← Artikel

Al-Kahf 18:83–98  ·  8 menit

Dzulqarnain dan Teks yang Sudah Ada Sebelumnya

Orang Yahudi menguji Muhammad dengan satu pertanyaan: ceritakan Dzulqarnain. Jawabannya ada di Al-Kahf. Masalahnya — jawaban itu bukan milik Muhammad seorang.

Ilustrasi editorial medali kuno di atas latar kain gelap

Orang Yahudi di Madinah punya cara untuk menguji Muhammad. Salah satunya: tanyakan sesuatu yang mereka sudah tahu jawabannya. Kalau jawabannya tepat, mungkin dia memang nabi. Kalau tidak — atau kalau jawabannya terasa terlalu akrab — itu cerita lain.

Pertanyaan tentang Dzulqarnain masuk kategori itu. Al-Kahf 18:83 sendiri mengakui ini: "Mereka bertanya kepadamu tentang Dzulqarnain." Artinya cerita sudah beredar sebelum ayat ini turun. Orang-orang yang bertanya tahu kerangkanya. Mereka ingin lihat versi mana yang Muhammad pegang.

Versi yang muncul di ayat 83–98 terasa sangat dekat dengan naskah Syriac yang sudah ada. Terlalu dekat untuk diabaikan.

Siapa Dzulqarnain?

Ini pertanyaan yang belum selesai dijawab oleh ulama Islam sendiri — dan itu sudah menjadi masalah pertama. Kalau ini wahyu dari Tuhan yang Maha Tahu, seharusnya tidak ada perdebatan soal identitas tokoh yang baru saja diceritakan-Nya.

Mayoritas ulama klasik menyebut Dzulqarnain sebagai Alexander Agung (Aleksandros dari Makedonia). Alasannya tidak mengada-ada: koin Alexander memang menggambarkan dia dengan tanduk — simbol keturunan Zeus-Ammon. Julukan "bertanduk dua" sudah dikenal dalam tradisi Syriac dan Arab jauh sebelum Islam.

Tapi Alexander adalah penyembah berhala yang membantai puluhan ribu orang dalam ekspedisi militernya. Bagaimana Quran bisa memuji dia sebagai hamba Allah yang bertaqwa?

Ulama modern tidak bisa menerima itu. Maulana Abul Kalam Azad lalu mengajukan Cyrus Agung dari Persia — lebih "saleh", lebih toleran, lebih dapat diterima secara teologis. Tapi tidak ada satu pun bukti arkeologi yang menghubungkan Cyrus dengan julukan "bertanduk dua". Relief di Pasargadae yang sering dikutip sebagai bukti? Itu figur pelindung standar dalam arsitektur Persia — bukan potret Cyrus.

Jadi ada dua kandidat. Keduanya bermasalah. Dan Quran tidak memberikan cukup petunjuk untuk memutuskan yang mana.

Teks yang mendahului

Syriac Alexander Legend menceritakan perjalanan seorang raja ke timur dan barat, matahari terbenam di lautan gelap, pembangunan tembok untuk menahan Gog dan Magog, dan sang raja yang digambarkan saleh dan bertaqwa.

Kerangka narasi ini sudah ada jauh sebelum Al-Kahf dikompilasi. Mar Jacob dari Sěrûgh, teolog Kristen Syriac yang hidup 451–521 M, sudah menulis versi puitis tentang Alexander membangun tembok Gog-Magog lebih dari satu abad sebelumnya. Bukan cerita yang kebetulan muncul bersamaan — ini tradisi yang panjang, beredar di komunitas Kristen Syriac di wilayah yang sama.

Al-Kahf 18:83–98 menceritakan hal yang persis sama, beat by beat.

Kesamaannya bukan samar-samar. Strukturnya identik. Termasuk satu detail yang secara sains mustahil: ayat 86 menyebut Dzulqarnain menemukan matahari terbenam "di mata air yang berlumpur."

