Ayat 1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ
Apabila matahari digulung,


Surat 81
التكوير
Penggulungan, terdiri dari 29 ayat dan turun di Makkah.
Dalam urutan turunnya wahyu, surat ini turun ke-7 setelah Al-Lahab sebelum Al-A'la.
Matahari digulung dan astronomi kanak-kanak. Matahari digulung seperti kain: Ayat 1 gambarin matahari yang "digulung" seperti lembaran kain atau gulungan kertas—konsepsi astronomi yang absurd secara ilmiah. Pemahaman naif ini bayanginn matahari sebagai objek kecil yang bisa dimanipulasi secara fisik, bukan bola gas raksasa. Model kosmologi kanak-kanak ini ungkapin keterbatasan pemahaman manusia abad ke-7 tentang benda langit, bukan wawasan dari pencipta alam semesta. Teror apokaliptik berlebihan: Lebih dari separuh surat ini (ayat 1-14) didedikasiin buat gambaran kehancuran kosmik yang dramatis—bintang yang "berjatuhan", gunung yang "dihancurkan", dan lautan yang "digoncangkan". Narasi kataklismik berlebihan ini pake ketakutan primitif buat paksa kepatuhan. Pake teror psikologis daripada argumen rasional nunjukin teks yang dirancang manusia buat intimidasi daripada pencerahan. Respons lemah terhadap pembunuhan bayi perempuan: Ayat 8-9 nyinggung praktik penguburan bayi perempuan hidup-hidup, tapi gagal ngutuknya secara eksplisit atau tetapin hukuman tegas buat pelakunya. Respons lemah terhadap kekejaman ekstrem ini cerminiin nilai patriarkal Arab yang pandang perempuan sebagai beban ekonomi. Ketidakmampuan buat ngutuk praktik ini secara kategoris nunjukin teks yang terikat dan berkompromi dengan norma budaya lokal yang misoginis. Sumpah astronomis keliru: Ayat 15-18 bersumpah demi "bintang-bintang yang beredar dan terbenam" dan "malam ketika telah hampir meresap"—konsep astronomis yang nggak masuk akal. Sumpah berbasis fenomena alam yang dipahami secara keliru ini ungkapin keterbatasan pengetahuan manusia abad ke-7. Pake metafora kosmos yang salah secara ilmiah ini jelas nunjukin asal-usul teks dari imajinasi manusia pra-sains, bukan dari pencipta hukum fisika sebenarnya. Kesimpulan: At-Takwir mengekspos konsepsi astronomis primitif yang membayangkan matahari sebagai objek yang bisa "digulung", ketergantungan pada teror apokaliptik, respons lemah terhadap praktik misoginis, dan sumpah berbasis pemahaman keliru tentang fenomena alam—menunjukkan karakternya sebagai produk imajinasi manusia pra-sains yang terbatas oleh norma budaya patriarkal.
Ayat 1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ
Apabila matahari digulung,
Ayat 2
وَإِذَا النُّجُومُ انْكَدَرَتْ
dan apabila bintang-bintang berjatuhan,
Ayat 3
وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ
dan apabila gunung-gunung dihancurkan,
Ayat 4
وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ
dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak terurus),
Ayat 5
وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ
dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan,
Ayat 6
وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ
dan apabila lautan dipanaskan,
Ayat 22
وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُونٍ
Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah orang gila.
Ayat 23
وَلَقَدْ رَآهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِينِ
Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (Jibril) di ufuk yang terang.
Ayat 24
وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِينٍ
Dan Dia (Muhammad) bukanlah seorang yang kikir (enggan) untuk menerangkan yang gaib.
Ayat 26
فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ
maka ke manakah kamu akan pergi?899)
Catatan Depag
*899) Setelah diterangkan bahwa Al-Qur`an itu benar-benar datang dari Allah, dan di dalamnya ada pelajaran dan petunjuk yang memimpin manusia ke jalan yang lurus, ditanyakanlah kepada orang-orang kafir itu, "Jalan manakah yang akan kamu tempuh lagi?"
Ayat 27
إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ
(Al-Qur`an) itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam,
Ayat 28
لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ
Ayat 10
Ayat 25
Ayat 29
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun untuk membantah ucapan Abu Jahal. Saat turun ayat "Bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus", Abu Jahal dengan sombong berkata bahwa semua itu terserah kehendak manusia sendiri semata. Allah membalas dengan ayat ini, menegaskan bahwa kehendak manusia tidak akan terjadi kecuali dengan kehendak Allah.