← Artikel

Al-Baqarah 2:173 · Al-Maidah 5:3  ·  7 menit

Babi Matang, Kencing Unta, dan Standar yang Tidak Konsisten

Al-Quran melarang babi atas nama kebersihan. Hadis sahih menganjurkan urin unta sebagai obat. Secara medis, yang dilarang lebih aman dari yang dianjurkan.

Ilustrasi editorial botol cairan amber di depan kandang unta

Ketika seseorang mempertanyakan larangan babi dalam Islam, ada jawaban yang hampir selalu muncul: babi itu kotor, bawa parasit, Allah tahu yang terbaik untuk kesehatan manusia. Argumen ini punya dasar historis yang masuk akal — di zaman tanpa refrigerator dan inspeksi veteriner, daging babi yang kurang matang memang bisa bermasalah.

Tapi kemudian ada Sahih Bukhari 5686 dan Sahih Muslim 1671. Dua koleksi hadis paling otoritatif dalam Islam. Keduanya mencatat hal yang sama: Muhammad menyuruh sekelompok orang yang sakit untuk meminum campuran air kencing dan susu unta.

Kencing unta. Sebagai obat.

Yang dilarang vs. yang dianjurkan

Al-Baqarah 2:173 melarang bangkai, darah, daging babi, dan hewan yang disembelih bukan atas nama Allah. Al-Maidah 5:3 menegaskan hal yang sama. Larangan ini jelas, dan alasan yang paling sering dikemukakan adalah kesehatan: babi kotor, berbahaya, perlu dihindari.

Sekarang bandingkan dua hal ini secara medis, bukan secara teologis.

Daging babi yang dimasak matang: Trichinella spiralis, parasit yang paling sering dikutip sebagai alasan larangan, mati pada suhu 58°C. Bakteri berbahaya mati sebelum itu. WHO tidak punya larangan untuk daging babi matang. Miliaran orang mengonsumsinya setiap hari tanpa insiden.

Urin unta mentah: mengandung E. coli, Salmonella, dan yang paling serius, MERS-CoV. MERS (Middle East Respiratory Syndrome) adalah virus corona dengan angka kematian sekitar 35 persen — jauh lebih tinggi dari Covid-19. WHO secara eksplisit memperingatkan orang untuk tidak mengonsumsi urin atau produk unta yang tidak dipasteurisasi. Bukan opini, ini kebijakan kesehatan resmi yang lahir dari wabah nyata.

Situasinya sederhana: yang dilarang lebih aman dari yang dianjurkan.

Masalah dengan argumen "hikmah medis"

Kalau alasan larangan babi adalah kesehatan, standar yang sama seharusnya berlaku ke urin unta. Sesuatu yang lebih berbahaya seharusnya dilarang lebih keras, bukan malah direkomendasikan sebagai terapi.

Ada beberapa cara untuk merespons ini, dan masing-masing punya konsekuensinya sendiri.

Cara pertama: akui bahwa rekomendasi kencing unta adalah kesalahan Muhammad. Ini mengakui bahwa Muhammad bisa keliru dalam soal medis — lalu pertanyaannya adalah bagian mana lain dari ajarannya yang mungkin juga keliru.

Cara kedua: larangan babi bukan soal kesehatan, tapi soal ketaatan murni pada perintah Allah. Kalau ini yang dimaksud, seluruh bangunan apologetik "hikmah medis Islam" runtuh. Karena jika larangan itu bukan tentang kesehatan, maka argumentasi kesehatannya tidak berlaku dari awal.

Cara ketiga: ada hikmah yang belum kita ketahui untuk kencing unta. Mungkin saja. Tapi posisi ini meminta kita menunggu penjelasan yang belum datang sambil mengabaikan data medis yang sudah ada — data dari organisasi yang justru muncul karena kematian-kematian nyata akibat MERS.

Klaim wahyu yang memperumit segalanya

An-Najm 53:3-4 menyatakan Muhammad tidak berbicara dari keinginan sendiri — semua yang dia ucapkan adalah wahyu. Kalau itu benar, rekomendasi kencing unta juga termasuk. Bukan kekeliruan manusia biasa yang bisa dimaklumi, tapi bagian dari sistem ajaran yang diklaim bersumber dari Allah.

Dan di sisi lain, Allah yang sama ini di At-Taubah 9:108 menyatakan menyukai mereka yang mensucikan diri. Kebersihan sebagai prinsip. Tapi prinsip itu tampak tidak diterapkan secara konsisten ketika yang direkomendasikan adalah produk limbah dari hewan.

Yang membuat ini lebih menarik: pertanyaan ini jarang muncul secara terbuka. Hadis kencing unta ada di Bukhari dan Muslim — dua kitab yang dihafalkan jutaan santri di seluruh dunia. Tapi ia hampir tidak pernah disandingkan dengan diskusi larangan babi, padahal keduanya bicara soal hal yang sama: apa yang boleh dan tidak boleh masuk ke dalam tubuh.

Pilihan standar mana yang dipakai seharusnya tidak bergantung pada apa yang ingin dibuktikan.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria

Bacaan selanjutnya