Bacaan
Asbabun Nuzul
Ayat ini turun sebagai penegas hukum balasan/qishash. Kaum musyrik telah dengan angkuh menghalangi umat Islam beribadah di Hudaibiyah pada bulan haram (Zulqa'dah), maka Allah memberikan kemenangan bagi umat Islam untuk masuk ke Makkah juga pada bulan haram di tahun berikutnya.
TopikPerintah Berperang di Jalan Allah dan Batasannya (190-195)
الشَّهْرُ الْحَرَامُ بِالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالْحُرُمَاتُ قِصَاصٌ ۚ فَمَنِ اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
Bulan haram dengan bulan haram,67) dan (terhadap) sesuatu yang dihormati68) berlaku (hukum) kisas. Oleh sebab itu barang siapa menyerang kamu, maka seranglah dia setimpal dengan serangannya terhadap kamu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.
Catatan Depag
*67) Kalau umat Islam diserang di bulan haram, yang sebenarnya di bulan itu tidak boleh berperang, maka diperbolehkan membalas serangan itu di bulan itu juga. 68) Maksudnya antara lain ialah bulan haram (bulan Zulkaidah, Zulhijah, Muharram dan Rajab), tanah haram (Mekkah) dan ihram.
Kritik
(2:194) Naskah Sana'a memiliki tiga perbedaan pada ayat ini: penggunaan kata sambung wa menggantikan fa pada wa mani 'tada; ejaan fa'tadu yang ditulis tanpa alif di akhir; serta adanya penambahan kata bih menjadi frasa ma i'tada 'alaykum bih yang di teks standar tidak ada. (Sumber: buku/studi Ṣan'ā' 1 and the Origins of the Qur'ān oleh Behnam Sadeghi & Mohsen Goudarzi) (2:194) Manuskrip Sanaa Lembar Stanford mengungkap coretan awal yang tidak diakui ortodoksi Islam, seperti "ḥattā yuqātilūkumu" alih-alih teks standar "ḥattā yuqātilūkum fīhi". (Sanaa manuscript - Wikipedia)
Moral Concern
(2:190-221): Dehumanisasi musuh — "Mereka itu adalah kawan-kawan setan" (2:220) adalah dehumanisasi yang memudahkan pembunuhan tanpa empati. Konsep "jihad" sebagai kewajiban mengaburkan bahwa ini adalah perang militer biasa dengan motif politik dan ekonomi.

