Bacaan
TopikPembangkangan dan Kehancuran (19-25)
وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا
Dan mereka berkata, "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwā', Yagūṡ, Ya'ūq dan Nasr."871)
Catatan Depag
*871) Wadd, Suwā', Yagūṡ, Ya'ūq dan Nasr adalah nama-nama berhala yang terbesar pada kabilah-kabilah kaum Nuh, yang semula adalah nama-nama orang saleh.
Kritik
Teks ini mengklaim bahwa kaum Nuh menolak teguran nabinya dan tetap menyembah berhala Wadd, Suwa', Yaghuth, Ya'uq, dan Nasr. Secara historis, ini adalah nama-nama spesifik dari dewa-dewi lokal Arab yang disembah pada masa pra-Islam di semenanjung Arabia, bukan panteon dewa dari era peradaban Mesopotamia kuno tempat akar mitos Nuh berasal. Ini adalah anakronisme konyol dan kebutaan sejarah di mana penulis teks memproyeksikan dewa-dewa lokal Arab ke masa lalu ribuan tahun sebelumnya, semata-mata demi menjahit sebuah narasi polemik untuk audiens lokalnya. (Patricia Crone, The Religion of the Qur’anic Pagans).
Scientific Error
Menyebutkan Wadd, Suwa', Yaghuth, Ya'uq, dan Nasr disembah sebagai dewa/berhala oleh umat di zaman Nuh purba. Bukti epigrafi dan arkeologi mengonfirmasi kelimanya murni dewa-dewa suku Arab lokal yang eksis ribuan tahun setelah masa yang diklaim sebagai era Nuh.

