Al-Jasiyah (Yang Berlutut) Ayat 24

Bacaan

TopikPenolakan terhadap Kebangkitan dan Kesesatan (Ayat 24-26)

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ ۚ وَمَا لَهُمْ بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

(45:24) Dan mereka berkata, "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa." Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga saja.

Asbabun Nuzul

Ayat ini turun berkenaan dengan sikap kaum jahiliah yang mengingkari kekuasaan Allah untuk menghidupkan dan mematikan mereka. Merekaberkeyakinan bahwa kehidupan dan kematian ditentukan oleh masa, bukan oleh Tuhan pemilik masa tersebut. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)

Kritik

  1. Teks ini mengutip kaum musyrik yang dengan lantang menyatakan "Tidak ada yang lain selain kehidupan kita di dunia ini" serta menyalahkan "waktu" (al-dahr) atas kemusnahan mereka. Fakta ini secara empiris membuktikan bahwa penentang Muhammad bukanlah kaum badui pagan nomaden yang bodoh dan terisolasi, melainkan kaum rasionalis-sekuler dan pemikir analitis yang sangat terpelajar, yang menjadi bagian dari perdebatan teologis (materialisme dan determinisme) yang telah matang di wilayah Timur Dekat.
  2. Kutipan audiens rasionalis (Dahriyah) yang dengan telak menyatakan "Kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain waktu (al-dahr)" adalah bukti paling kuat adanya kelompok materialis-empiris dan filsuf Epikurean di lingkungan penyusun teks ini. Menariknya, struktur kalimat "mati lalu hidup" (bukan sebaliknya) adalah respons langsung mereka untuk mendekonstruksi ayat Alkitab dalam Ulangan 32:39 ("Aku mematikan dan menghidupkan"). Penulis teks lagi-lagi kelabakan melawan intelektualitas oposisi sekuler yang sepenuhnya menolak penciptaan dari ketiadaan dan kebangkitan ini.

Cacat Logika

(45:24): Pooh-pooh (Menyepelekan argumen) - Meremehkan argumen pandangan materialisme (bahwa manusia hidup, mati, dan dibinasakan oleh waktu/masa) dengan sekadar menuduh mereka "tidak mempunyai ilmu dan hanya menduga-duga", tanpa mematahkan logika kausalitas materiil tersebut secara filosofis.

Kontradiksi

Kontradiksi epistemologis: S45:24 mengkritik mereka yang tidak percaya akhirat karena 'hanya mengikuti dugaan'—namun kepercayaan pada akhirat itu sendiri juga hanya berdasarkan teks tanpa bukti empiris yang dapat diverifikasi. Standar epistemik yang berbeda diterapkan untuk kepercayaan sendiri vs kepercayaan orang lain.