Al-Ma'idah (Hidangan) Ayat 83

Bacaan

TopikSikap Nasrani terhadap Al-Qur'an

وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَىٰ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ ۖ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ

(5:83) Dan apabila mereka mendengarkan apa (Al-Qur`an) yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri), seraya berkata, "Ya Tuhan, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur`an dan kenabian Muhammad).

Asbabun Nuzul

Ayat-ayat ini turun memuji Raja Najasyi (Negus) dari Habasyah (Ethiopia) beserta para pengikutnya (pendeta dan biarawan). Ketika mereka mendengar bacaan Al-Qur'an (Surah Maryam dan Ya-Sin) dari perwakilan umat Islam (Ja'far bin Abi Thalib), air mata mereka berlinang dan mereka langsung beriman membenarkan kebenarannya.

Kritik

(5:83-86): Kondisionalisasi penerimaan — 'Apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul, kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata' (5:83) menggambarkan Nasrani yang 'jujur' sebagai mereka yang menerima Islam — ini memonopoli kejujuran untuk pihak yang setuju.

Moral

(5:83-86): Manipulasi emosional — Menggunakan 'air mata' sebagai bukti kejujuran adalah manipulasi emosional. Kebenaran tidak ditentukan oleh intensitas emosi, melainkan oleh bukti dan argumentasi rasional.

Kontradiksi

QS 5:83 menggambarkan orang Nasrani menangis saat mendengar Al-Quran karena mereka 'mengenal kebenaran'. Namun QS 5:72-73 mengkafirkan Nasrani karena keyakinan Trinitas. Bagaimana bisa mereka 'mengenal kebenaran' tapi sekaligus kafir?