Bacaan
TopikLarangan Taati Para Penentang (8-16)
إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ
Apabila ayat-ayat Kami dibacakan kepadanya, dia berkata, "(Ini adalah) dongeng-dongeng orang dahulu."
Kritik
Ketika ayat-ayat ini dibacakan, lawan debat merespons dengan ejekan: "Ini hanyalah dongeng orang-orang terdahulu" (asāṭīr al-awwalīn). Ejekan ini membuktikan bahwa para pengkritik Muhammad bukanlah kaum jahil (bodoh). Mereka adalah masyarakat yang melek literatur, kritis, dan tahu betul bahwa cerita-cerita yang dibawa Muhammad hanyalah daur ulang dari literatur Yahudi, Kristen, dan mitos Timur Dekat Kuno yang sudah basi. Karena tidak mampu membantah fakta ini secara logis, teks ini hanya bisa membalas dengan ancaman neraka tanpa memberikan argumen balasan. (Patricia Crone, The Quranic Mushrikun and the Resurrection).
Logical Fallacy
(68:15): Pooh-pooh - Menyepelekan kritik literatur kaum oposisi yang menuduh teks tersebut hanya "dongeng-dongeng orang dahulu", alih-alih membuktikan secara valid orisinalitas historis narasinya.

