Al-Ghasyiyah 88:20 · Al-Kahf 18:86 · 9 menit
Bumi yang Dihamparkan
Al-Qur'an menggunakan lima kata berbeda untuk menggambarkan bumi sebagai permukaan yang dibentangkan. Tafsir al-Jalalayn mengakui ini secara eksplisit, dan mereka sudah tahu ada klaim sebaliknya dari astronomi Yunani.

Al-Ghasyiyah 88:20 mengajukan pertanyaan: "Dan bumi bagaimana ia sutihat?" Kata itu berasal dari akar sataha, yang dalam bahasa Arab merujuk pada tindakan meratakan permukaan seperti atap. Sath adalah atap datar.
Satu kata bisa dianggap pilihan diksi yang kebetulan. Tapi Al-Qur'an tidak berhenti di situ.
Nuh 71:19 menyebut bumi bisaatan, permadani yang digelar di lantai. Al-Baqarah 2:22 menyebutnya firashan, kasur yang dihamparkan. Ta-Ha 20:53 menggunakan mahdan, alas tidur datar yang dibentangkan. Al-Hijr 15:19 memakai madadna, direntangkan dengan menarik ke segala arah. Lima kata dengan akar berbeda, dari surat berbeda, dari periode pewahyuan yang berbeda pula, dan semuanya merujuk pada tindakan yang sama: membentangkan sesuatu hingga rata.
Kata-kata itu tidak mendua dalam bahasa Arab. Semuanya punya arti teknis yang pasti, dan arti teknisnya datar.
Argumen yang biasa muncul: Al-Qur'an sedang bicara soal apa yang dirasakan orang yang berdiri di permukaan bumi, bukan soal bentuk bumi sebagai satu benda. Argumen itu goyah begitu ayatnya dibaca utuh. Ayat-ayat ini tidak menggambarkan pengalaman seorang pejalan kaki. Ayat-ayat ini bercerita tentang bagaimana Allah menciptakan dan menata bumi untuk manusia. Ukurannya ukuran Allah, bukan ukuran orang yang sedang menyusuri padang pasir.
Pengakuan dari dalam
Pilihan katanya baru jadi persoalan besar begitu kita lihat bagaimana para mufasir terkemuka dalam tradisi Islam membacanya.
Tafsir al-Jalalayn ditulis oleh dua ulama: Jalaluddin al-Mahalli yang wafat tahun 1459 M, dan muridnya Jalaluddin as-Suyuthi yang wafat tahun 1505 M. Tafsir ini ringkas, padat, dan sampai hari ini dipakai sebagai kitab pengantar tafsir di banyak pesantren. Ketika membahas sutihat di Al-Ghasyiyah 88:20, mereka menulis: "Ini secara literal menunjukkan bahwa bumi itu datar, yang merupakan pendapat mayoritas ulama syariat, dan bukan berbentuk bola seperti yang diklaim para astronom."
Kalimat terakhir itu yang penting. Mereka tidak menulisnya dalam ruang kosong. Mereka tahu ada klaim lain.
Pengetahuan tentang bumi yang berbentuk bola sudah ada di dunia Islam jauh sebelum al-Jalalayn lahir. Gerakan penerjemahan besar-besaran di era Abbasiyah pada abad ke-8 sampai ke-10 M membawa naskah Ptolemy, Aristoteles, dan astronom Yunani lain ke dalam bahasa Arab. Para ilmuwan Muslim tidak berhenti di menerjemahkan. Al-Biruni pada abad ke-11 M menghitung keliling bumi dengan trigonometri, dan hasilnya tidak jauh dari angka yang sebenarnya. Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, al-Farabi, semuanya tahu bumi bulat.
Ketika al-Jalalayn menulis tafsirnya empat abad setelah al-Biruni, mereka duduk di tengah tradisi keilmuan yang sudah lama mengenal bumi bulat. Mereka tetap memilih bacaan harfiah. Bukan karena tidak tahu, tapi karena itu yang mereka baca di dalam Al-Qur'an.
Ketika aturannya mentok
Masalah yang ditimbulkan kosmologi ini tidak berhenti di ruang teologi. Masalahnya menempel ke hukum yang dijalankan orang setiap hari.
Al-Baqarah 2:187 menetapkan batas waktu puasa dengan rumus yang tampak sederhana: dari terbit sampai terbenam matahari. Rumus itu jelas, tidak mendua, dan jalan mulus di Semenanjung Arab. Di lintang sekitar 21 derajat utara tempat Mekah berada, matahari terbit dan terbenam setiap hari, dan panjang siangnya berubah dalam batas yang masih wajar.
Di Aberdeen, Skotlandia, jarak antara Isya dan Subuh pada bulan Juni hanya sekitar empat setengah jam. Orang yang mengikuti batas waktu seperti tertulis harus bangun pukul setengah empat dini hari untuk Subuh, lalu menjalani seharian penuh tanpa makan dan minum. Berat, tapi masih bisa dijalani.