"Hingga apabila dia telah sampai di tempat terbenamnya matahari, dia mendapati (matahari) terbenam di dalam mata air yang berlumpur hitam."

Dalam naskah Syriac aslinya deskripsinya lebih spesifik: lautan berbau busuk di ujung samudra, teksturnya digambarkan "seperti nanah." Detail itu berubah dalam transmisi — dari laut berbau busuk menjadi mata air berlumpur — tapi asal-usulnya dari sumber yang sama. Dan kesalahan kosmologisnya diwarisi utuh: matahari yang terbenam di dalam badan air, dalam bentuk apapun, tidak mencerminkan cara kerja alam semesta.

Kalau ini wahyu, mengapa ia mewarisi kesalahan kosmologi dari naskah manusia sebelumnya?

Pengakuan yang terpendam di dalam kitab

Ada detail yang sering luput: Quran sendiri menyebut bahwa kisah ini turun sebagai respons atas pertanyaan — "mereka bertanya kepadamu tentang Dzulqarnain". Ini berarti cerita sudah beredar di kalangan Yahudi dan Kristen Arab sebelum ada "wahyu". Muhammad ditantang untuk menjawab sesuatu yang lawan bicaranya sudah kenal.

Dan jawaban yang diberikan identik dengan naskah yang sudah ada di tangan mereka.

Ada pula hadis yang mencatat Muhammad sendiri ragu apakah Dzulqarnain itu nabi atau bukan. Ini ganjil. Kalau Tuhan yang mewahyukan kisah ini, mengapa nabinya tidak tahu status tokoh yang baru saja dikisahkan Tuhan kepadanya?

Tembok yang tidak ada

Ayat 92–98 mendeskripsikan Dzulqarnain membangun tembok dari besi dan tembaga untuk mengurung Ya'juj dan Ma'juj (Gog dan Magog). Tembok ini — menurut Quran — masih ada sampai Hari Kiamat tiba.

"Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya."

Tidak ada tembok seperti itu. Para arkeolog sudah menelusuri semua kandidat — Tembok Besar China, Benteng Derbent di Kaukasus, berbagai konstruksi Persia dan Romawi. Tidak ada yang cocok: bukan bahannya, bukan lokasinya, bukan skalanya, bukan fungsinya.

Tembok itu ada dalam naskah Syriac. Tidak ada di tanah.

Apa yang tersisa

Kisah Dzulqarnain punya tiga masalah yang susah diabaikan secara bersamaan.

Pertama, identitas tokohnya tidak jelas — dan ketidakjelasan itu tidak seharusnya ada kalau ini benar wahyu ilahi.

Kedua, strukturnya identik dengan naskah Kristen berbahasa Syriac yang sudah beredar sebelumnya. Bukan mirip — identik. Termasuk detail yang salah secara sains.

Ketiga, Muhammad sendiri tampak tidak yakin dengan detail cerita ini, termasuk status tokoh yang katanya baru saja diwahyukan kepadanya.

Ulama modern terus berusaha menambal ini. Tapi setiap teori baru membuka pertanyaan yang tidak lebih kecil dari sebelumnya. Musa Cerantonio — seorang mualaf Australia yang mahir membaca naskah Aramaic — akhirnya meninggalkan Islam setelah membandingkan Alexander Romance dengan Quran secara langsung. Bukan karena emosi, tapi karena naskah-naskahnya terlalu identik untuk disebut kebetulan.

Pertanyaan yang tersisa sederhana: kalau wahyu tidak bisa membedakan antara seorang pagan penyembah berhala dengan tokoh saleh yang fiktif, apa yang membuat kita yakin bagian lainnya berbeda?

Orang Yahudi yang mengajukan pertanyaan itu mungkin sudah tahu jawabannya sejak awal.

Naskah Syriac yang menjadi dasar perbandingan di artikel ini tersedia untuk dibaca. Hubungi kami kalau ingin salinannya.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria

Bacaan selanjutnya