Bacaan
TopikKeutamaan Sedekah, Cara Berinfak, dan Larangan Menyakiti (261-274)
أَيَوَدُّ أَحَدُكُمْ أَنْ تَكُونَ لَهُ جَنَّةٌ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ لَهُ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَأَصَابَهُ الْكِبَرُ وَلَهُ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَاءُ فَأَصَابَهَا إِعْصَارٌ فِيهِ نَارٌ فَاحْتَرَقَتْ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ
(2:266) Adakah salah seorang di antara kamu yang ingin memiliki kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, di sana dia memiliki segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tuanya sedang dia memiliki keturunan yang masih kecil-kecil. Lalu kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, sehingga terbakar.101) Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkannya.
Catatan Depag
*101) Inilah perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya karena riya`, membangga-banggakan pemberiannya kepada orang lain dan menyakiti hati orang yang diberi.
Cacat Logika
Rasa takut sebagai pendorong. Digambarkan kebun yang terbakar tepat ketika pemiliknya sudah tua dan anak-anaknya masih kecil. Yang dikerjakan gambaran ini adalah menakuti, bukan menerangkan mengapa memberi itu benar.