Di lingkaran kutub, keadaannya lain sama sekali. Berminggu-minggu di musim panas matahari tidak pernah terbenam. Berminggu-minggu di musim dingin matahari tidak pernah terbit. Syarat untuk menjalankan perintahnya tidak ada. Tidak ada saat terbit, tidak ada saat terbenam.
Para ulama sekarang menawarkan bermacam jalan keluar: pakai waktu kota terdekat yang mataharinya masih terbit dan terbenam, pakai waktu Mekah, atau bagi 24 jam mengikuti perbandingan siang dan malam di Madinah. Semuanya masuk akal sebagai penyesuaian di lapangan. Tapi semuanya dibuat sesudah bentuk buminya diketahui dan masalahnya muncul. Tidak satu pun ada di dalam Al-Qur'an, karena Al-Qur'an tidak membayangkan ada manusia yang tinggal di tempat seperti itu.
Hal yang sama berlaku untuk kiblat. Al-Baqarah 2:149 memerintahkan menghadap Ka'bah dalam shalat, fa walli wajhaka shatra al-masjid al-haram. Di sebagian besar dunia, perintah itu punya jawaban yang jelas: ada satu arah yang bisa ditentukan dengan kompas atau hitungan. Tapi di titik antipode Mekah, satu titik di Pasifik Selatan antara Selandia Baru dan ujung selatan Amerika, semua arah kompas sekaligus mengarah ke Ka'bah dan membelakanginya. Tidak ada jawaban yang bisa diberikan, karena di permukaan bola soal itu memang tidak punya jawaban.
Aturan-aturan itu jalan sempurna di dunia yang buminya datar dan Ka'bah berada di tengahnya. Di dunia seperti itu tidak ada kutub, tidak ada antipode, tidak ada satu titik pun yang arah kiblatnya jadi mustahil ditentukan. Perintahnya dibuat untuk dunia itu.
Sampai ke tempat matahari terbenam
Al-Kahfi menceritakan kisah Dzulqarnain, seorang penguasa besar yang menempuh perjalanan ke tiga penjuru: barat, timur, dan antara keduanya. Perjalanan pertamanya ke barat berakhir di satu titik yang digambarkan sangat rinci.
Al-Kahfi 18:86: "Hingga ketika ia mencapai tempat matahari terbenam (maghrib ash-shams), ia mendapatinya terbenam di mata air berlumpur panas (fi 'aynin hamiatun)."
Al-Qur'an tidak mengatakan Dzulqarnain melihat matahari terbenam di cakrawala dari kejauhan. Al-Qur'an mengatakan ia mencapai tempat matahari terbenam, dan di sana ia mendapati matahari itu terbenam ke dalam mata air berlumpur panas. Ada tempat nyata yang dia tuju. Ada sesuatu yang dia temukan di sana: sebuah mata air, dan ke dalam mata air itu matahari turun.
Cara paling umum untuk menyelamatkan ayat ini adalah membacanya sebagai apa yang tampak dari mata Dzulqarnain, bukan keterangan tentang alam semesta. Dia cuma melihat matahari seolah tenggelam ke lautan waktu senja, kata penjelasan itu, sama seperti yang dilihat siapa pun yang berdiri di pantai.
Tapi ayatnya sendiri tidak mendukung pembacaan itu. Kata yang dipakai bukan "sepertinya" atau "seolah-olah." Dan Dzulqarnain tidak sekadar menonton senja dari pantai. Dia mencapai titik itu. Dia sampai ke sana. Al-Qur'an menempatkannya sebagai orang yang berhasil menempuh perjalanan sampai ke ujung barat dunia, dan di ujung itu ada mata air panas berlumpur, dan ke dalamnya matahari terbenam.
Di sana ada Dzulqarnain. Di sana ada mata airnya. Dan di sana matahari turun.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.
Bacaan selanjutnya
Artikel 04 · Al-An'am 6:19 · Yunus 10:37 · 10 menit
Waraqah bin Naufal dan Asal-Usul Wahyu
Orang pertama yang membenarkan pengalaman Muhammad adalah sepupu istrinya, seorang pendeta Kristen yang hafal kitab suci Ibrani. Siapa yang sebenarnya membentuk cerita awal Islam bukan pertanyaan yang mudah dijawab.
Artikel 34 · Ta Ha 20:20 · Al-Anbiya 21:87 · 9 menit
Tongkat, Ikan, dan Kulit yang Berbicara
Dua surah menyebut tongkat Musa dengan kata berbeda untuk peristiwa yang sama, dan hanya satu yang mencatat Musa ketakutan. Yunus berdoa dari dalam perut ikan dengan kalimat teologis yang tersusun rapi. Kulit bersaksi melawan kehendak pemiliknya di hari kiamat.