Bacaan
TopikPerubahan Kiblat dan Ujian Umat Islam (142-152)
قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ
(2:144) Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab (Taurat dan Injil) tahu, bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.
Asbabun Nuzulmenurut Muchlis M. Hanafi
Ayat ini turun ketika Nabi Muhammad SAW sering menengadah ke langit menunggu wahyu karena beliau sangat merindukan agar Allah memalingkan arah kiblat dari kiblat Yahudi (Baitul Maqdis) kembali menuju kiblat Nabi Ibrahim AS (Ka'bah).
Kritik
Kiblat dipalingkan ke arah yang engkau senangi, tardhaha, setelah wajah Muhammad disebut sering menengadah ke langit. Bukhari mencatat Bara' bin Azib: enam belas atau tujuh belas bulan salat menghadap Baitulmaqdis, dan Muhammad ingin menghadap Kabah. Arah ibadah satu umat ditetapkan mengikuti keinginan yang disebut ayatnya sendiri, dan ayat 142 lebih dulu menyebut kurang akal orang yang mempertanyakannya.
Catatan Saya
Belum ada catatan untuk ayat ini.
Dukung Qurai
Dukung kerja sunyi di balik setiap tulisan.
Di balik tiap tulisan ada proses membaca, membandingkan, dan merapikan jejak. Setiap dukungan ikut menjaga proses itu tetap berjalan.

