Al-Ma'idah (Hidangan) Ayat 57

Bacaan

TopikLarangan Mengambil Musuh Agama sebagai Pemimpin

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

(5:57) Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan pemimpinmu orang-orang yang membuat agamamu jadi bahan ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang kafir (orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang beriman.

Asbabun Nuzul

Ayat ini turun sebagai peringatan karena ada beberapa orang mukmin yang masih saja berteman akrab dengan orang-orang munafik (Rifa'ah bin Zayd dan Suwayd bin al-Harith) yang suka menjadikan agama Islam sebagai bahan ejekan dan permainan.

Kritik

Kata Arab awliyāʾ (sekutu/pelindung) kembali diterjemahkan sebagai "pemimpinmu … orang-orang kafir" — menggeser larangan persekutuan/perlindungan secara umum menjadi konteks kepemimpinan saja, mempersempit cakupan larangan.

Moral

(5:57-58): Intoleransi terhadap kritik — Menganggap 'olok-olokan' sebagai alasan untuk memutus hubungan adalah intoleransi terhadap kritik. Dalam masyarakat terbuka, agama harus tahan terhadap kritik dan bahkan ejekan.

Kontradiksi

QS 5:57 melarang menjadikan pemimpin orang yang menjadikan agama Islam sebagai bahan ejekan. QS 5:2 memerintahkan tolong-menolong dalam kebaikan. Jika pemimpin non-Muslim bisa adil dan membawa kebaikan, larangan ini bertentangan dengan perintah umum berbuat baik.