Bacaan
TopikKisah Kaum Tsamud (Ayat 23-32)
فَقَالُوا أَبَشَرًا مِنَّا وَاحِدًا نَتَّبِعُهُ إِنَّا إِذًا لَفِي ضَلَالٍ وَسُعُرٍ
Maka mereka berkata, "Bagaimana kita akan mengikuti seorang manusia (biasa) di antara kita? Sungguh, kalau begitu kita benar-benar telah sesat dan gila.
Kritik
Protes kaum Thamud yang menolak utusan karena ia "hanya manusia biasa dan sendirian" adalah refleksi dari proyeksi keberatan kaum skeptis-rasionalis di zaman penyusunan teks ini. Lawan-lawan penulis sangat paham bahwa dalam standar teologi Timur Dekat kuno, utusan ilahi sejati seharusnya berupa malaikat atau disertai keajaiban empiris, sehingga mereka menolak mentah-mentah klaim kenabian yang hanya didasarkan pada retorika satu manusia biasa. (Patricia Crone, Angels versus Humans as Messengers of God).

