Seri: Narasi Alkitab
Maryam 19:28 · Taha 20:85 · At-Taubah 9:30 · 9 menit
Saudara Harun
Ada nama-nama dalam Al-Qur'an yang tidak cocok dengan waktunya. Maryam disebut saudara orang yang hidup tiga belas abad sebelumnya. Al-Samiri menyandang nama dari wilayah yang belum ada. Keyakinan dikaitkan kepada kelompok yang tidak memilikinya.

Sebuah nama membawa tanggalnya sendiri. Ada nama-nama di dalam Al-Qur'an yang tanggalnya tidak cocok dengan zaman cerita tempat nama itu dipakai.
Maryam 19:28 mencatat penduduk yang menegur Maryam setelah kelahiran Isa: ya ukhta Harun, wahai saudara perempuan Harun. Harun yang mana? Al-Qur'an hanya mengenal satu Harun yang menonjol: saudara Musa, yang hidup sekitar 1.200 SM. Maryam ibu Isa hidup di awal abad pertama masehi. Selisihnya sekitar tiga belas abad.
Pertanyaan itu pernah diajukan secara langsung. Catatan dalam Sunan Abu Dawud menceritakan Mughirah bin Syu'bah, yang ditanya oleh orang-orang Najran tentang ayat ini. Ia tidak bisa menjawab, lalu bertanya kepada Muhammad. Jawabannya: orang-orang dulu menamai anak-anak mereka dengan nama nabi dan orang-orang saleh.
Itu menjelaskan kebiasaan memberi nama. Yang tidak dijelaskan, kenapa Al-Qur'an menyebut Maryam sebagai ukhta Harun seolah keduanya hidup sezaman, tanpa satu pun keterangan yang membedakan Harun ini dari Harun saudara Musa.
Nama yang tidak bisa ada
Taha 20:85 menyebut Al-Samiri sebagai orang yang membuat patung anak sapi saat Musa pergi ke bukit. Taha 20:95 mencatat Musa menghadapinya langsung: "Apa urusanmu, wahai Samiri?"
Al-Samiri. Nama itu berasal dari akar kata yang sama dengan Samaria.
Samaria sebagai wilayah baru muncul sekitar 880 SM, waktu raja Omri membangunnya sebagai ibu kota kerajaan Israel utara. Itu sekitar tiga sampai lima abad setelah masa Musa, tergantung penanggalan mana yang dipakai.
Seorang "orang Samari" di masa Musa adalah kemustahilan historis karena Samaria belum ada. Para mufasir klasik menyadari masalah ini. Sebagian menafsirkan Al-Samiri bukan sebagai asal sukunya, tapi sebagai nama orang. Sebagian lain melewatinya tanpa komentar. Tapi nama itu ada di dalam ayat, dan asalnya satu tempat yang belum ada di masa itu.
Klaim yang tidak ada catatannya
At-Taubah 9:30 menyatakan bahwa orang-orang Yahudi berkata Uzair adalah putra Allah.
Tidak ada catatan tentang keyakinan ini di naskah Yahudi mana pun. Uzair, atau Ezra dalam sebutan yang lebih dikenal, memang sangat dihormati dalam tradisi Yahudi. Dia dianggap orang yang memulihkan Taurat setelah pembuangan di Babilonia, dan penghormatan itu begitu besar sampai sebagian riwayat Yahudi menyebut kalau Musa tidak ada, Ezra yang layak menerima Taurat.
Tapi penghormatan itu tidak pernah berkembang menjadi klaim keilahian. Tidak ada naskah Yahudi, baik yang ditulis sebelum maupun sesudah abad ke-7, yang mencatat bahwa Uzair dianggap putra Allah.
Ayat itu menempelkan sebuah keyakinan pada kelompok yang tidak punya keyakinan itu. Mungkin ada komunitas kecil yang tidak tercatat yang memang berpandangan begitu. Mungkin juga penghormatan Yahudi terhadap Ezra yang salah dibaca. Tidak ada bukti untuk salah satunya.
Bagian ketiga menelusuri kisah Maryam dan Isa yang mirip sekali dengan naskah Kristen yang beredar di Arabia sebelum Islam: pohon kurma saat melahirkan, Maryam di Bait Suci, dan bayi yang berbicara dari buaian.
Lanjut ke Bagian 3: Di Bawah Pohon Kurma →Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.
Bacaan selanjutnya
Artikel 25 · Fussilat 41:9 · Al-Baqarah 2:29 · 9 menit
Ketika Langit Masih Asap
Al-Fussilat 41:9-12 menempatkan bumi selesai diciptakan sebelum langit dan bintang-bintang ada. Masalahnya, bumi tersusun dari unsur berat yang hanya bisa terbentuk di dalam inti bintang. Tanpa bintang lebih dulu, tidak ada bahan untuk membentuk planet sama sekali.
Artikel 21 · Yusuf 12:2 · Al-Anbiya 21:107 · 11 menit
Tuhan yang Berbicara Arab
Q 12:2 menyebut alasan yang jelas mengapa Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab: 'agar kamu memahaminya.' Kalimat itu menentukan siapa pendengar utamanya. Dan di kitab yang sama tempat Allah mengklaim mengutus Muhammad untuk semesta alam, Al-Qur'an itu dikirim dalam satu bahasa yang hanya dimengerti satu kelompok manusia.