← Artikel

Al-Masad 111:1 · Asy-Syu'ara 26:214  ·  8 menit

Nama di Dalam Api

Shahih Bukhari 4971 mencatat urutan yang spesifik: Abu Lahab menolak Muhammad di bukit Safa, lalu wahyu turun sebagai respons. Dari sekian banyak musuh Muhammad, hanya satu yang dikutuk dengan namanya dalam Al-Quran. Paman kandungnya sendiri.

Ilustrasi editorial Abu Lahab dan istrinya di dekat api dengan kayu bakar dan tali sabut

Surah ke-111 terdiri dari lima ayat. Ia adalah satu-satunya tempat dalam Al-Quran di mana seseorang dikutuk langsung dengan namanya:

"Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia! Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Di lehernya ada tali dari sabut."

Orang itu adalah Abd al-'Uzza bin Abd al-Muttalib, paman kandung Muhammad. Tapi Al-Quran menyebutnya dengan julukannya: Abu Lahab, bapak api.

Yang tercatat di Bukhari

Shahih Bukhari 4971 memuat riwayat dari Ibn Abbas tentang bagaimana surah ini turun.

Setelah turun Al-Shu'ara 26:214, "Dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat," Muhammad naik ke bukit Safa dan memanggil seluruh klan Quraisy. Mereka berkumpul. Muhammad bertanya: kalau aku bilang ada pasukan berkuda di balik bukit ini yang hendak menyerang kalian, kalian percaya?

Mereka menjawab: ya, karena kami tidak pernah mendapatimu berdusta.

Lalu Muhammad menyampaikan peringatannya tentang azab. Abu Lahab berdiri dan berkata: Tabban laka! Alihadzā jama'tanā? Celakalah engkau. Untuk inikah engkau mengumpulkan kami?

"Maka turunlah ayat: 'Celakalah kedua tangan Abu Lahab.'"

Urutan itu dicatat dengan sangat spesifik di dalam koleksi hadis yang paling dipercaya dalam tradisi Sunni. Penolakan terjadi. Lalu wahyu turun sebagai respons.

Satu-satunya nama

Al-Quran punya banyak musuh yang disebutkan dalam Al-Quran. Abu Jahl, salah satu penentang paling keras yang ikut memimpin pasukan Quraisy di Badar, tidak pernah disebut namanya dalam satu ayat pun. Para pemimpin yang memboikot Muhammad selama tiga tahun di Shi'b Abi Talib juga tidak. Kaum munafik di Madinah yang dicurigai Muhammad mendapat banyak ayat tersendiri, tapi identitasnya tidak pernah dikonfirmasi langsung oleh Al-Quran.

Hanya satu orang yang dikutuk dengan nama.

Bukan orang asing. Paman kandung. Yang penolakannya bukan di medan perang atau di balik tembok, tapi di depan muka seluruh keluarga besar, di bukit Safa, di tengah suku sendiri.

Abu Lahab juga melakukan hal-hal lain yang lebih berbahaya secara strategis. Menurut riwayat dalam Tafsir Ibn Kathir, ia memerintahkan dua putranya untuk menceraikan putri-putri Muhammad, Ruqayyah dan Umm Kulthum, setelah dakwah dimulai. Ia mengikuti Muhammad ke pasar Dhul-Majaz dan berteriak kepada kerumunan: jangan dengarkan dia, dia pembohong. Kampanye itu jauh lebih merusak dari sekadar menolak di satu pertemuan keluarga.

Al-Quran memang menyatakan di tempat lain bahwa keimanan harus melampaui ikatan darah, bahwa seorang mukmin tidak akan berpihak pada mereka yang menentang Allah meski mereka ayah, anak, atau saudara kandung sendiri (Q 58:22). Tapi menetapkan nama seseorang dalam wahyu, sebagai individu spesifik yang sudah dikutuk secara ilahi, adalah sesuatu yang berbeda dari prinsip umum itu.

Tapi bukan kampanye pasar itu yang menghasilkan surah.

Istrinya ikut dikutuk

Ummu Jamil, istri Abu Lahab, adalah saudara perempuan Abu Sufyan. Ia disebut dalam surah yang sama: pembawa kayu bakar, dengan tali sabut di lehernya.

Menurut Tafsir Al-Qurthubi dan Ibn Kathir, Ummu Jamil sering meletakkan duri di jalan yang biasa dilalui Muhammad. Ia punya kalung berharga dan dilaporkan pernah berkata: aku akan menjual ini dan menggunakan hasilnya untuk melawan Muhammad.

Dalam tradisi penafsiran, "pembawa kayu bakar" dibaca dua cara: literal, ia memang meletakkan kayu berduri di jalan; atau kiasan, ia adalah penyebar fitnah yang menyulut permusuhan. Tafsir Al-Qurthubi mencatat kedua bacaan itu tanpa memilih.

Yang menarik adalah keputusan untuk memasukkan istri seseorang dalam kutukan yang sama. Abu Lahab sudah cukup sebagai target. Ummu Jamil disebut secara terpisah, dengan hukumannya sendiri, dalam kitab yang akan dibaca berabad-abad kemudian.

Pertanyaan tentang kapan

John Burton, dalam kajiannya tentang kronologi kompilasi Al-Quran, mengajukan pertanyaan yang tidak mendapat jawaban memuaskan: mengapa mengutuk anggota keluarga sendiri secara terbuka pada tahap paling awal dakwah?

Dalam masyarakat Arab yang sangat mengutamakan ikatan klan, mengutuk paman dengan nama bisa mengasingkan banyak orang yang masih netral. Ini bukan langkah yang menguntungkan di awal gerakan yang masih rapuh.

Burton mencatat kemungkinan bahwa surah ini disempurnakan atau ditempatkan dalam urutan Al-Quran setelah kematian Abu Lahab, sekitar 624 M, tidak lama setelah Badar. Abu Lahab tidak ikut ke Badar. Putra-putranya ditawan. Ia mati beberapa hari kemudian karena penyakit menular, dan jenazahnya dibiarkan tiga hari karena keluarganya takut tertular. Akhirnya jasadnya ditimbun batu dari jauh.

Kematian seperti itu, dalam konteks orang yang sudah dikutuk, mudah dibaca sebagai bukti bahwa kutukan terpenuhi. Tapi ada perbedaan antara prediksi yang kemudian terpenuhi, dan narasi yang disusun setelah kejadiannya untuk terlihat seperti prediksi.

Nama yang tidak pernah ada di Al-Quran

Abd al-'Uzza adalah namanya. Arwa binti Harb adalah nama istrinya.

Al-Quran tidak menggunakan nama-nama itu. Yang dipakai adalah julukan: Abu Lahab, bapak nyala api. Dan julukan itu terasa terlalu pas untuk surah tentang neraka, tentang api yang bergejolak, tentang hukuman yang menyala.

Apakah julukan itu memang sudah dikenal sebelum surah ini turun, atau kitab yang kemudian membentuk cara kita membaca orangnya, tidak ada yang bisa memastikan. Tapi nama itu sekarang melekat selamanya, dalam kitab yang dibaca lebih dari satu miliar orang, sebagai sinonim untuk orang yang paling celaka.

Bagikan artikel

Bantu tulisan ini menemukan pembaca yang tepat.

Dukung Qurai

Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.

Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

Dukung via Saweria

Bacaan selanjutnya