As-Saffat 37:107 · Al-Hajj 22:37 · 12 menit
Siapa yang Hampir Disembelih Ibrahim?
Al-Qur'an tidak menyebut nama anak itu. Para sahabat terdekat Nabi tidak sepakat siapa. Dan ayat yang paling sering dikutip soal kurban justru mengatakan dagingnya tidak sampai kepada Allah.

Sebentar lagi Idul Adha. Hewan-hewan akan disembelih atas nama peristiwa yang kata Al-Qur'an melibatkan Ibrahim dan anaknya.
Anaknya yang mana?
As-Saffat 37:102 hanya menyebut ya bunayya, wahai anakku. Tidak ada nama. Dan karena seluruh ritual ini berdiri di atas klaim bahwa ritual itu mengulang satu peristiwa tertentu yang melibatkan orang tertentu, hilangnya nama itu bukan detail kecil.
Para sahabat senior Nabi tidak sepakat soal ini.
Umar ibn Khattab, Ali ibn Abi Thalib, Abdullah ibn Mas'ud, Al-Abbas, keempatnya berpendapat anak yang dimaksud adalah Ishaq. Abdullah ibn Umar berpendapat Ismail. Imam As-Sa'labi mencatat perdebatan ini di tafsirnya tanpa kesimpulan.
Orang-orang ini mendengar langsung dari Muhammad. Mereka hadir saat tradisi itu dibentuk. Mereka tidak sepakat soal siapa yang hampir disembelih dalam kisah yang menjadi dasar ritual yang diulang tiap tahun oleh lebih dari satu miliar orang.
Ketidakjelasan itu berlanjut ke ayat berikutnya. As-Saffat 37:107 menyebut Allah menggantikan sang anak dengan dzibhin azhim, sembelihan yang besar. Kata azhim berarti agung atau besar. Tapi Al-Qur'an tidak menyebutkan jenis hewannya, tidak menjelaskan dari mana asalnya, tidak menceritakan bagaimana Ibrahim menemukannya.
Sebagai perbandingan, Kejadian 22:13 dalam Alkitab jauh lebih jelas: seekor domba jantan yang tanduknya tersangkut di semak belukar, ditemukan Abraham sendiri di belakangnya. Ada hewannya, ada keadaannya, ada cara menemukannya. Ceritanya sama, tapi versi Alkitab memberi cukup detail untuk dibayangkan pembacanya.
Versi Al-Qur'an menyisakan pertanyaan yang tidak dijawab, lalu umat Islam hari ini menyembelih kambing dan sapi atas nama "sembelihan yang besar" itu, tanpa penjelasan di Al-Qur'an kenapa kambing atau sapi yang dimaksud.
Kitab yang lengkap, tapi butuh penjelasan dari luar
An-Nahl 16:89 menyebut Al-Qur'an sebagai tibyaanan likulli syai, penjelasan bagi segala sesuatu. Al-An'am 6:114 menyebutnya mufasshal, terperinci. Tapi untuk memahami kisah Ibrahim saja, pembaca harus keluar dari kitab ini dan membuka tafsir ulama, hadis, kisah-kisah Israeliyat, bahkan Alkitab.
Kalau Al-Qur'an memang terperinci dan lengkap, kenapa justru sumber dari luar yang mengisi kekosongan itu?
Ada ayat yang menjawab pertanyaan ini secara tidak langsung, dan jawabannya tidak melegakan. Al-Maidah 5:101 mengatakan: "Janganlah kamu menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu." Ayat itu ada, tertulis, dan jelas-jelas menyuruh berhenti menggali. Untuk sebuah kitab yang mengaku menjelaskan segala sesuatu, itu lampu merah buat orang yang bertanya, bukan undangan untuk berpikir.
Dagingnya tidak sampai
Al-Hajj 22:37 mengatakan: "Daging-daging unta dan darahnya sekali-kali tidak dapat mencapai keridhaan Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya."
