Al-Qamar 54:1 · Al-Isra 17:59 · 9 menit
Bulan yang Terbelah
Al-Qamar 54:1 tidak menyebut siapa yang melihat, kapan, atau di mana. Hadis mengisi kekosongan itu dua abad kemudian. Dan di surah Al-Isra, di tempat Muhammad ditantang menunjukkan mukjizat, ada ayat yang menjelaskan mengapa Allah tidak mengirimkan tanda fisik, seolah belah bulan tidak pernah terjadi.

Al-Qamar 54:1-2 dimulai dengan satu kalimat pendek:
"Saat (hari kiamat) sudah dekat, bulan pun telah terbelah."
Kalimat itu berdiri sendiri tanpa konteks. Tidak ada yang diceritakan siapa yang melihat, kapan tepatnya, di mana, atau dalam kondisi apa. Surah itu berlanjut seolah tidak ada yang perlu dijelaskan lebih lanjut.
Hadis dalam Shahih Bukhari kemudian mengisi ruang itu. Menurut riwayat yang disandarkan pada Anas bin Malik, Abdullah bin Mas'ud, dan Ibn Abbas, Muhammad membelah bulan di hadapan orang-orang Quraisy di Makkah. Bulan kelihatan terpisah di kanan dan kiri gunung Hira sebelum kembali menyatu. Orang-orang yang menyaksikannya menyebut kejadian itu sihir.
Bukhari mulai mengompilasinya sekitar dua abad setelah Muhammad meninggal.
Separuh dunia sedang menatap langit
Pada abad ke-7, tradisi pengamatan langit sudah lama matang di banyak tempat.
Babilonia sudah mendokumentasikan pergerakan bulan dan gerhana dalam tablet tanah liat sejak ribuan tahun sebelumnya. Catatan mereka cukup detail untuk dilacak mundur oleh astronom modern hari ini. Cina punya observatorium dan tradisi pencatatan yang tidak pernah putus. India punya Jyotisha, sistem astronomi yang sudah mengakar berabad-abad. Byzantium mewarisi tabel-tabel Ptolemy. Persia adalah salah satu pusat pembelajaran dunia, dengan akses ke tradisi astronomi Yunani dan India sekaligus.
Ini bukan peradaban yang ceroboh soal langit. Mereka tahu apa yang sedang mereka lihat, dan mereka mencatatnya.
Kalau bulan benar-benar terbelah dua pada suatu malam di abad ke-7, separuh bumi sedang menghadapnya. Fenomena itu akan tampak dengan mata telanjang dari pantai barat Afrika sampai ujung Asia Timur. Tidak ada yang perlu punya teleskop. Tidak ada yang perlu jadi ahli. Siapa pun yang sedang di luar malam itu akan melihatnya.
Tidak satu pun dari semua peradaban itu mencatat apa-apa.
Bukan karena mereka tidak peduli. Gerhana matahari total 6 April 648 M, yang jauh lebih lokal sifatnya, tercatat secara independen oleh sumber Byzantium, Cina, dan Armenia. Peristiwa langit yang jauh lebih kecil dari itu pun meninggalkan jejak lintas budaya. Belah bulan tidak meninggalkan jejak di mana pun di luar semenanjung Arab.
Apa yang sebenarnya dilihat orang Makkah
Ada masalah lain, yang lebih dekat dengan ayat-ayatnya sendiri.
Para mufasir klasik tidak sepakat soal apa yang dimaksud Q 54:1. Sebagian membacanya sebagai peristiwa historis yang sudah terjadi di masa Muhammad. Tapi sebagian lain, termasuk beberapa sahabat, membacanya dalam bingkai eskatologi: bulan akan terbelah sebagai tanda hari kiamat, bukan sesuatu yang sudah dilakukan Muhammad di depan orang Makkah. Kedua bacaan itu punya pendukung dalam tradisi tafsir, dan perdebatannya tidak pernah selesai.
Yang menarik adalah ayat langsung sesudahnya.
"Dan jika mereka melihat suatu tanda, mereka berpaling dan berkata, 'Ini sihir yang terus-menerus.'"
Kata "sihir" di sini terasa ganjil kalau peristiwa itu betul-betul terjadi secara harfiah. Sihir biasanya mengacu pada sesuatu yang terlihat nyata tapi sebenarnya tidak, tipuan yang mengecoh persepsi. Seseorang yang menyaksikan bulan terbelah dua di langit malam tidak akan menyebutnya sihir. Ia akan menyebutnya pertanda kehancuran, atau hal paling mengerikan yang pernah ia lihat.
