Bacaan
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun untuk menegur kebiasaan buruk beberapa orang dari kaum Anshar yang sengaja menyedekahkan setandan kurma dengan kualitas paling buruk (yang mereka sendiri jijik memakannya) untuk digantungkan di masjid bagi kaum fakir miskin. (Sumber: Asbab Al-Nuzul - Al-Wahidi) Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa sesuatu yang dinafkahkan seseorang haruslah berasal dari miliknya yang baik dan disukai, bukan yang buruk dan sudah tidak lagi disukai. Ayat ini turun sebagai teguran bagi beberapa sahabat pada masa Nabi yang berinfak dengan hal-hal yang buruk dan rendah kualitasnya. (Sumber: Asbabun Nuzul - Muchlis M. Hanafi)
TopikKeutamaan Sedekah, Cara Berinfak, dan Larangan Menyakiti (261-274)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji.

