← Artikel

Ar-Rahman 55:13 · An-Nahl 16:89  ·  9 menit

Yang Diulang Tiga Puluh Satu Kali

Hampir 40 persen Surah Ar-Rahman terdiri dari satu frasa yang diulang 31 kali tanpa variasi. Kisah Nabi Hud diceritakan di lima surah berbeda dengan frasa yang hampir identik, tanpa menambah detail baru. Al-Qur'an menyebut dirinya tibyan li kulli syai' — penjelasan atas segala sesuatu.

Ilustrasi editorial manuskrip dengan pola pengulangan emas di meja studi gelap

Surah Ar-Rahman terdiri dari 78 ayat. Di dalamnya, satu frasa muncul 31 kali tanpa variasi:

"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu berdua dustakan?"

Setiap kali ada deskripsi nikmat atau gambaran azab, frasa itu datang lagi, identik, kata per kata. 31 dari 78 ayat adalah kalimat yang sama.

Ada tafsir yang membaca pengulangan itu sebagai ajakan merenungkan kembali setiap nikmat yang baru saja disebutkan. Tapi dalam tradisi balagha, retorika Arab klasik, pengulangan punya kriteria tersendiri untuk disebut keindahan atau cacat.

Takrar dan standar yang sudah ada

Para ulama balagha Arab, dari Ibnu Qutaibah sampai Al-Jahiz, membahas takrar, pengulangan dalam Al-Quran. Kesimpulan umumnya: pengulangan yang kuat mengandung variasi redaksi, perkembangan makna, atau pergeseran konteks. Pengulangan mekanis, frasa identik tanpa modifikasi, lebih dekat ke kecacatan daripada keunggulan dalam standar itu.

Al-Qur'an diklaim sebagai puncak keindahan bahasa Arab, I'jaz yang tidak bisa ditandingi manusia. Tapi standar keindahan yang sama itu, yang menghasilkan Mu'allaqat, memandang takrar secara selektif. Frasa identik 31 kali dalam 78 ayat adalah sesuatu yang membutuhkan justifikasi, bukan sesuatu yang dengan sendirinya menjadi argumen untuk keunggulan.

Ar-Rahman bukan satu-satunya kasus. Surah Al-Mursalat memiliki frasa "Kecelakaan besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan" yang muncul 10 kali dalam 50 ayat. Polanya sama: interval reguler, frasa identik, tanpa variasi.

Lima versi cerita yang sama

Kisah Nabi Hud dan kaum 'Ad diceritakan di Al-A'raf, Hud, Al-Mu'minun, Asy-Syu'ara, dan Al-Ahqaf. Lima surah, satu narasi.

Al-A'raf 7:65 dan Hud 11:50 membuka cerita itu dengan kalimat yang hampir identik: "Dan kepada kaum 'Ad Kami utus saudara mereka, Hud. Ia berkata: Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya." Alurnya sama di kelima surah itu: Hud diutus, kaum menolak, azab datang, Hud dan pengikutnya selamat.

Kisah Musa muncul di 36 surah berbeda. Pertemuannya dengan Firaun diceritakan ulang minimal dua belas kali. Adegan Musa melihat api di gunung ada di Al-A'raf, Taha, dan Al-Qasas, dengan frasa yang hampir identik di ketiga versi itu.

Pengulangan yang produktif biasanya menambah sesuatu: detail baru, perspektif berbeda, aspek yang diperluas. Kisah Hud di lima surah itu tidak menambah detail baru tentang kaum 'Ad. Tidak ada informasi geografis yang lebih presisi, tidak ada karakter baru, tidak ada perspektif narasi yang bergeser. Yang berubah hanya surahnya.

Pola seperti ini adalah ciri khas transmisi lisan. Epos oral seperti Iliad mengandung pengulangan formula serupa, kalimat yang digunakan kembali hampir kata per kata setiap kali situasi yang sama muncul. Ketika wahyu lisan dikompilasi dalam bentuk tertulis, pengulangan itu ikut terbawa.

Kitab yang mengklaim kelengkapannya sendiri

An-Nahl 16:89 menyatakan Al-Qur'an adalah tibyan li kulli syai', penjelasan atas segala sesuatu.

Klaim itu dan pola pengulangannya sulit diletakkan bersamaan. Kitab yang diklaim menjelaskan segala sesuatu menghabiskan sebagian besar ruangnya untuk menceritakan kembali kisah yang sudah pernah diceritakan di tempat lain dalam kitab yang sama, dengan kata-kata yang sama.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria

Bacaan selanjutnya