Orang yang menyebut sesuatu "sihir" biasanya sedang meragukan kenyataannya. Sedang bertanya-tanya apakah apa yang mereka lihat benar-benar ada, atau hanya tampaknya begitu.
Kalau memang itu yang terjadi, ada pertanyaan yang tidak punya jawaban: ke mana perginya catatan orang-orang Quraisy itu sendiri, dari mereka yang terpaksa mengakui melihat sesuatu meski menolak penjelasan Muhammad? Dari pedagang yang melintas malam itu? Dari siapa pun yang kebetulan ada di sekitar Ka'bah?
Dua upaya menutup kekosongan
Cheraman Perumal adalah nama yang sering muncul dalam diskusi ini. Seorang raja Kerala yang konon menyaksikan bulan terbelah dari India, lalu berlayar ke Arab untuk menemui Muhammad. Kisah itu beredar sebagai bukti bahwa ada orang di luar Arab yang melihat kejadian tersebut.
Masalahnya mulai dari kronologi. Tidak ada tanggal yang bisa menempatkan Cheraman Perumal sezaman dengan Muhammad. Sumber-sumber berbeda menaruhnya di abad ke-4 M, ada yang di abad ke-9 M, keduanya jauh dari awal abad ke-7. Kisah ini pertama muncul dalam catatan Malayalam yang ditulis lama setelah masa Muhammad, dan tidak ada sumber primer India yang mengkonfirmasinya.
Upaya kedua datang dari era luar angkasa. Sejak NASA mulai memotret permukaan bulan, ada yang menunjuk retakan bernama Rima Ariadaeus sebagai "bekas belahan." Rima Ariadaeus adalah rille, celah panjang akibat tektonik bulan di masa purba, sekitar 300 kilometer panjangnya, dan tidak membentang membelah bulan dari satu sisi ke sisi lain. Ia adalah satu dari banyak retakan serupa di permukaan bulan. NASA tidak pernah mengkaitkannya dengan kisah ini, tapi narasi "NASA membuktikan belah bulan" terus beredar, dan koreksinya jarang sampai ke orang yang sama.
Satu ayat yang tidak seharusnya perlu ada
Di surah Al-Isra, ada satu adegan yang cukup spesifik. Orang-orang Quraisy menantang Muhammad menunjukkan tanda fisik yang bisa dilihat: buat mata air memancar dari tanah, buat kebun dengan sungai mengalir di dalamnya, jatuhkan langit dalam serpihan, hadirkan Allah dan malaikat, punyai rumah dari emas, atau naik ke langit dan bawa surat yang bisa mereka baca (Q 17:90-93). Daftar itu panjang dan konkret. Muhammad tidak memenuhi satu pun.
Ayat 59 di surah yang sama kemudian menjelaskan mengapa:
"Tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirim tanda-tanda kecuali bahwa orang-orang terdahulu mendustakannya."
Kalau belah bulan benar-benar sudah terjadi, ayat ini tidak perlu ada. Allah baru saja mengirimkan tanda fisik yang jauh melampaui semua yang ada dalam daftar tuntutan itu. Tapi Al-Isra di sini berperilaku seolah tidak ada tanda fisik yang pernah diberikan, seolah pertanyaan itu masih terbuka, masih perlu dijawab.
Surah Al-Isra tidak tahu soal belah bulan. Atau lebih tepatnya: surah itu berperilaku seolah tidak tahu.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.
Bacaan selanjutnya
Artikel 42 · Luqman 31:12 · 31:13 · 10 menit
Luqman Sebelum Al-Quran
Luqman sudah terkenal di Arabia sebagai ahli hikmah dari suku 'Ad, dengan koleksi peribahasa yang beredar luas, jauh sebelum Islam. Al-Quran mengambil namanya dan reputasinya, lalu mengisi ulang hikmahnya dengan konten yang sama sekali berbeda.
Artikel 31 · Al-Baqarah 2:1 · Al-Qari'ah 101:1 · 9 menit
Alif Lam Mim
Dua puluh sembilan surah dimulai dengan huruf yang tidak ada yang bisa menjelaskan maknanya setelah empat belas abad. Al-Qur'an menyebut dirinya dalam bahasa Arab yang jelas, tapi ada kata-kata di dalamnya yang tidak bisa dipahami dari dalam bahasa Arab saja.