Bunyinya jelas. Hasil fisik dari penyembelihan itu tidak sampai kepada Allah. Yang sampai adalah takwa.
Kalau begitu, mengapa tidak cukup sedekah?
Uang yang dipakai membeli hewan kurban, kalau langsung diberikan kepada yang membutuhkan, jauh lebih hemat tenaga. Tidak perlu tempat penyembelihan, tidak ada risiko daging menumpuk di satu tempat dan kosong di tempat lain, tidak bergantung pada sanggup tidaknya panitia kurban mengurus semuanya. Dan menurut ayat itu sendiri, takwa yang ditunjukkan lewat jalan itu sama sahnya.
Di lapangan keadaannya juga begitu. Daging kurban sering berlebih di satu tempat dan kurang di tempat lain. Pembagian yang tidak merata membuat sebagian daging terbuang sementara sebagian kampung tidak kebagian. Bantuan yang datang setahun sekali tidak menyelesaikan kemiskinan yang ada 365 hari. Kalau tujuannya menolong yang miskin, ritual ini jalan yang sangat memutar.
22:37 seperti mempertanyakan gunanya ritual itu sendiri, lalu surahnya berlanjut seolah tidak terjadi apa-apa.
Cara dua tradisi menangani kisah yang sama
Tradisi Kristen menangani kisah yang sama dengan cara berbeda. Pengorbanan Ibrahim dibaca sebagai bayangan awal dari pengorbanan Yesus, satu cerita yang dibangun menuju satu titik terakhir, sehingga ritualnya tidak perlu diulang. Sebagai cerita, susunannya lebih mudah diikuti: namanya disebut, latarnya nyambung, dan ada penjelasan kenapa kisahnya tidak perlu diulang tiap tahun.
Mana yang lebih benar secara sejarah tidak sedang dinilai di sini. Alkitab punya masalah catatan dan penanggalannya sendiri yang tidak kalah rumit. Yang berbeda cuma cara dua tradisi memperlakukan kisah yang sama, dan akibat yang muncul dari perbedaan itu. Tradisi yang memilih menutup ceritanya sekali untuk selamanya tidak perlu membangun ritual tahunan di atas kisah yang tokoh utamanya saja masih diperdebatkan.
Sebelum Ibrahim ada di sana
Penyembelihan hewan di sekitar Kaaba sudah berlangsung sebelum Muhammad lahir. Suku Quraish melakukannya sebagai persembahan kepada Hubal dan dewa-dewa Arab lain. Ibn Hisham mencatatnya dalam Sirah Nabawiyah. Tempatnya, waktunya, tata caranya, semuanya sudah ada.
Islam memberi kisah Ibrahim sebagai asal-usulnya. Apakah itu penyusunan ulang sejarah yang tepat atau pengesahan teologis untuk praktik yang sudah berjalan, jawabannya tidak ada di dalam kitab.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.
Bacaan selanjutnya
Artikel 28 · Yusuf 12:3 · Yusuf 12:31 · 11 menit
Dari Mana Datangnya Pisau Itu?
Yusuf 12:31 menceritakan para wanita yang mengiris tangan karena terpesona Yusuf. Adegan itu tidak ada di Kitab Kejadian. Tapi ada di Bereshit Rabbah, kumpulan legenda Yahudi abad ke-5. Al-Qur'an menyebut kisah ini ahsanal qasas, kisah yang paling baik.
Artikel 27 · Al-Anfal 8:1 · Al-Anfal 8:41 · 8 menit
Seperlima untuk Allah, Empat Perlima untuk Kalian
Al-Anfal 8:1 menyatakan ghanimah milik Allah dan Rasul sepenuhnya. Al-Anfal 8:41, beberapa puluh ayat kemudian, membagi empat perlima untuk pejuang. Sistem seperlima itu sudah ada sebelum Islam, dalam tradisi Arab pra-Islam disebut mirbā'. Yang berubah bukan angkanya.