Bacaan
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun untuk menengahi perdebatan saling membanggakan agama. Kaum Yahudi, Nasrani, dan umat Islam saling klaim bahwa kitab, nabi, dan agama merekalah yang paling diridai dan lebih dulu ada. Allah menegaskan bahwa pahala itu berdasarkan amal saleh, bukan sekadar angan-angan klaim.
TopikJanji Surga bagi Mukmin dan Klaim Superioritas Agama Islam
لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ ۗ مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا
(Pahala dari Allah) itu bukanlah angan-anganmu227) dan bukan (pula) angan-angan Ahli Kitab. Barang siapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu, dan dia tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.
Catatan Depag
227) “mu” di sini ada yang mengartikan dengan kaum muslimin dan ada pula yang mengartikan kaum musyrikin. Maksudnya pahala di akhirat bukanlah menuruti angan-angan dan cita-cita mereka tetapi sesuai dengan ketentuan agama.
Logical Fallacy
Begging the question — 'tidak sesuai dengan angan-anganmu maupun angan-angan Ahli Kitab; siapa yang berbuat kejahatan akan mendapat balasan' — mengandaikan standar penilaian Allah.

