Al-Baqarah (Sapi Betina) Ayat 191

Bacaan

TopikPerintah Berperang di Jalan Allah dan Batasannya (190-195)

وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ ۚ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ۚ وَلَا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّىٰ يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ ۖ فَإِنْ قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ ۗ كَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ

(2:191) Dan bunuhlah mereka di mana kamu temui mereka, dan usirlah mereka dari mana mereka telah mengusir kamu. Dan fitnah66) itu lebih kejam daripada pembunuhan. Dan janganlah kamu perangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu, maka perangilah mereka. Demikianlah balasan bagi orang kafir.

Catatan Depag

*66) Fitnah (menimbulkan kekacauan), seperti mengusir sahabat dari kampung halamannya, merampas harta dan menyakiti atau mengganggu kebebasan seseorang beragama.

Kritik

  1. (2:191) Pada manuskrip Sana'a lembar Stanford, terdapat penghilangan kata fihi pada kalimat hatta yuqatilukum (teks standar memuat: hatta yuqatilukum fihi). Selain itu, terdapat hilangnya awalan ka- pada kalimat dhalika jaza'u al-kafirin (teks standar memuat: ka-dhalika...). (Sumber: buku/studi Ṣan'ā' 1 and the Origins of the Qur'ān oleh Behnam Sadeghi & Mohsen Goudarzi)
  2. (2:191) Kontradiksi dogmatis; mewajibkan perang hingga tidak ada agama lain yang tersisa (memaksa pindah agama), merusak klaim apolojetis "tidak ada paksaan dalam beragama" yang tertulis di 2:256. (The Origins of the Koran,)
  3. (2:191) Manuskrip Sanaa Lembar Stanford mengungkap coretan awal yang tidak diakui ortodoksi Islam, seperti "ḥattā yuqātilūkumu" alih-alih teks standar "ḥattā yuqātilūkum fīhi". (Sanaa manuscript - Wikipedia)
  4. Kata Arab fitnah di sini bermakna penganiayaan/penyiksaan/kekacauan yang dilakukan Quraisy terhadap Muslim awal. Depag membiarkan kata fitnah tidak diterjemahkan, padahal pembaca Indonesia memahami fitnah sebagai tuduhan palsu — jauh lebih ringan dari makna Arab aslinya.

Moral

(2:191): Memberikan instruksi eksplisit untuk membunuh lawan di mana pun mereka ditemui dengan dalih bahwa "fitnah lebih kejam daripada pembunuhan". Ini adalah doktrin berbahaya yang melegitimasi pembunuhan dan kekerasan berdarah terhadap kelompok oposisi tanpa pengadilan.

Kontradiksi

Ayat 191 memerintahkan membunuh musuh 'di mana kamu temui' dan menyatakan 'fitnah lebih kejam dari pembunuhan'. Namun ayat 190 melarang melampaui batas. Kontradiksi internal: 'bunuh di mana ditemukan' (191) adalah perintah tanpa batas yang bertentangan dengan 'jangan melampaui batas' (190). Juga bertentangan dengan Q2:256 tentang tidak ada paksaan dalam agama.