Bacaan
TopikPeringatan dengan Kisah Masa Lalu (17-22)
بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ
Bahkan (yang didustakan itu) ialah Al-Qur`an yang mulia,
Kritik
Ayat 21-22 (Varian yang Mengubah Dogma Teologis): Dua ayat terakhir ini menyatakan "Bahkan ia adalah Qur'an yang mulia; di Lauh Mahfuz". Varian harakat (baris vokal) pada kata terakhir menimbulkan perdebatan sangat serius Jika dibaca dengan vokal genitif mahfuzin, artinya adalah "Al-Qur'an berada di Lauh Mahfuz (Sabak/Loh yang Terpelihara di Surga)" Namun jika dibaca dengan vokal nominatif mahfuzun, maka artinya berubah drastis menjadi "Al-Qur'an (yang terpelihara) itu tertulis di sebuah sabak biasa" Hanya karena satu titik vokal ini, lahirlah doktrin besar Islam mengenai "Kitab Abadi di Surga", yang mungkin pada awalnya tidak dimaksudkan demikian. (85:21) Terdapat varian bacaan karena hilangnya tanda vokal (diakritik) di masa awal, khususnya pada akhiran kata mahfuzun/in yang menimbulkan ambiguitas teologis yang signifikan. Jika diakhiri dengan genitif (-in), maknanya merujuk pada doktrin "Al-Qur'an yang mulia yang berada di atas Loh Mahfuz" (Loh yang terjaga), namun jika dibaca nominatif (-un), ia bermakna "Al-Qur'an mulia yang dijaga, berada di atas sebuah loh".. (Sumber: Analisis Alfred Guillaume yang dikutip dalam diskusi forum filologi Al-Qur'an) (85:21) Ide hiperbolis bahwa Al-Qur'an dipelihara pada "Lauh Mahfuz" (loh di surga) mengkloning legenda Yudaisme tentang Loh Batu Musa yang dipercaya berisi seluruh Torah. (The Origins of the Koran).
Logical Fallacy
(85:21-22): Circular reasoning (Circulus in demonstrando) - Membantah kritik penolakan dengan mengklaim bahwa teks Al-Quran tersebut mulia mutlak karena tersimpan di 'Lauh Mahfuz' (tempat terjaga), di mana eksistensi 'Lauh Mahfuz' itu sendiri tidak dapat dibuktikan kecuali bersandar pada ayat teks itu sendiri.

