengubahnya jadi 1:2. Al-Baqarah 2:106 menyebut penggantinya 'lebih baik', yang berarti yang diganti lebih rendah kualitasnya.