Ayat 1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى
Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi,


Surat 87
الأعلى
Maha Tinggi, terdiri dari 19 ayat dan turun di Makkah.
Dalam urutan turunnya wahyu, surat ini turun ke-8 setelah At-Takwir sebelum Al-Lail.
Kitab suci fiktif dan pencurian sejarah. Bikin kitab suci palsu: Nyebut "suhuf Ibrahim dan Musa" yang nggak pernah ada dalam tradisi Yahudi, Kristen, atau catatan sejarah manapun. Nggak ada bukti arkeologis, naskah, atau referensi historis tentang kedua teks ini. Ini taktik klasik agama baru: bikin referensi palsu ke figur suci yang nggak bisa diverifikasi buat bangun otoritas instant. Revisi sejarah monoteisme: Coba bikin silsilah wahyu alternatif yang bypass tradisi Yahudi-Kristen tanpa basis historis valid. Ngeklaim Ibrahim dan Musa nerima teks yang sama kayak Al-Quran padahal cuma strategi buat marginalisasi tradisi yang udah ada dan ciptain ilusi kontinuitas langsung dengan patriark kuno. Referensi kosong tanpa isi: Nyebut "lembaran-lembaran" Ibrahim dan Musa tapi nggak kasih konten spesifik dari teks tersebut. Kalau beneran punya akses ke teks kuno itu, kenapa nggak dikutip isinya? Absennya detail konkret nunjukin ini cuma alat retoris kosong, bukan pengetahuan aktual tentang dokumen yang pernah eksis. Nyolong figur Yahudi: Ambil alih Ibrahim dan Musa tanpa peduli gimana figur ini dipahami dalam tradisi asli mereka. Abaikan total ratusan tahun tradisi interpretasi Yahudi dan cocok-cocokin paksa ke narasi Arab abad ke-7. Ini apropriasi budaya buat legitimasi tradisi baru dengan mengorbankan akurasi sejarah. Kesimpulan: Al-A'la mengekspos strategi fabrikasi referensi historis palsu dan apropriasi figur-figur Yahudi untuk membangun legitimasi agama baru melalui revisionisme teologis yang mengabaikan bukti sejarah dan menghancurkan integritas tradisi yang sudah mapan.
Ayat 1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى
Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi,
Ayat 2
الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ
yang menciptakan, lalu menyempurnakan (penciptaan-Nya),
Ayat 3
وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ
yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk,
Ayat 4
وَالَّذِي أَخْرَجَ الْمَرْعَىٰ
dan Yang menumbuhkan rerumputan,
Ayat 5
فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَىٰ
lalu dijadikan-Nya (rumput-rumput) itu kering kehitam-hitaman.
Ayat 12
الَّذِي يَصْلَى النَّارَ الْكُبْرَىٰ
(yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka),
Ayat 13
ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَىٰ
selanjutnya dia di sana tidak mati dan tidak (pula) hidup.