Al-Ma'idah (Hidangan) Ayat 103

Bacaan

TopikKritik terhadap Tradisi dan Takhayul Pra-Islam

مَا جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلَا سَائِبَةٍ وَلَا وَصِيلَةٍ وَلَا حَامٍ ۙ وَلَٰكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۖ وَأَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

(5:103) Allah tidak pernah mensyariatkan adanya Baḥīrah,298) Sā`ibah,299) Waṣīlah300) dan Ḥām.301) Tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.

Catatan Depag

*298) Baḥīrah: Unta betina yang telah beranak lima kali dan anak yang kelima itu jantan, lalu unta betina itu dibelah telinganya, dilepaskan, tidak boleh ditunggangi lagi dan tidak boleh diambil air susunya. 299) Sā`ibah: Unta betina yang dibiarkan pergi ke mana saja lantaran suatu nazar. Seperti, jika seorang Arab Jahiliah akan melakukan sesuatu atau perjalanan yang berat, maka dia biasa bernazar akan menjadikan untanya Sā`ibah apabila maksud atau perjalanannya berhasil dan selamat. 300) Waṣīlah: Seekor domba betina melahirkan anak kembar yang terdiri dari jantan dan betina, maka yang jantan ini disebut Waṣīlah, tidak boleh disembelih dan diserahkan kepada berhala. 301) Ḥām: Unta jantan yang tidak boleh diganggu gugat lagi, karena telah dapat membuntingkan unta betina sepuluh kali. Perlakuan terhadap Baḥīrah, Sā`ibah, Waṣīlah dan Ḥām ini adalah kepercayaan Arab Jahiliah.

Kritik

(5:103-104): Supremasisme budaya — Mengkritik tradisi pra-Islam sebagai 'tidak berdasarkan ketetapan Allah' (5:103) adalah supremasisme budaya yang menganggap tradisi Arab pra-Islam inferior. Namun, banyak tradisi pra-Islam (sastra, puisi, kesukuan) memiliki nilai budaya yang signifikan.

Cacat Logika

Tuduhan tanpa penunjuk. Kebiasaan bahirah, saibah, wasilah, dan ham disebut kebohongan yang dibuat-buat terhadap Allah. Alasan yang dipegang pelakunya tidak disebutkan, hanya penilaian atas sumbernya.

Moral

(5:103-104): Penghapusan warisan budaya — Mengkritik dan menghapus tradisi pra-Islam adalah penghapusan warisan budaya yang berharga. Dalam perspektif antropologis, setiap tradisi memiliki makna dan fungsi sosialnya sendiri.

Kontradiksi

Kontradiksi dengan 7:199 yang memerintahkan 'maafkanlah' dan 'berbuatlah baik' — mengapa tidak memaafkan tradisi pra-Islam? Kontradiksi dengan 2:256 (tidak ada paksaan dalam agama): jika tidak ada paksaan, mengapa tradisi lain harus dihapus?