Hud (Nabi Hud) Ayat 42

Bacaan

TopikKisah Nabi Nuh dan Kaumnya (Ayat 25-49)

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ

(11:42) Dan kapal itu berlayar membawa mereka ke dalam gelombang laksana gunung-gunung. Dan Nuh memanggil anaknya,399) ketika dia (anak itu) berada di tempat yang jauh terpencil, "Wahai anakku! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir."

Catatan Depag

*399) Nama anak Nabi Nuh -'alaihissalām- yang kafir itu Kan'an, sedang putera-puteranya yang beriman ialah Sam, Ham, & Yafis.

Kritik

Kisah anak Nuh yang menolak naik bahtera dan akhirnya tenggelam bukanlah fakta sejarah, melainkan murni fiksi eksegetis. Narasi ini merekayasa dan mengadopsi literatur midrash Yahudi sekadar demi memaksakan doktrin teologis bahwa "kepatuhan iman lebih penting daripada ikatan darah", yang secara serampangan memanipulasi struktur asli narasi Alkitab.

Cacat Logika

Post Hoc Ergo Propter Hoc - Ayat 42-44 mengaitkan bencana banjir sebagai akibat langsung dari ketidakpercayaan kaum Nuh, mencampuradukkan korelasi dan kausalitas.

Moral

(11:42-46): Memutuskan ikatan biologis dan emosional keluarga secara dingin. Anak Nuh dibiarkan mati tenggelam karena menolak dogma, dan Tuhan secara eksplisit menyatakan sang anak "bukanlah termasuk keluargamu" semata-mata karena perbuatannya. Ini mendiktekan bahwa kepatuhan beragama harus menghancurkan cinta kasih natural orang tua terhadap anaknya.