Al-Ahqaf (Bukit Pasir) Ayat 10

Bacaan

TopikSikap Penolakan terhadap Kebenaran (Ayat 7-10)

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كَانَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَكَفَرْتُمْ بِهِ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ مِثْلِهِ فَآمَنَ وَاسْتَكْبَرْتُمْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

(46:10) Katakanlah, "Terangkan kepadaku, bagaimana pendapatmu jika sebenarnya (Al-Qur`an) ini datang dari Allah, dan kamu mengingkarinya, padahal ada seorang saksi dari Bani Israil802) yang mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al-Qur`an lalu dia beriman; kamu menyombongkan diri. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."

Catatan Depag

*802) Yang dimaksud dengan "seorang dari Bani Israil" ialah Abdullah bin Salam. Dia menyatakan keimanannya kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- setelah memperhatikan bahwa di antara isi Al-Qur`an ada yang sesuai dengan Taurat, seperti ajaran tauhid, janji dan ancaman, kerasulan Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, adanya kehidupan akhirat, dan sebagainya.

Asbabun Nuzul

Ayat ini turun untuk menegur sikap orang Yahudi yang enggan beriman kepada Nabi karena kesombongan mereka. Ketika seorang alim yangsangat berpengaruh di kalangan mereka, yakni ‘Abdullàh bin Salàm, menyatakan kebenaran risalah Nabi, mereka malah mencaci makinya. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)

Kritik

Ayat 10b (Kekacauan Tenses/Waktu): Ada kehilangan kelanjutan kalimat pada klausa wa-'idh. Selain itu, kata fa-sayaquluna membicarakan apa yang akan dikatakan orang kafir "di masa depan", padahal di unit klausa awal wa-qala lladhina secara jelas menyatakan apa yang sedang mereka katakan "di masa sekarang". Hal ini menabrak keselarasan penulisan

Cacat Logika

(46:10): Cherry picking (Memilih bukti secara selektif) - Mengandalkan satu sampel "saksi dari Bani Israil" yang konon menjadi mualaf sebagai bukti mutlak atas klaim kebenaran nubuatnya. Teks secara sengaja mengabaikan fakta statistik besar bahwa mayoritas mutlak cendekiawan Yahudi pada masa itu justru menolak klaim kenabian tersebut karena ketidakcocokan teologis.

Kontradiksi

Inkonsistensi historis: S46:10 mengklaim seorang dari Bani Israel bersaksi bahwa kitab serupa Al-Quran sudah ada—namun tidak ada sumber historis eksternal yang mengonfirmasi seorang scholar Yahudi bersaksi demikian di Mekah. Klaim tanpa verifikasi historis digunakan sebagai bukti otentisitas.