← Artikel

Seri: Narasi Alkitab

Luqman 31:12 · 31:13  ·  10 menit

Luqman Sebelum Al-Qur'an

Luqman bukan tokoh baru ketika namanya muncul di surah ke-31. Ia sudah dikenal luas di Arabia sebagai ahli hikmah yang melegenda. Al-Qur'an mengambil nama dan nama baik itu, lalu mengisi ulang hikmahnya dengan isi yang berbeda.

Ilustrasi editorial kursi hikmah kosong dengan tablet peribahasa dan kafilah di kejauhan

Luqman bukan tokoh baru ketika namanya muncul di Luqman 31:12. Ia sudah dikenal luas di Arabia sebagai ahli hikmah yang melegenda, dikaitkan dengan suku 'Ad yang hidup di masa lampau yang jauh. Ada kumpulan ucapannya yang beredar luas, disebut Amthal Luqman, dan orang Arab sudah mengenalnya jauh sebelum Islam.

Beberapa peneliti juga membandingkan cerita-cerita tentang Luqman dengan fabel-fabel Aesop dan menemukan kesamaan yang mencolok. Ada kemungkinan kedua tradisi ini datang dari sumber kebijaksanaan yang lebih tua yang beredar di kawasan yang sama, yaitu Arabia, Persia, dan Mediterania, lalu berkembang menjadi dua kumpulan berbeda yang masing-masing dilekatkan ke satu tokoh terkenal.

Luqman yang beredar di Arabia sebelum Islam adalah ahli hikmah untuk urusan hidup. Nasihatnya tentang cara menghadapi orang, tentang sabar menunggu waktu yang tepat, tentang mengenali kawan yang setia. Bukan tentang teologi.

Isi yang berbeda

Luqman 31:12 menyebutkan Allah memberikan hikmah kepada Luqman, dan hikmah itu adalah rasa syukur kepada Allah. Hikmah pertama yang Luqman sampaikan kepada anaknya, dicatat dalam 31:13: jangan menyekutukan Allah. Itu adalah kezaliman yang besar. Kemudian berlanjut ke 31:14 tentang berbuat baik kepada orang tua, 31:18 tentang tidak berjalan dengan angkuh, dan 31:19 tentang merendahkan suara.

Semua nasihat itu berputar di sekitar tauhid dan ketaatan kepada Allah. Kebijaksanaan yang dulu dikenal dari Luqman, tentang hidup sehari-hari, tentang cara bertahan dan membaca keadaan, tidak ada di sini.

Al-Qur'an mempertahankan nama Luqman. Mempertahankan bingkai bahwa ia adalah penerima hikmah, bahwa ia menyampaikan hikmah itu kepada anaknya. Tapi isi hikmahnya diganti sepenuhnya.

Kenapa namanya dipertahankan

Nama itu sudah membawa bobotnya sendiri. Begitu Al-Qur'an menyebut Luqman, pendengar abad ke-7 di Arabia sudah punya gambarannya: orang bijak, dihormati, tahu mana yang benar. Nama baik itu sudah ada dan tidak perlu dibangun dari nol. Yang tinggal dikerjakan adalah mengisi sosok yang sudah dipercaya itu dengan isi yang baru.

Begitulah cerita berpindah dari satu komunitas ke komunitas lain. Nama yang sudah dikenal dipertahankan karena nama itu yang membuka pintu. Maryam sudah dikenal. Isa sudah dikenal. Ibrahim sudah dikenal. Luqman sudah dikenal. Semua nama itu sudah beredar di Arabia dengan arti dan bobotnya masing-masing sebelum Al-Qur'an datang.

Tiap komunitas yang dilewatinya membawa pengetahuannya yang sepotong-sepotong, keperluan teologisnya sendiri, dan nama-nama yang sudah terlanjur mereka percaya.

Empat bagian dari seri ini memeriksa empat pola berbeda: kisah baru di dalam cerita yang lebih tua, nama yang salah zaman, detail dari naskah yang beredar di komunitas Arabia, dan tokoh yang diisi ulang dengan isi baru.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria

Bacaan selanjutnya