Narasi tentang jin yang berusaha mencuri dengar rahasia langit lalu diusir oleh panah api (meteor) adalah adopsi langsung dari mitologi primitif Timur Dekat Kuno. Penulis teks menggunakan fiksi takhayul meteor ini sebagai alat pembenaran untuk membedakan otoritas wahyunya dari bisikan para peramal/dukun (kāhin) saingannya, menciptakan klaim artifisial bahwa saluran komunikasi magis selain dirinya telah "ditutup" oleh langit. (Patricia Crone, Angels versus Humans as Messengers of God).