Bacaan
TopikWahyu dan Keteguhan Muhammad (Ayat 1-5)
مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَىٰ
kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak (pula) keliru,
Kritik
Paragraf awal Surat An-Najm yang memvalidasi penglihatan gaib disusun *persis dengan gaya mantera dan sajak orakular seorang kāhin (dukun/peramal pra-Islam) ketika membacakan vonis,. Secara historis-kritis, sangat mungkin teks ini awalnya adalah naskah orakular dari tokoh peramal lain yang didaur ulang dan dibacakan ulang, karena narasi bahwa penulis teks benar-benar melihat sosok ilahi secara langsung bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur'an lainnya yang menyatakan wahyu hanya datang lewat perantara atau inspirasi,. (Patricia Crone, Problems in Sura 53)*.
Contradiction
Kontra S53:10-11: S53:2 menyebut Muhammad 'tidak sesat dan tidak keliru'; namun S53:10-11 menyebut wahyu disampaikan dan 'hatinya tidak mendustakan apa yang dilihatnya.' Apakah Muhammad menerima wahyu melalui penglihatan langsung (ru'yah) atau melalui Jibril? S53:4-5 menyebut diajarkan oleh Jibril, S53:10 menyebut wahyu langsung. Inkonsistensi mekanisme penerimaan wahyu dalam satu surah.

